Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Umumnya cerah, 31.7 ° C

Silau Bisa Picu Kerusakan Mata

HAKIKATNYA kemampuan mata dalam melihat suatu benda sangat ditunjang oleh mata yang sehat dan cahaya yang cukup. Di­katakan cukup apabila sesuai dengan kemampuan mata dalam menangkap cahaya yang datang.

Terkadang apabila cahaya berle­bihan (terlalu terang), hal ini bisa mengakibatkan ”efek silau” pa­da mata. Sebaliknya, jika cahaya yang ditangkap mata kurang (re­dup), hal ini bisa mengakibatkan mata akan cepat lelah.

Negara kita yang terletak di wilayah khatulistiwa dianugerahi cahaya matahari yang dapat memenuhi kebutuhan terhadap se­mua makhluk hidup sekitar 12 jam. Tak heran apabila sebagian be­sar aktivitas kita bersumber dari cahaya matahari, sisanya menggunakan cahaya buatan seperti listrik. 

Cahaya buatan merupakan karya manusia berupa lampu yang dapat menyinari ruangan sebagai pengganti jika sinar matahari ti­dak ada. Cahaya buatan yang tidak baik tentunya akan menggang­gu aktivitas keseharian kita, misalnya di tempat kita bekerja. Na­mun, cahaya buatan yang baik dan disaring dari kesilauan akan mempertinggi aktivitas kita dalam bekerja apabila dibandingkan dengan beraktivitas pada cahaya siang yang alamiah.

Efek pencahayaan bisa terjadi melalui tiga cara, pertama cahaya yang diterima langsung dari sumbernya, misalnya lampu meja un­tuk membaca. Kedua, cahaya yang diterima merupakan hasil pantulan dinding dan loteng seperti halnya di ruang tamu. Ada juga semidirect (genural diffusing), apabila cahaya itu datang dan dipancarkan ke segala jurusan seperti halnya di kantor-kantor.

Apabila dilihat dari jenisnya, ada beberapa faktor penyebab terjadinya efek silau pada mata. Pertama dissability, penyebab kesilauan ini diakibatkan banyaknya cahaya secara langsung masuk ke mata dari penglihatan. Dissability glare memengaruhi seseorang dapat melihat secara jelas. Keadaan ini dapat dialami seseorang yang mengendarai mobil pada malam hari ketika lampu dari mobil yang berada di hadapannya terlalu terang.

Selanjutnya discomfort, penyebab kesilauan ini bisa menyebab­kan timbulnya rasa ketidaknyamanan pada mata kita, terutama apabila keadaan ini berlangsung dalam waktu relatif lama. Kesilauan ini sering dialami bagi mereka yang bekerja pada siang hari dan menghadap ke jendela atau pada saat seseorang menatap lam­pu secara langsung pada saat malam hari. Efek kesilauan ini terhadap mata bergantung pada lamanya seseorang terpapar oleh kesilauan tersebut.

Reflected glare, yaitu kesilauan yang disebabkan oleh adanya pantulan cahaya yang mengenai mata kita. Pantulan cahaya ini terjadi pada semua permukaan benda yang mengilat seperti langit-langit, mesin, meja kerja, dan kaca. Pantulan cahaya ini mengenai mata kita tepat berada pada lapangan penglihatan (visual field). Dampak kesilauan ini terhadap mata sangat mengganggu jika dibandingkan dengan dissabilty dan reflected glare karena sumbernya lebih dekat dari garis penglihatan.

Terjadinya kebutaan atau hilangnya penglihatan merupakan masalah utama kesehatan di beberapa negara baik negara ber­kem­bang maupun negara maju. Di Amerika, misalnya, hampir 3,3 juta penduduk yang berusia di atas 40 tahun mengalami kebutaan oleh berbagai faktor. Penyebab kebutaan utama adalah karena pro­ses penuaan seperti penyakit; katarak, glaucoma, retinopathy diabetic, dan degenerasi makular. 

Wanita hamil pun sangat rentan terhadap terjadinya kebutaan akibat ketidakstabilan kadar hormon, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Dalam dunia kesehatan ada istilah lebih baik mencegah daripada mengobati. Begitu pula halnya dengan masalah kesehatan mata. Untuk itu, akan lebih baik rasanya apabila lebih awal kita menjaga mata kita dari berbagai faktor risiko yang bisa membahayakan kesehatan mata, termasuk menghindari silau yang bisa menyebabkan kerusakan mata.

Tak sedikit orang yang kurang menyadari bahwa bekerja di de­pan komputer setiap hari akan membuat mata lelah. Belum lagi kegiatan menonton televisi atau bermain gim. Semua itu akan memberikan efek negatif pada mata karena mata tidak henti-henti membesarkan atau mempersempit ”diagfrahma” untuk adaptasi. Tak mustahil, mata kita akan menjadi cepat rusak karena kebiasa­an-kebiasaan tersebut dan dapat mengganggu organ tubuh penting lainnya. 

Memang, cahaya punya sifat dapat membunuh kuman atau bakteri. Bahkan, cahaya matahari sering dimanfaatkan untuk mengobati penyakit rachitis. Akan tetapi, sebaliknya terlalu banyak kena sinar matahari dapat pula mengakibatkan penyakit kanker pada kulit. Selain itu, pencahayaan yang tidak baik akan menimbulkan terjadinya stres pada penglihatan. Stres pada penglihatan ini bisa menimbulkan dua tipe kelelahan, yaitu kelelahan mata dan saraf.

Kelelahan mata yang disebabkan oleh stres yang intensif pada fungsi tunggal (single function) dari mata. Stres yang persisten pada otot akomodasi (ciliary muscle) dapat terjadi pada saat seseorang mengadakan inspeksi pada objek-objek yang berukuran ke­cil dan pada jarak yang dekat dalam waktu yang lama dan stres pada retina dapat terjadi bila terdapat kontras yang berlebihan dalam lapangan penglihatan dan waktu pengamatannya cukup lama. Untuk itu, jagalah selalu kesehatan mata, gunakanlah pencahayaan atau penerangan yang sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan mata kita. (Budi Imansyah S, sanitarian UPTD Puskesmas Sukaraja Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi).***

Bagikan: