Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Berawan, 23.6 ° C

Mengejutkan, Sopran Isyana Sarasvati di Konser Invitation to The Dance

Windy Eka Pramudya

NOMOR Invitation to The Dance merupakan komposisi orkestra yang ditulis komponis asal Jerman, Carl Maria von Weber. Dibalut dalam tempo yang dinamis, Invitation to The Dance menyihir ratusan penonton di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Raya Jakarta. Berlangsung Rabu, 31 Januari 2018 setelah gerhana bulan total, konser Invitation to The Dance menampilkan 55 musisi yang tergabung dalam Jakarta Concert Orchestra (JCO).

Di bawah pimpinan konduktor Avip Priatna, penonton seperti diajak ke lantai dansa dengan beragam tema lagu. Aksi Avip yang atraktif membuat konser berjalan menyenangkan. Dengan cerdik, Avip kerap memaksimalkan instrumen para musisi, seperti tuba, klarinet, dan drum.

Sebelum Invitation to The Dance mengalun, nomor Spanish Dance No. 1 karya Manuel de Falla menjadi pembuka konser yang membawa penonton ke suasana negeri matador, Spanyol. Komposisi ini merupakan salah satu bagian dari opera La Vida Breve. Lewat lagu ini, Falla membawa Spanyol ke dunia internasional.

Seusai Spanish Dance No.1, barulah Invitation to The Dance mengisi repertoar. Lagu ini ditulis Weber untuk mengisahkan tentang proses seorang pria yang mengajak seorang perempuan berdansa. Lewat lagu ini pula Weber berhasil menggubah wals konser untuk piano yang pertama.

Perjalanan konser Invitation to the Dance berlanjut dengan Pavane karya Gabriel Faure. Pada awalnya, komponis asal Prancis ini menulis komposisi untuk instrumen piano, tapi kemudian dia mengubahnya ke dalam format orkestra. Kendati bertempo lambat, tapi JCO tetap mengemasnya dengan alunan yang membuai telinga penonton.

Panen raya



Dari negeri sendiri, ada komposisi karya komponis Indonesia Fero Aldiansya. Untuk Invitation to The Dance, Fero menulis khusus karya berjudul Panen Raya. Lagu ini terinspirasi dari budaya tarian rakyat Indonesia dari barat sampai timur ketika menyambut panen. Irama yang rancak serta meriah, membuat penonton seperti berada di arena pesta rakyat yang gembira.

Segmen pertama konser ditutup dengan kolaborasi JCO bersama pianis Jonathan Kuo. Lagu bertema tarian kematian yakni Totentanz karya Franz Listz menjadi repertoar Jonathan yang menyayat perasaan. Jemari Jonathan yang menari lincah di atas tuts mengajak hadirin ke suasana syahdu.

Setelah beristirahat selama 20 menit, Invitation to The Dance berlanjut dengan komposisi Norwegian Dances Op. 35 karya Edvard Grieg. Mulanya, Grieg menggubah lagu ini untuk piano empat tangan pada 1881. Melodinya berasal dari koleksi lagu rakyat Norwegia yang berjudul Mountain Melodies Old and New yang dibuat Mathias Lindeman. Grieg kemudian membuat orkestrasinya untuk mengisi drama Henrik Ibsen. Lagu ini menunjukan semangat dan pesona lagu rakyat Norwegia.

Kejutan terjadi saat Isyana Sarasvati naik pentas. Tampil mengenakan gaun putih, Isyana memamerkan kemampuan dia menyanyi sopran. Dengan ekspresif, Isyana melantunkan Les filles de Cadix karya Leo Delibes. Begitu pula saat dia mengisi repertoar dengan Fruhlingsstimmen-Walzer, Op 410 karya Johann Strauss II.

Lagu Fruhlingsstimmen-Walzer, Op 410 atau wals suara musim semi adalah karya untuk orkestra yang ditambah solo sopran. Penambahan ini memberikan kesan melodi dengan rentang yang luas. Sementara Les filles de Cadix menceritakan tentang obsesi Prancis terhadap pemandangan dan suara yang eksotis pada masa itu, terutama musik dan tarian dari Spanyol.

Konser Invitation to The Dance ditutup dengan megah lewat nomor Danse Bacchanale karya komponis Prancis, Camille Saint-Saens. Lagu ini diambil dari opera Samsons and Delilah yang dimainkan saat bangsa Filistin merayan pesta kemenangan di kuil Dewa Dagon.

Konduktor sekaligus Direktur Musik The Resonanz Music Studio, Avip Priatna mengatakan, Indonesia sudah mampu menunjukkan kepada dunia internasional kalau memiliki potensi yang patut diperhitungkan melalui beragam kompetisi paduan suara yang berhasil dimenangkan. Untuk itulah Avip mempunyai mimpi untuk mendekatkan masyarakat dengan musik simfoni, baik simfoni orkestra maupun simfoni lokal yang mendorong dia mendirikan JOC 15 tahun silam.

"Melalui konser Invitation To The Dance ini, saya ingin menunjukkan bahwa kita memiliki orkestra yang terdiri dari para musisi berbakat yang mampu menampilkan karya komposer dunia," ujar Avip yang merupakan alumnus Teknik Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan Bandung dan University of Music and Performing Arts di Wina, Austria.***

Bagikan: