Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 29.9 ° C

Menggali Kompleksitas Figur dalam Karya Buana Artian

Windy Eka Pramudya

DALAM seni rupa, figur menjadi objek yang tak pernah berhenti dieksplorasi. Kekompleksan sosok manusia menjadi daya pikat tersendiri untuk diwujudkan dalam visual.

Hal inilah yang menjadi benang merah pameran tunggal Buana Artian. Mengusung tema Transmigration 89000 Cm, Buana menggelar pameran di Galeri Thee Huis Taman Budaya Jawa Barat Jalan Bukit Dago Utara Kota Bandung, mulai 26 sampai 30 Desember 2017.

Kurator Jajang Supriadi, Kamis 28 Desember 2017 mengungkapkan, Buana mengarahkan olahan figur dalam bentuk portrait. Cara penggambarannya tidak persis dan tidak realistis.

Karya-karya Buana dihadirkan dengan menggunakan sketsa cat air dan lukisan akrilik yang terukur pada bagian kepala setengah badan.

"Figur dalam penciptaan karya seni rupa merupakan objek yang cukup intens dikreasikan seniman. Tradisi melukis figur, terutama dalam perkembangan modernisme memiliki tempat penting. Selain itu objek figur terus digali, dihadirkan, dan dipertentangkan seiring perubahan cara pandang seniman dan pertemuan pemikiran lintas generasi," tutur Jajang.

Menurut Jajang, figur dalam tradisi seni lukis Indonesia memperlihatkan intensitas kuat pada kebutuhan pembacaan yang kontekstual. Hal ini meliputi identitas, citra, nasionalisme, dan pertentangan ideologis. Melalui proses dan pendekatan personal. banyak seniman lndonesia yang menguatkan dirinya dalam berkarya pada penekanan obyek figur.

Pada pameran ini, kata Jajang, Buana menyajikan pula teks terbuka yaitu kalimat yang menyebutkan, "figur adalah darah dan daging". Sebuah pernyataan diri tentang figur dan ungkapan dalam karyanya.

Pernyataan tersebut hadir sebagai tanggapan terhadap makna ketubuhan maupun tradisi berkarya figur yang menjadi ketertarikannya. Karya Buana dalam pameran Transmigration 89000 Cm terbilang masih dalam proses, seperti umumnya mahasiswa seni rupa dalam tahapan studi.

"Dalam kaitannya dengan pameran ini, karya diharapkan justru menemukan ruang gerak baru dalam mempertajam gagasan dan pemahaman. Mendapatkan masukan, persilangan persepsi, dan ketajaman dalam berungkap rupa. Tidak sebatas dalam studio, melainkan juga mengenali kemungkinan pencerapan yang dapat dibangun sebagai bentuk interaksi dengan pengunjung," ujar Jajang.

Karya yang dipamerkan pada pameran Transmigration 89000 Cm disusun berkelompok berdasarkan eksplorasi warna, medium, dan eksplorasi ruang galeri. Tanpa ada keterangan judul karya, pemirsa pameran diberi kebebasan untuk menginterpretasi setiap karya yang disuguhkan.

Pemanfaatan sudut galeri misalnya dipakai Buana untuk karya gambar figur dalam balutan warna merah di atas bidang berwarna hitam. Karya ini terdiri atas sembilan lukisan dalam bentuk figur-figur tak jelas. Buana hanya menggambar bagian kepala dan setengah tubuh.

Eksplorasi cat air dilakukan Buana gambar figur yang terdiri atas 28 lukisan. Pada karya ini, Buana lebih berani bereksperimen dengan warna. Misalnya biru, merah, hijau, dan kuning. Dengan sengaja warna dibuat bercampur tapi tetap menampilkan figur manusia.

Pada karya yang lain, ada lukisan figur yang memakai medium akrilik. Karya ini menjadi bentuk ekspresi Buana yang ingin menampilkan figur dalam ukuran lebih besar.

Pasalnya dia menggambar tak hanya kepala dan separuh tubuh, tapi Buana juga menggambar bagian tangan dan nyaris 3/4 tubuh. Semua figur dilukis dalam posisi berdiri dan dikemas warna-warni.***

Bagikan: