Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Umumnya cerah, 21.9 ° C

Nor House, Konsep Unik di Permukiman Padat Penduduk

Endah Asih Lestari

UNTUK membangun sebuah hunian di lahan yang terbatas, dengan akses masuk yang sulit berupa gang, pilihannya tentu ikut terbatas. Namun, sebuah rumah yang dijuluki Nor House, bisa menjawab tantangan tersebut. 

Agak bingung sebenarnya ketika harus menjelaskan, di mana letak Nor House yang presisi. Yang pasti, akses yang bisa digunakan adalah garasi dari sebuah kediaman yang berlokasi di Jalan Pahlawan Nomor 32, Kota Bandung.

Masuk lewat garasi tersebut, segera terlihat beberapa rumah yang telah dibangun lebih dulu. Rupanya, keseluruhan lahan yang luasnya sekitar 800 meter persegi berbentuk L itu adalah lahan keluarga. Di atasnya, terbangun rumah beberapa anggota keluarga. Semuanya memiliki akses yang sama untuk keluar masuk, yaitu garasi yang disebutkan tadi. Di luar negeri, konsep hunian semacam ini dikenal sebagai cohousing

Ide dari konsep cohousing adalah mengembangkan perumahan dengan cara mengumpulkan orang-orang yang berminat di satu lokasi yang kemudian membangunnya secara bersama-sama. Proses perencanaannya pun dapat dilakukan dengan proses musyawarah di antara calon penghuni tersebut.

Namun, pada lahan tersebut, realisasinya tak semudah itu. Hunian yang sudah terbangun pada lahan itu nyatanya tak direncanakan secara paralel sejak awal. Maka, ketika pasangan suami istri Ovian Aginta dan Sisca Triana mendapatkan lahan seluas 137 meter persegi yang terletak di sisi paling ujung, kebingungan sebelum membangun hunian mengemuka. 

Akses kecil



Untuk masuk ke dalam Nor House, kita harus melewati gang kecil yang di sebelah kirinya sudah terbangun sebuah rumah. Aksesnya hanya berupa pintu masuk berukuran sekitar 80 cm.

Di balik pintu tersebut, terdapat ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang makan, dengan dilengkapi dapur. Di sam­ping ruang tamu, barulah terdapat pintu masuk utama yang terhubung dengan teras dan halaman. 

”Ke depan, rencananya tembok pembatas yang ada di halaman ini akan dijebol karena akan terhubung dengan kos-kosan. Jadi, pemilik rumah bisa mendapatkan akses lain dari Gang Senang Hati,” ujar Yanuar. Akses yang dimaksud berupa gang kecil yang hanya bisa dilalui sepeda motor. 

Ketika Tim Aksen bertamu, pembangunan Nor House baru saja dirampungkan oleh kontraktor Asep Development. Dari halaman, fasad depan Nor House bisa terlihat. Bentuknya asimetris.

Menurut Yanuar yang juga merupakan Principal Architec Asep Development, Nor House membawa konsep arsitektur tropis kontemporer dengan atap besi sebagai fasad dan atap. ”Bentuk ini sebagai hasil dari merespons tapak yang aksesnya sulit. Oleh karena itu, bentuk ini mungkin tidak bisa diulang di tempat lain,” tuturnya. 

 

Menjawab Keterbatasan Akses 



Berdiri di atas lahan seluas 137 meter persegi, Nor House memiliki luas bangunan 115 meter persegi. Hunian tersebut terdiri atas dua lantai. Lantai pertama memiliki luas area sebesar 72 meter persegi, yang mencakup ruang keluarga, ruang makan, dapur, toilet, musala, ruang jemur, dan taman. Lantai kedua memiliki luas area 43 meter persegi, yang mencakup kamar tidur utama, kamar tidur anak, dan toilet. 

”Akses masuk menuju rumah yang sulit, membuat semua furnitur yang digunakan juga harus custom,” kata Yanuar. Misalnya, seperti yang ada di dapur dan kamar tidur utama. 

Selain kesulitan mengangkut furnitur, tantangan yang juga dialami adalah kesulitan mengangkut material ketika proses pembangunan. Hal itu disebabkan untuk mencapai lokasi pembangunan, akses yang harus dilewati adalah gang sempit yang tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. 

Bagian paling unik dari hunian ini adalah keberadaan musala yang letaknya di bagian depan rumah. Ukurannya relatif kecil, namun di dinding atas terdapat bukaan asimetris yang memungkinkan cahaya masuk dan dipantulkan lagi ke dalam rumah. 

Di bagian teras, juga terdapat bukaan atap yang memungkinkan untuk meletakkan sebuah pohon tinggi. Pohon yang dipilih adalah pohon pakis Brazil, yang sering disebut parahyba. Menurut Yanuar, pohon ini dipilih karena memiliki batang lurus. Cabang-cabangnya bisa dipangkas, dan banyak menyembul di bagian atas. 

”Karena konsep yang dibuat adalah tropical modern, keberadaan pohon ini juga sangat penting sebagai narasi arsitektur yang diciptakan,” ujarnya.***

Bagikan: