Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 28.5 ° C

Filosofi Lomba Makan Kerupuk

SAAT menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah menjadi tradisi masyrakat Indonesia untuk mengadakan perlombaan, atau dikenal dengan nama lomba 17-an. Dari sekian banyak jenis perlombaan yang dilakukan, lomba makan kerupuk adalah salah satu lomba yang wajib ada dilaksanakan.

Lomba makan kerupuk biasanya dilakukan dengan menggantung kerupuk pada seutas tali yang diikat pada kayu atau bambu. Kerupuk yang biasa digunakan adalah kerupuk putih berukuran bulat. Selain itu, diberbagai daerah ada perlombaan memakan kerupuk plus dengan nasi, dan ada pula lomba memakan kerupuk dengan ukuran jumbo.

Berbicara tentang keseruan lomba makan kerupuk, masih sedikit yang tau makna dan sejarah dari perlombaan tersebut. Lalu, sebenarnya dari mana muasal alasan lomba makan kerupuk diadakan?

Pada zaman penjajahan, untuk bisa menemukan makanan enak itu sangat sulit. Bagi para pejuang terdahulu bisa menemukan nasi dengan sebuah kerupuk sudah sangat bersyukur. Kerupuk dan nasi adalah santapan favorit para pejuang.

Maka untuk memperingati akan hal tersebut, lomba makan kerupuk selalu diadakan disetiap perlombaan 17-an, selain untuk mengingat jasa para pejuang, lomba makan kerupuk juga mengandung makna perjuangan dan semangat dengan rasa percaya diri yang tinggi. Karena setiap peserta yang mengikuti lomba secara tidak disadari akan memupuk rasa bersyukur atas rejeki yang telah diberikan Tuhan, dan rasa beryukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan dan kini dapat dirasakan.

Selain itu lomba makan kerupuk dapat mempererat rasa persatuan satu sama lain, rasa percaya diri yang tinggi untuk memenangkan perlombaan, dan yang paling penting tujuan dari perlombaan adalah untuk menghibur.

Sebenarnya masih banyak lagi makna dibalik perlombaan makan kerupuk bagi kehidupan bermasyarakat, apalagi ini dilakukan untuk memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan mempertaruhkan nyawa.

Jadi, mulai hari ini pupuklah terus rasa nasionalis dan cinta tanah air pada hati kita agar kita tetap bisa menjaga negara dengan baik dan dapat melestarikan segala budaya termasuk budaya mengadakan perlombaan saat menyambut hari kemerdekaan seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia pada akhir-akhir ini. (Nining Septia)***
Bagikan: