Pikiran Rakyat
USD Jual 14.616,00 Beli 14.316,00 | Badai petir, 26.4 ° C

Gerakan Puisi Manipulasi

PUISI ialah kisah ihwal kejadian nyata. Kejadian nyatanya ditegaskan dengan catatan kaki. Kisahnya untuk mengubah pembaca. Seusai membaca puisi, pembaca jadi berpandangan baru terhadap kejadian nyata yang dikisahkan puisi. Pandangan barunya lantas menggerakkan untuk mengubah kenyataan patalogis yang dikisahkan puisi.

Demikianlah hasrat Denny JA (DJA) dengan apa yang diklaimnya puisi esai, sebuah jenis puisi yang dia klaim temuannya. Atas Nama ­Cinta, kumpulan puisi esai DJA yang ­pertama, mengungkap itu.

Hasrat menjadikan puisi sebagai peng­ubah kenyataan patalogis tentu hasrat bagus meski tak baru. Namun, bagi jenis puisi naratif, konsekuensinya ialah mampu membuat pembaca mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokoh dalam puisi. Identifikasi ini baru terjadi, tulis Aart van Zoest, ”jika pembaca menyatukan diri dengan tokoh-tokoh yang didenotasi oleh teks, dengan pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka”.

Tokoh yang terutama biasa diidentifikasi adalah tokoh utama. Dalam Nyanyian Angsa (NyA) karya Rendra, misalnya, tokoh itu Maria Zaitun. Saya pribadi merasa menyatu dengannya. Dan penyatuan de­ngannya memunculkan pandangan baru sedikitnya ihwal dunia pelacuran, kedokteran dan gereja. Saya pun tergerak untuk sedikitnya menyoal kebobrokannya. Keberhasilan NyA menjadikan saya demikian dimungkinkan oleh deskripsi-deskripsi, monolog-monolog, dan dialog-dialognya yang koheren, konsisten, dan sugestif.

Deskripsi-deskripsinya terperinci meng­gambarkan bagian-bagian tubuh Maria ­Zaitun. Dan gambaran terperinci ini juga gambaran kondisi dan latar belakang sosial ekonomi Maria Zaitun. Penggambaran ini pun sesuai konteks waktu dan ruang, ­sehingga padu dengan latar waktu dan ­ruang yang lebih dari tempat Maria Zaitun ada belaka, tetapi juga suasana yang meneguh­kan kondisi adanya dan ­mem­bentuk karakternya. Sarana yang ­digunakan pun bukan saja daya kata-kata menerbitkan arti dan citraan, tapi juga mangalirkan rangkaian suara dengan ­volume, tempo, irama, dan nada yang laras dengan arti kata dan citra­an yang ­diterbitkannya.

Coba kita simak salah satu deskripsi saat Maria Zaitun sehabis diusir majikan rumah pelacuran: Jam dua belas siang hari./Matahari terik di tengah langit./Tak ada angin. Tak ada mega./Maria Zaitun keluar rumah pelacur­an./­Tanpa koper./Tak ada lagi milik­nya./­Teman-temannya membuang muka./­Sem­po­yongan ia berjalan./Badannya demam./Sipilis membakar tubuhnya./Penuh borok di klangkang/di leher, di ketiak, dan di susunya./Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah./Sakit­ ­jantungnya kambuh pula.

Deskripsi pada bait ketiga dari tujuh ­belas bait itu sudah makin membangkitkan empati saya kepada Maria Zaitun. Hal ini karena bait itu pun menjawab pertanyaan yang dimunculkan ucapan germo di bait pertama. Ucapan germo itu pun mendorong Maria ­Zaitun bermonologdi bait kedua.

Penyakit Maria Zaitun saya temukan di bait ketiga. Di situ pun, saya temukan gambaran terperinci tubuhnya yang dijangkiti sipilis. Dan tubuhnya yang kondisinya begitu disungkup hawa nan panas. Sebelumnya, segala milik Maria ­Zaitun sudah habis dan ­teman-temannya berpaling. Maka saya makin terbetot mengidentifikasi dengan pikiran, perasaan, dan ­pengalamannya.

Sesuai ruang



Keterbetotan makin kuat bukan saja karena deskripsi-deskripsi dan monolog-monolog berikutnya, tetapi pun dialog Maria Zaitun de­ngan dokter, dokter de­ngan juru rawat, Maria Zaitun dengan koster, pastor, dan Yesus. Semua dialog meng­ungkap soal-soal dengan kontras-kontras dramatik dan dengan corak bahasa sesuai ruang. Suara NyA pun makin beragam. Namun, suara yang makin beragam itu sampai sebelum Maria Zaitun bertemu Yesus berfokus menyudutkan Maria ­Zaitun. Jadilah saya merasa makin dalam memasuki pikiran, perasaan, dan peng­alamannya. Terlebih dalam dialognya de­ngan ­pastor, ia tegas menyatakan bahwa ia pelacur. Namun,ia jadi pelacur bukan karena tergoda dosa dan terbujuk setan seperti dituduhkan pastor, tetapi karena ”ter­desak kemiskinan/Dan gagal mencari kerja.”

Dialog Maria Zaitun dan Pastor terasa wajar meng­ungkap pastor yang memprihatinkan. Maria Zaitun datang dengan kejujuran untuk mengaku dosa. Namun, pastor bukan melayaninya, tapi malah menu­dingnya gila. Pastor pun tak peduli bahwa sistem ekonomi tertutup bagi Maria Zaitun, sehingga untuk bisa hidup ia harus jadi pelacur. Ini berarti otoritas agama mendukung sistem ekonomi yang tidak adil, yang akibatnya antara lain memproduksi pelacur(an). 

Begitulah NyA. Dunia rekaan balada bertiti mangsa 6 Januari 1967 ini berhasil jadi metafor sebagai peristiwa dalam pengertian Paul Ricour. Metafor demikian lebih berdaya menjadikan pembaca melihat kenyataan dengan pandangan baru, atau menjadikan kenyataan menyingkapkan ­segi-seginya yang baru. Dan ini berarti transformasi diri pembaca.

Namun, DJA menilai puisi esainya Sapu Tangan Fang Yin (STFY) lebih unggul. Pembandingan STFY dan NyA bisalah kita terima. Keduanya sajak balada. Dan tokoh utama keduanya perempuan dilanda petaka. Fang Yin diperkosa oleh lima lelaki pada 13 Mei 1998. Namun, Fang Yin tak bertubuh sebagaimana Maria Zaitun.

Soalnya bukan ruang terbatas. Ruang naratif STFY malah jauh lebih luas; terdiri atas 116 bait dengan empat larik tiap ­baitnya kecuali bait 19 yang terdiri dari ­tujuh larik. Namun, kebanyakan lariknya hanya membawa informasi. Informasinya pun umum dan kering. Misalnya, Sore hari, Selasa 12 Mei/Di depan Universitas ­Trisakti/Empat mahasiswa tewas ­tertembak:/Malam pun mencekam, gejolak merebak.

Informasi seperti itu yang berlimpah ­dipakai untuk membangkitkan ingatan akan peristiwa yang sudah galib disebut Tragedi Mei 1998. Yang dibangkitkannya ialah yang diharap membenarkan rasialisasi seperti diucap Ariel Heryanto, yakni ”kerja, kecenderungan, atau proses menafsirkan dan menerjemahkan makna dunia ini berdasarkan kotak-kotak ras tanpa harus menilai yang satu lebih baik/buruk”.

Wajar jika hanya sedikit larik yang mendeskripsikan tubuh Fang Yin. Yang sedikit ini pun tidak spesifik. Larik yang mendeskripsikan Fang Yin mengalami tubuhnya sendiri malah tak ada sama sekali. Padahal, fokus kisah Fang Yin ialah dari sejak ia diperkosa pada usia 22 tahun hingga ia sembuh dari trauma pada usia 35 tahun. Ada memang informasi mental Fang Yin. Namun, umum dan abstrak. Misalnya, Fang Yin adalah gadis yang rajin membaca. Pun tak ada ucapan Fang Yin yang menyoal bagian tertentu dari tubuhnya. Padahal, trauma korban perkosaan, apalagi yang diperkosanya masih gadis dan pelakunya lima orang, selalu punya tautan kuat dengan tubuh.

Bagi DJA, hal itu mungkin tak masalah. Baginya, rasiali­sasi tampak lebih menjual dan ongkos produksinya lebih murah. Dia tak perlu menulis dengan intuisi dan mengikuti ke mana pun gerak imajinasi, yang menuntut dia untuk menghayati obyek tulisannya hingga bermetamorfosa jadi subyek. Dia cukup menulis dengan akal instrumental. Maka dia pun tak perlu bergulat dengan bahasa hingga ­menemukan bahasa baru yang diminta oleh subjek tulisannya. Dia cukup ­menggunakan bahasa umum. Agar tak terendus bahasanya sudah lumrah, ­diberilah rias gaya perbandingan dan/atau kias yang pula sudah lumrah.

Akibatnya, saya tersiksa membaca STFY bukan saja karena bahasanya basi, plotnya kedodoran, dan dijejali pesan-pesan klise seperti Terimalah kenyataan apa adanya!/Berdamailah dengan masa lalu. Ketersiksaan saya terutama karena STFY terkesan membuat kekerasan seksual pada Mei 1998 hanya alat untuk menyebar rasiali­sasi. Dan catatan-catatan kakinya, yang dianggap salah satu kelebihan dari NyA, ­justru meneguhkannya.

Namun, bagi Denny JA, STFY adalah puisi esai sama seperti empat puisi lain dalam Atas Nama Cinta. Dan dalam pengantar buku yang terbit tahun 2012, itu, DJA sudah merencanakan untuk menjadikan puisi esai genre baru dalam sastra Indonesia: ”Dunia sastra Indonesia segera hamil tua. Akan lahir sebuah genre baru: generasi penulis puisi esai.”

Jika mudah melahirkan genre baru bagi DJA, ini karena, menurutnya, ”Genre atau paradigma tidak diukur dari kualitas internal karya itu atau ke­dalaman cara berpikir baru yang ditawar­kan. Ia semata diukur oleh daya terima publik terhadap ekspresi baru itu. Ia ditentukan oleh popularitas ekspresi baru itu.”

Maka, tak perlu berjuang menulis puisi yang berkualitas, yang menerbitkan cara berpikir dalam dan baru. Yang terutama perlu adalah menggelembungkan popularitas puisi esai sebagai ekspresi baru.

Manipulasi seperti itu banyak dipraktik­an baik oleh DJA maupun sekutunya. Puan dan Tuan pun, saya kira, tak sulit menemu­kan manipulasi di seputar yang diklaim ­gerakan puisi esai. Puan dan Tuan pun, saya yakin, paham bahwa salah satu yang menjadikan puisi bernilai ialah karena puisi itu musuh abadi manipulasi. (Hikmat Gumelar)***

Bagikan: