Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 28.5 ° C

8 Masalah Pernikahan Penyebab Cerai, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng Kepala

BANYAK masalah pernikahan yang menjadi penyebab cerai. Fenomena perceraian dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pasangan yang bercerai tentu membutuhkan seorang jasa advokat atau yang lebih dikenal sebagai pengacara. Pengacaralah yang membantu mereka menyelesaikan perceraian lewat jalur hukum. Setiap harinya para pengacara selalu mendengarkan alasan para kliennya tentang apa yang menyebabkan mereka ingin bercerai.

Dilansir dari huffingtonpost.com, berikut delapan masalah pernikahan yang paling umum dari seluruh penjuru dunia menurut para pengacara perceraian.

1. Pasangan jarang merawat anak-anak



Seorang pengacara di San Diego, California yaitu Puja A. Sachdev pernah menangani kasus pasangan bercerai karena masalah jarangnya merawat anak. Puja sering mendengar keluh kesah pasangan yang menceritakan suami atau istri mereka sudah tidak lagi merasa memiliki atau mengenali pasangan mereka seutuhnya. Rasa itu terutama bila menyangkut tanggung jawab untuk merawat anak-anak.

Puja juga menuturkan, kapan pun seseorang merasa pasangannya sudah tak sama seperti dulu lagi, maka di situlah terciptanya rasa kebencian. Bila sudah melibatkan anak, maka hal itu menjadi jauh lebih rumit. Sehingga pengajuan cerai adalah jalan satu-satunya yang dipercayai untuk mengakhiri bahtera rumah tangga tersebut.

2. Tidak pernah membicarakan masalah dalam pernikahan



Karen Covy, seorang pengacara dan konsultan perceraian asal Chicago, Illinois pernah menangani kasus perceraian pasangan yang tidak pernah mencoba untuk membicarakan masalah dalam pernikahan. Menurut Karen, awal mula pemicu perceraian dalam pernikahan karena tiap pasangan tidak pernah mengutarakan apa yang mereka rasakah terhadap satu sama lainnya.

Mereka tidak pernah mencoba untuk membicarakan maupun menyelesaikan masalah yang terjadi. Akhirnya pada titik tertentu, mereka akan berdebat satu sama lainnya. Mereka sudah tak bisa lagi menahan rasa kekecewaan di hati karena masalah yang datang silih berganti.

3. Keintiman serta kehidupan seks yang gagal



Dalam sebuah hubungan yang dibangun, tentunya setiap pasangan menginginkan adanya keintiman dalam hal komunikasi. Pondasi dari setiap hubungan yang dijalani ialah adanya komunikasi yang baik. Tanpa adanya komunikasi yang baik antara satu sama lain, maka hubungan yang dijalani tentunya tidak akan berjalan mulus.

Seorang pengacara di Los Angeles, California yaitu Lisa Helfend Meyer mengungkapkan bila tidak ada komunikasi yang baik, tentu akan merusak beragam aspek dalam hubungan tersebut. Salah satunya dalam kehidupan seks. Menurut Lisa, kehidupan seks yang baik itu didasari dari komunikasi serta keakraban yang tercipta dengan baik.

4. Sosial media pembawa bencana



Sosial media memang dinilai dapat menjadi salah satu penyebab keretakan bahtera rumah tangga seseorang. Contohnya ialah kasus perceraian yang ditangani salah seorang pengacara New York, Douglas Kepanis. Ia menangani permasalahan pasangan yang kecanduan sosial media.

Awal mula permasalahan tersebut ialah saat pasangan mereka mengklik ‘like’ di salah satu komten yang dipasang (posting) facebook seseorang. Setelah itu, mulai merambah ke obrolan yang sarat akan unsur seksual. Hingga terjadi pertemuan tatap muka langsung yang menyulut pertengkaran antara pasangan tersebut.

Menurut Douglas Kepanis, sosial media merupakan salah satu pemicu retaknya hubungan yang terjalin. Dari sosial medialah seseorang berpotensi melakukan perselingkuhan dengan orang lain.

5. Merasa asing dengan pasangan sendiri



Carla Schiff Donelly, seorang pengacara Pittsburgh, Pennsylvania mengungkapkan dia pernah menangani kasus perceraian klien yang merasa asing pasangan mereka. Pasangan terasa bukan lagi sebagai orang yang mereka nikahi.

Kliennya itu juga menuturkan bahwa mereka merasa hanya sebagai teman sekamar dan tidak lagi merasa sebagai teman hidup. Hal itu dikarenakan kurangnya interaksi dengan pasangan.

6. Pasangan yang egois



Kerap kali pasangan menyudahi pernikahan mereka karena ego masing-masing. Keegoisan memang merupakan sifat umum yang dimiliki setiap orang. Untuk itu, ego setiap orang harus dapat ditepis. Terutama ketika ingin berkomitmen untuk mengikat jalinan cinta dalam bentuk pernikahan.

Alison Patton, seorang pengacara dan mediasi perceraian asal San Diego pernah menangani kasus perceraian hanya karena masalah ego yang tak bisa diredam oleh pasangan tersebut. Menurut Alison, jika pasangan sudah tak mampu lagi meredam ego masing-masing, maka perceraian merupakan jalan terakhir untuk menyelesaikannya.

7. Memiliki sudut pandang berbeda saat berbicara tentang cinta



Dennis A. Cohen, seorang pengacara dan mediator asal Marina del Rey, California paham betul mengenai kasus perceraian pasangan yang memiliki sudut pandang berbeda ketika berbicara bahasa cinta. Ia pernah menangani kasus dua orang mungkin saling mencintai, tapi tidak merasa dicintai karena mereka memiliki bahasa cinta yang berbeda.

Dennis menuturkan bahasa cinta seseorang terhadap pasangannya ada dengan melakukan hal-hal yang dapat membantu ataupun membelikan hadiah. Bahasa cinta yang lainnya berhubungan dengan sentuhan cinta ataupun memiliki waktu berkualitas bersama. Si penerima tidak benar-benar merasakan cinta dan pemberinya juga merasa tidak dihargai atas cinta yang diberikan.

8. Merasa diterima begitu saja



Saat pacaran mungkin Anda akan sering menerima pujian serta perhatian lebih dari pasangan Anda. Namun, ketika memasuki babak baru dalam kehidupan yaitu menikah, banyak pasangan yang mengeluhkan pasangannya berbeda dari semasa pacaran. Mereka beranggapan semasa pacaran, setiap pasangan selalu melakukan hal-hal romantis untuk membahagiakan satu sama lain.





Namun, ketika menjalani bahtera rumah tangga, hal-hal romantis yang dilakukan semasa pacaran itu mulai menghilang. Menurut seorang pengacara asal Atlantia, Georgia yaitu Randall M. Kessler, banyak pasangan yang berkonsultasi padanya karena mereka sudah merasa tidak bahagia lagi bersama pasangannya. Mereka merasa pasangannya berubah ketika sudah menikah. (Ayunindya Annistri)***

Bagikan: