Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Sebagian cerah, 23 ° C

Sejarah Festival Film Bandung, Festival Film Tertua di Tanah Air

Endah Asih Lestari

SEPERTI FFB (Festival Film Bandung), Festival film yang diselenggarakan berdasarkan teritori di Tanah Air semakin tumbuh subur. Kemunculan itu bagaikan angin segar yang berembus memberikan edukasi soal film berkualitas kepada masyarakat, serta insan perfilman nasional.

Akan tetapi, tak banyak yang bisa melanjutkan eksistensi dengan terus menyelenggarakan festival secara berkesinambungan setiap tahunnya. Beberapa di antaranya bahkan hanya bersifat angin-anginan.

FFB adalah anomali dari tren tersebut. Dimulai pada 1987, FFB terus berlangsung hingga saat ini. Festival ini bahkan didapuk sebagai salah satu festival film tertua di Tanah Air. Orang-orang di belakangnya, Forum Film Bandung (FFB), adalah kunci dari konsistensi penyelenggaraan festival ini.

Sebagai festival yang lahir dari Bandung, sejarah FFB tak bisa dilepaskan dari Pikiran Rakyat. Berawal 27 tahun lalu saat sejumlah wartawan, pengamat, dan budayawan yang biasa menulis tentang film di Harian Umum Pikiran Rakyat sering menyaksikan film-film baru di preview room PT Kharisma Jabar Film, Jalan Sudirman, KotaBandung.

Sedikitnya ada dua film baru setiap Jumat yang bisa disaksikan di sana sebelum diputar di bioskop Kota Bandung. Peminat pun bertambah. Kalangan aktivis teater, seniman, dan berbagai anggota komunitas terus berdatangan.

Setiap film yang ditonton seringkali menjadi bahan diskusi di antara mereka. Diskusi-diskusi itu melahirkan suatu kesimpulan, yaitu banyak film layak tonton (sebagai wacana pengayaan apresiasi) yang ternyata kurang diminati masyarakat.

Akan tetapi, film dengan citarasa "pasar" yang kental malah diserbu penonton. Sementara tulisan atau resensi film tidak mungkin menyuguhkan semua film yang beredar. Dalam waktu singkat, muncul gagasan melahirkan Festival Film Bandung.

Beberapa tokoh Pikiran Rakyat seperti Bram M Darmaprawira, Suyatna Anirun, Yayat Hendayana, Us Tiarsa R, dan Hernawan ikut menjadi pendiri dan pengurus FFB. Selain itu, FFB juga didirikan oleh Chand Parwez Servia, Prof. Dr. Sutardjo A Wiramihardja, Prof. Saini KM, Eddy D Iskandar, Edison Nainggolan, Prof. Jakob Sumardjo, Sunaryo, Sofia F Mansoor, Hilman Riphansa, Prof. Sudjoko, dan Duduh Durahman.

Nama Forum dalam Forum Film Bandung juga memiliki sejarah tersendiri. Pada 1988, Departemen Penerangan kala itu menyarankan untuk mengganti istilah "festival", dengan pertimbangan bahwa hanya ada satu festival film di Indonesia, yaitu Festival Film Indonesia. Maka, FFB sepakat untuk memutuskan istilah lain. Kata "Forum" menjadi pilihan, karena artinya musyawarah atau tempat bertukar pikiran dan mempercakapkan segala hal.

Pergeseran



Kini, individu yang tergabung dalam FFB tak hanya datang dari kalangan seniman, budayawan, dan wartawan. Kesamaan profesi atau keseharian tak lagi menjadi panutan. Kecintaan terhadap film justru yang menjadi tumpuan utama.

Ketua Umum FFB Eddy D Iskandar mengatakan, memang terjadi pergeseran kecenderungan anggota FFB beberapa tahun terakhir. Regenerasi mutlak diperlukan untuk terus menggerakkan roda perjalanan FFB.

"Ada momen ketika anggota dan regu pengamatnya merupakan kalangan budayawan, seniman, dan wartawan saja, namun sekarang mengalami pergeseran yang lebih luas, karena juga menjangkau peminat yang serius dan aktif menonton film," kata Eddy.

Tak hanya menyelenggarakan Festival Film Bandung, FFB juga menggelar berbagai acara seputar film dalam beberapa pertemuan yang dilakukan. Misalnya, pemutaran film klasik sebulan sekali, diskusi mengenai unsur, tokoh, isu hangat mengenai film, hingga festival film pendek.

Untuk menjangkau lebih banyak anak muda, forum itu juga menggandeng beberapa komunitas film di Kota Bandung yang banyak digawangi mahasiswa.

Selain berdiskusi soal film baru yang sedang diputar di Bandung, rutinitas berkumpul anggota forum itu kini juga diwarnai dengan menonton film bersama di bioskop. Hanya, preview room yang sejak dulu digunakan untuk menonton fdilm di Sekretariat FFB, Jalan Sudirman Bandung, kini tak bisa lagi digunakan karena tidak didesain untuk memutarkan film dalam bentuk digital seperti film yang saat ini beredar. Film yang biasa diputar di tempat itu, dulu, berformat seluloid.***

Bagikan: