Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23 ° C

Lagrange, Misi Baru Badan Antariksa Eropa

BADAN Antariksa Eropa (ESA) akan menjalankan sebuah misi baru, yang mereka namakan dengan 'Lagrange'. Misi tersebut adalah sebuah pengembangan satelit yang dapat bertindak sebagai alarm bagi bumi jika terancam dihantam badai matahari.

Lagrange adalah refleksi posisi dimana satelit akan ditempatkan di ruang angkasa. ESA telah meminta agar dilakukan riset bagi desain misi tersebut, yang rencananya akan diluncurkan pada 2020 mendatang. Para ilmuwan dan insinyur asal Inggris akan mengambil peran penting dalam pengembangan satelit tersebut.

Diketahui, ledakan erupsi matahari dapat mengakibatkan gangguan meluas di Bumi. Di antaranya adalah menurunnya komunikasi, bahkan merusak daya listrik. Karena itu, pengamatan melalui satelit akan meningkatkan kesiapan waktu.

Rencananya, misi ini diawali dengan mengunjungi daerah gravitasi sweetspot, tepatnya di belakang Bumi pada orbitnya yang mengelilingi matahari, dikenal sebagai 'Lagrangian Point 5'.

Pesawat ruang angkasa yang ada disana tidak perlu menghabiskan banyak bahan bakar untuk mempertahankan pemanacar. Namun, ada alasan yang lebih kuat kenapa menggunakan lokasi ini: 'Lagrangian Point 5' merupakan lokasi yang tepat untuk melihat bagian matahari yang memutar menghadap Bumi.

“Jadi, tidak hanya mendapatkan gambaran wilayah yang aktif dan betapa rumitnya wilayah tersebut. Tetapi jika matahari mengeluarkan sesuatu, Anda juga bisa melacaknya dari samping,” tutur Fisikawan Inggris, Prof. Richard Harrison, seperti dilansir BBC.

“Bayangkan ada sebuah serangan muncul tiba-tiba di hadapan Anda, sulit untuk menjelaskan berapa jauh serangan tersebut. Tapi jika Anda melihatnya dari samping, akan lebih mudah," ujarnya.

ESA telah menyetujui empat kontrak 'Phase AB1' pada Jumat lalu, di pusat pengendalian misi, Darmastadt, Jerman. Kontrak tersebut termasuk dua studi paralel, yang akan dipimpin oleh Airbus UK dan OHB System of Germany, untuk menentukan kapal pesawat antariksa, atau sasis (chassis) , dan proses penyatuan semua perangkat satelit.

Perusahaan kedirgantaraan (aerospace) juga akan mengetahui bagaimana keseluruhan misi akan dikelola, mulai dari peluncuran hingga akhir masa kerja. Desain asli pada perangkat pesawat adalah subjek dari dua kontrak lainnya. Kedua kontrak tersebut akan diarahkan oleh konsorium yang dipimpin Inggris.

Selain itu, Laboratorium RAL (Rutherford Appleton Laboratory) akan menilai kelengkapan persyaratan misi “penginderaan jarak jauh”, yaitu berupa perangkat dapat membedakan aktivitas matahari dengan melihatnya.

Laboratorium Ilmu Antariksa Inggris (MSSL) akan menggunakan 'paket in-situ', sebuah instrumen yang dapat menginvestigasi aktivitas matahari dengan merasakan langsung partikel partikel yang dipancarkannya dan medan magnet.  Meskipun pemimpin misi ini berasal dari Inggris, namun usaha ini tentu saja akan melibatkan keahlian dari berbagai negara di Eropa.

Kejadian biasa



Badai matahari merupakan kejadian yang biasa terjadi. Bintang terkadang akan mengeluarkan semburan dan radiasi gelombang pendek, partikel super cepat, dan volume gas (plasma) bermuatan besar ke arah Bumi.

Material ini juga berpasangan dengan medan magnet yang kuat. Saat emisi ini memasuki Bumi, mereka dapat memberikan efek pada infrastruktur modern. Mulai dari elektronik yang gagal beroperasi (malfungsi) pada avionik pesawat terbang dan pesawat antariksa yang sedang berorbit, hingga meningkatnya gangguan yang terdengar pada penyiaran radio, seperti siaran dari BBC.

Banyak studi yang telah memperingatkan dampak dari badai matahari utama terhadap Bumi. Baru saja tahun kemarin sebuah laporan pemerintah menyatakan bahwa ekonomi Inggris kehilangan sebanyak  £1 bn (satu miliar euro) karena setiap hari layanan navigasi satelit GPS tidak tersedia.

“Yang kita butuhkan adalah sentinel surya untuk mengamati matahari, agar kita tahu apa yang akan terjadi sebelumnya,” ujar Dr. Ralph Cordey dari Airbus UK.

 “Ini adalah area dimana keahlian Inggris telah mapan. Adapula kasus dimana dampak ‘cuaca luar angkasa’ dianggap sebagai prioritas di Inggris seiring isu yang diakui dalam daftar bahaya sipil, bersamaan dengan flu pandemi, banjir parah dan letusan gunung berapi.”

Konsep misi Lagrange sedang diawasi oleh program pengawasan ruang angkasa ‘Space Situational Awarness’, milik ESA, dimana Inggris menyerahkan  €22m (22 juta euro), lebih dari 4 tahun, saat pertemuan terakhir anggota-anggota penerbangan dan antariksa Eropa pada Desember 2016.

Koronagraf



Perangkat yang  harus digunakan adalah koronagraf. Ini adalah perangkat yang menghalangi silau dari cakram matahri, sehingga letusan awal dapat terlihat. Saat ini, ramalan cuaca ruang angkasa bergantung pada koronagraf yang ada pada sebuah pesawat ruang angkasa, berumur 20 tahun, Soho

“Koronagraf dapat mengingatkan apa yang sedang terjadi. Intensitas saat penyemburan koronal berjuta kali lebih rendah daripada matahari itu sendiri. Jika Anda tidak mengahalangi matahri, Anda tidak akan melihatnya,"  ujar Professor Harrison, kepala ilmuwan di laboratorim RAL.

Sepertinya Amerika akan merilis misi yang sama di tahun-tahun berikutnya, dimana satelit langsung menghadap Bumi sejajar dengan Matahari. Dengan menggunakan dua sudut pandang, akan memberikan pengamatan yang lebih baik terhadap dampak yang mungkin terjadi akibat badai matahari. (Mery Nur Andini)***

Bagikan: