Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Sandra Selviana Berhasil Ubah Adiksi Jadi Pundi-pundi

Endah Asih Lestari

The Only BS I Need is Bags and Shoes.”

PEPATAH terkenal dalam dunia fashion itu agaknya relevan ba­gi banyak perempuan di dunia ini. Di antara semua item fa­shion, tas dan sepatu menjadi magnet tersendiri. Coba ba­yang­kan, bisa puas memandang tas dan sepatu kesukaan kapan sa­ja, siapa yang tidak tergiur?

Sandra Selviana (26) cukup beruntung. Dia bisa mengubah adiksinya terhadap tas dan sepatunya, menjadi bisnis dan menghasilkan pundi-pundi darinya. Sejak 1,5 tahun ke belakang, Sandra menekuni bisnis jasa spa untuk tas, sepatu, dan barang yang terbuat dari kulit.

Selasa, 2 Januari 2018pagi, Sandra ditemui di sela-sela kesibukannya di Your Bag Spa, Mall Paris Van Java, Bandung. Selasa siang, ia harus bertolak ke Jakarta. Sejak beberapa waktu ini, Sandra memang berdomisili di Jakarta, sebagai konsekuensi dari bisnisnya yang terus berkembang ke berbagai kota di Indonesia.

”Pindah sementara ke Jakarta supaya lebih gampang mobilitasnya,” ucap perempuan kelahiran Bandung, 17 Oktober itu.

Kisah Sandra Selviana melakoni bisnis dan mengembangkan usaha, dimulai saat ia berada di tingkat akhir berkuliah. Kala itu, ia fokus mencari bidang bisnis yang paling potensial dilakoninya. Jawabannya, tentu ada pada ranah yang paling disukainya, yaitu tas dan sepatu.

Berangkat dari kebutuhannya terhadap jasa membersihkan tas dan sepatu premium yang belum marak di tanah air, ia mendapat­kan inspirasi membuka gerai spa bagi tas dan sepatu premium di Bandung. Tepatnya, di Mall Paris Van Java.

Pernah suatu waktu, Sandra baru saja membeli tas branded sebagai tangan kedua. Ketika barang datang, kondisinya tidak sesuai yang diharapkan. Dia mencari jasa pembersihan tas premium di Bandung, tetapi tak kunjung menemukan.

”Sejak dulu, aku memang lebih tertarik pada dunia cleaning ser­vice. Karena, sepertinya lebih mudah menjual jasa daripada ba­rang. Ketika menjual jasa, modal yang dibutuhkan juga tidak seba­nyak ketika menjual barang. Asal branding dan kualitas bagus, kita bisa set harga sesuai dengan ekspektasi kita,” tutur sulung dari dua bersaudara itu.

Sebenarnya, di Indonesia sudah ada beberapa brand jasa membersihkan tas dan sepatu yang lebih dulu berdiri. Akan tetapi, konsepnya lebih kepada jasa laundry. Dengan demikian, banyak pemilik tas dan sepatu branded yang kurang merasa sreg dengan la­yan­an yang diberikan.

Di situ, Sandra melihat peluang besar. Agustus 2016, ia membuka spa tas dan sepatu miliknya di PVJ. Satu tahun kemudian, to­ko­nya sudah memiliki tujuh cabang. Dalam waktu dekat, ia akan membuka cabang baru di Bali.

Ketika memulai usaha, Sandra mengelola modal dari tabungannya sendiri. Modal itu juga digunakannya untuk belajar tentang se­luk-beluk spa atau metode pembersihan barang-barang yang terbuat dari kulit, di luar negeri.

”Aku belajarnya juga sampai satu bulan, baru abis itu aku pulang dan mengaplikasikan ilmu yang sudah aku dapatkan di toko. Che­mical yang digunakan juga didatangkan dari luar karena di sini memang belum ditemui dengan kualitas yang sama,” tutur lulusan Ma­najemen Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan ini.

Menahan diri



Dari bisnis yang ditekuni ini, Sandra Selviana juga mendapatkan banyak pelajaran. Misalnya, dia menjadi tahu mengenai karakteristik me­rek tas tertentu, juga kelebihan dan kekurangannya. Dengan kata lain, ilmu itu ia terapkan sendiri ketika memilih tas. Pasalnya, mes­kipun memiliki harga tinggi, ada beberapa produk yang lebih cepat rusak.

Sebelum membeli tas, ia menyarankan agar memilih sesuai ke­pribadian.

”Enggak usah ngikutin tren lah, yang penting suka aja. Kalau sedang tren tapi enggak suka, mending enggak usah beli lah,” ujarnya.

Bekerja di dekat tas dan sepatu premium, tentu membuat Sandra bahagia. Bahkan, ia semakin bisa mengontrol diri untuk membeli tas baru, setelah menekuni bisnis ini.

”Mungkin karena setiap hari harus melihat tas dan sepatu, jadi­nya sudah cukup puas dengan memandanginya saja,” katanya sambil tertawa.

Ketika ditanya berapa bujet yang dulu biasa dihabiskannya untuk membeli tas, Sandra spontan menggeleng. Ia mengatakan, sebenarnya ia tergolong orang yang cukup perhitungan dalam membelanjakan uang.

”Aku orangnya irit banget, makanya kalau beli barang enggak berani yang mahal-mahal banget. Tapi, dulu sebelum buka bisnis ini, pengennya sih punya semua brand tas. Untung sekarang mah biasa aja,” ucapnya tersenyum.

Suka duka



Karena bekerja di bidang yang disukainya, Sandra terus terinspirasi untuk mencoba berbagai hal baru. Dalam waktu dekat, misalnya, ia berencana mulai menjalankan wardrobe management.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak klien yang dimiliki Sandra. Dari situ, ia menyimpulkan, bisnis semacam ini memang dibutuhkan banyak orang. Buktinya, dari hanya 2 pegawai yang di­milikinya, sekarang Sandra mempekerjakan lebih dari 40 karya­wan.

”Hal lain yang membuat aku senang adalah karena diberikan kesempatan untuk memberkati banyak orang. Untuk menekuni bisnis ini, karyawan aku harus punya keahlian dan aku mencari orang-orang yang benar-benar membutuhkan untuk bisa diberikan pengetahuan dan pembelajaran mengenai cara menangani produk yang ada,” tutur putri dari pasangan Meilianny Lesmana (48) dan Sandy Senjaya (54) ini.

Meski demikian, tentu ada juga duka yang dirasakan Sandra. Mi­salnya, ketika mendapatkan keluhan dari pelanggan.

”Jarang terjadi sih, tapi namanya customer kan pasti ada yang benar-benar perfeksionis. Kalau ada yang dirasa kurang, kami selalu siap memperbaiki. Selama ini kami masih bisa menghandel dengan baik,” ujarnya. Bahkan, Sandra rela saja jika harus mengulangi standar kontrol kualitas ketika diminta.

Lalu, apa tantangannya mengelola bisnis ini di usia semuda Sandra Selviana? Baginya, tantangan terbesar justru datang dari dalam diri sen­di­ri. ”Yang pasti, harus berkembang dan terus berubah. Persistence juga, jangan sampai stuck karena ini perjalanannya masih panjang banget,” ucapnya.***

Bagikan: