Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 29.5 ° C

Langkah Cerdas Tampil Berkelas

Endah Asih Lestari
PENGUNJUNG memilih produk fashion "preloved" (barang yang pernah dimiliki seseorang dan diju­al kembali) bermerek premium yang ditawarkan pada ”Irresistible Bazaar #11” di Grand Indonesia West Mall, Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018. Jual beli produk ”pre­loved” telah menjadi industri fashion yang pelakunya kian me­rambah kalangan menengah atas.*
PENGUNJUNG memilih produk fashion "preloved" (barang yang pernah dimiliki seseorang dan diju­al kembali) bermerek premium yang ditawarkan pada ”Irresistible Bazaar #11” di Grand Indonesia West Mall, Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018. Jual beli produk ”pre­loved” telah menjadi industri fashion yang pelakunya kian me­rambah kalangan menengah atas.*

HINGGA beberapa tahun lalu, memiliki barang second atau bekas adalah sesuatu yang kurang menarik. Apalagi di dalam dunia fesyen, ketika tampil gaya dan rasa gengsi adalah dua hal yang sering kali beririsan. Lain dulu, lain sekarang. Kini, meskipun tak lagi baru, produk fesyen -terutama yang bermerek premium, menjadi target perburuan empuk sebagai alternatif langkah cerdas untuk tampil berkelas. 

Orang kini sering kali menyebutnya dengan kata preloved. Artinya, kurang lebih adalah produk yang pernah dimiliki seseorang dan dijual kembali oleh sang pemilik, tetapi masih punya nilai tinggi karena dirawat dengan baik. Konotasinya tak berbeda de­ngan barang bekas atau second, tetapi kesannya lebih berkelas karena identik dengan barang mewah. 

Dulu, orang yang membeli produk fesyen bekas kerap dianggap tidak berkelas. Kalaupun ada, transaksi biasanya dilakukan secara diam-diam. Lokasinya biasanya di pasar barang bekas dan toko-toko kecil. 

Yang terjadi saat ini adalah kebalikannya. Jual beli produk pre­loved telah menjadi industri fesyen yang pelakunya kian me­rambah kalangan menengah atas. Sejumlah perusahaan e-commerce pun memanfaatkan dengan baik potensi ini, dengan menciptakan platform khusus berbelanja barang-barang preloved dengan harga miring. Antara lain Carousell, Prelo, dan Reebonz. 

Fenomena ini juga terlihat di berbagai platform media sosial, terutama Instagram. Yang pasti, nilai transaksi produk cukup fantastis. Tak hanya nominal jutaan atau puluhan juta per produk, melainkan hingga ratusan juta rupiah. 

Pada penyelenggaraan bazar barang fesyen preloved bertajuk Irresistible Bazaar yang berlangsung di Grand Indonesia West Mall, Jakarta, fenomena itu gamblang terlihat. Pengunjung berbagai lapisan usia silih berganti mendatangi satu demi satu tenant penjual produk fesyen preloved bermerek premium. Tak sedikit yang langsung melakukan transaksi begitu menemukan barang yang dicari dengan harga yang disepakati dengan penjual. 

Barang preloved yang diperjualbelikan beragam. Mulai dari jam tangan, dompet, alas kaki, sarung tangan, ikat pinggang, tetapi pa­ling banyak adalah tas. Brand produk yang diperjualbelikan ber­asal dari Eropa dan Amerika Serikat, seperti Chanel, Hermes, Louis Vuitton, MCM, Tory Burch, Prada, Michael Kors, Kate Spade, Coach, Balenciaga, Dior, Gucci, Longchamp, Givenchy, Marc Jacobs, Fossil, dan masih banyak lagi. 

Professional online seller sekaligus penggagas Irresistible Bazaar Marisa Tumbuan mengatakan bahwa tren perburuan preloved ba­rang-barang fesyen bermerek premium terus meningkat sejak tujuh atau delapan tahun terakhir. Namun, peningkatannya terasa begitu signifikan sejak satu atau dua tahun terakhir. 

”Tidak hanya di Indonesia saja, tapi di dunia. Di negara seperti Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat, banyak sekali butik preloved bisa ditemukan. Belum lagi di negara-negara lain,” ucap Marisa ketika ditemui di sela-sela penyelenggaraan Irresistible Bazaar #11 di Grand Indonesia West Mall, Kamis, 1 Maret 2018 sore. 

Hal yang menyebabkan peningkatan tren tersebut adalah pe­ngaruh gaya hidup masyarakat yang semakin berkembang, model produk fesyen yang kian bervariasi, serta masyarakat yang selain konsumtif juga berpikir efisien. Daripada memiliki banyak barang tak terpakai di dalam lemari dan rusak, lebih baik menjualnya untuk kemudian membeli barang lain dengan model terbaru. 

Untuk sebagian yang lain, mendapatkan barang preloved dengan kualitas bagus bisa menjadi kesempatan untuk tampil berkelas, tetapi dengan bujet yang jauh lebih murah daripada membelinya dalam kondisi baru di toko. Meskipun kini banyak juga preloved barang bermerek premium yang ketika dijual harganya jauh melampaui ketika dibeli di toko belasan hingga puluhan tahun yang lalu. 

Mengenai tren model tas yang banyak diburu, Marisa menyebutkan, tas kecil berukuran tak lebih dari 25 cm. Tas demikian yang juga memiliki tali panjang juga sedang banyak disukai karena simpel dikenakan.

Bisnis menggiurkan



Awal mula tren preloved ini berasal dari kalangan pesohor. Sekitar 2010, banyak selebriti Hollywood yang menjual barang bekas miliknya. Sebut saja Lily Allen yang gemar menjual barang-barang vintage miliknya di London, Zoey Deschanel yang menjual busana dan sepatu vintage, Julia Roberts yang membeli baju bekas pakai untuk anak-anaknya seharga Rp 130.000-an, hingga Taylor Swift yang gemar berburu barang bekas nan antik di Portobello Road Market, London.

Dari situ, anggapan mengenai barang bekas yang tak menarik berubah 180 derajat. Dengan mengenakan barang bekas pun, bisa mendapatkan tampilan berkelas. 

Wulanita Cakrawijaya (41) telah menyelami industri jual beli barang bermerek premium selama hampir dua dekade. Dulu, ia bias­a menjual tas-tas merek premium yang dibelinya di luar negeri atau yang didapatnya dari teman pada event seperti kumpul ke­luarga atau arisan. 

”Kalau dulu kan belum banyak yang jualan kayak gini, jadi stok enggak perlu banyak dibeli. Kalau sekarang, wah yang second aja harus distok,” ujarnya ketika ditemui di Grand Indonesia pada Kamis, 1 Maret 2018. 

Untuk setiap tas yang dijual, Wulan mendapatkan keuntungan beragam. Yang paling kecil adalah Rp 250.000 sedangkan yang paling besar, mengutip kata Wulan, bisa tak terhingga. 

”Keuntungannya beragam banget sih. Enggak bisa dipatok berapa untuk setiap item. Aku waktu itu pernah membeli tas under price dari harga jual yang market price. Pas aku jual lagi, aku bisa untung puluhan juta rupiah dari satu item itu saja,” tuturnya. 

Pemilik butik Denisa Bagz ini mengatakan, sangat menikmati aktivitas yang dia lakukan karena juga merupakan pengguna. Mes­ki­pun demikian, bukan berarti tak ada kisah miris yang dilaluinya. 

”Makin ke sini kan makin banyak barang yang palsu, jadi makin ribet. Makanya harus benar-benar mengecek barang yang dibeli dan dijual lagi. Experience dan feeling juga bisa menentukan. Kalaupun terbukti palsu, pasti di-refund,” ujarnya. 

Soal keaslian barang, Wulan tak pernah mau main-main. Kepercayaan pelanggan merupakan hal mutlak yang harus konsisten dijaga.  ”Selalu kasih servis terbaik, selalu fast response ketika dikontak, dan kalau ada yang titip jual, ketika barangnya laku harus cepat dibayar jangan tahan-tahan uang. Buat aku, itu membuat trust customer terjaga ke aku,” tuturnya. 

Prospek cerah



Amelita (30) mulai membeli tas merek premium pertamanya sekitar enam tahun lalu. Sejak awal, dia mengincar tas-tas yang ”bandel”, baik dari segi kualitas maupun harga jual kembali. 

Sejak berkenalan dengan penjual-penjual yang dipercaya, Amel tertarik untuk ikut menjadi penjual. Menurut dia, prospek bisnis ini ke depan akan semakin cerah lantaran tuntutan gaya hidup masyarakat perkotaan yang semakin tinggi. 

”Sejak ada media sosial terutama Instagram, orang jadi terlihat semakin sering pamer barang-barang yang dimiliki. Selain untuk OOTD, outfit of the day, barang-barang itu bisa dijual lagi. Sudah keren tetapi uang enggak hilang itu kan membuat bisnis ini semakin berputar kencang,” tuturnya. 

Agar nilai jual kembali tak jatuh, diperlukan cara perawatan yang baik. Menurut Amel, rata-rata pemilik barang bermerek premium terutama tas, sudah mengetahui bagaimana cara perawatan yang baik tersebut. Tentunya, orang tak ingin main-main dengan barang-barang berharga ”wah”. 

Kini, pemilik Amelita-Luxury Shop ini sebagian besar berjualan lewat dunia maya. Selain media sosial, dia juga aktif menawarkan barang lewat grup percakapan di telefon selulernya. Saat ini saja, ia mengikuti 20 grup khusus jual beli tas bermerek premium. 

”Kalau sekarang perputarannya yang paling cepat adalah barang second karena lebih menyenangkan dan harganya variatif. Kita bisa menemukan tas incaran yang sudah tidak diproduksi lagi. Kalau yang baru di toko kan harganya sudah fix,” kata perempuan berambut panjang ini. 

Eksistensi diri



Perempuan selalu punya naluri alamiah untuk mempercantik diri sendiri. Perwujudannya bisa lewat banyak hal. Salah satu yang paling mudah ditemui yaitu melalui fesyen atau barang-barang yang dikenakan. 

Psikolog sekaligus dosen Universitas Maranatha Bandung Efnie Indrianie berpendapat bahwa sebenarnya hal tersebut tergolong wajar. Menurut dia, 65 persen perempuan bahkan lebih memen­tingkan prestise sebagai wujud dari eksistensi diri mereka. 

Sejak dulu, orang sudah gandrung berburu barang-barang ber­merek premium. Akan tetapi, belakangan, kegandrungan itu semakin terlihat karena adanya media sosial. 

Tren barang-barang mewah preloved sejalan dengan adanya eksistensi diri tersebut. ”Singkatnya, enggak apa-apa second yang penting lebih murah dan bisa meningkatkan eksistensi diri,” ucapnya, Jumat, 2 Maret 2018.

Akan tetapi, yang harus diwaspadai adalah ketika hal tersebut berkembang menjadi adiksi. ”Kalau memang menabung dan mampu sebenarnya ya kembali lagi ke orang yang bersangkutan, itu pi­lih­an, tetapi kalau sebenarnya tidak mampu, cenderung akan me­lakukan segala cara untuk mendapatkannya, dan itu tentu akan menimbulkan masalah baru,” tutur Efnie. 

Lebih lanjut, Efnie mengatakan bahwa untuk membuktikan eksistensi diri, tak melulu bisa didapatkan dari barang-barang me­wah. Hal itu juga bisa dilakukan dengan berbagai cara lain. Mi­sal­nya dengan mengembangkan hobi dan berkarya di bidang yang disukai.***

Bagikan: