Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian berawan, 22.3 ° C

Istirahatlah Kata-Kata, Menyesapi Jalan Sunyi Wiji Thukul

Muhammad Irfan

NAMA Wiji Thukul, tenar disebut sebagai penyair "bandel". Kata-kata yang ia rangkai dalam puisi gubahannya seperti kanon yang menembak tepat di jantung penguasa. Puisi-puisi ini pula yang membuat Wiji menjadi satu dari sekian banyak aktivis yang diburu di penghujung dekade 90. Mendekati detik-detik reformasi, Wiji justru hilang tak tentu rimbanya. Hingga kini.

Sejumlah karya banyak digubah untuk menghormati dan mengenang sosok Wiji. Lagu, puisi, hingga film dokumenter bertebaran menceritakan lantangnya aktivis Partai Rakyat Demokratik ini berbicara. Namun, hal yang sedikit berbeda ditampilkan oleh Yosep Anggi Noen. Melalui film "Istirahatlah Kata-Kata" yang ia besut pada 2016 lalu, ia mengangkat sisi manusiawi Wiji yang selama ini terkesan luput di tengah kobaran semangat perlawanannya.

Jangan harap akan mendapatkan panas dan gejolak Indonesia jelang reformasi di rentang tahun 1996-1998. Pada film ini, tak ada satu adegan pun yang menggambarkan hal itu. Seperti kisruh 27 Juli 1996 di Jakarta yang menyebabkan Wiji jadi incaran aparat atau kegiatannya sebagai propagandis di PRD dan Jaker (Jaringan Kebudayaan Rakyat).

Di film ini, justru ketakutan dan kecemasan lah yang tampak menyelimuti Wiji (diperankan oleh Gunawan Maryanto). Anggi memang tak mengambil keseluruhan aktivitas Wiji selama masa pergerakan reformasi. Dia hanya mengambil secuil fase kehidupan Wiji yang bisa dibilang sebagai detik-detik yang menentukan. Fase dimana Wiji menjadi buron Orde Baru dan harus menyelamatkan diri ke Pontianak, Kalimantan Barat.

Dalam menyampaikan rasa cemas dan takut yang dirasakan Wiji, Anggi juga tak begitu saja menampilkannya secara eksplisit. Terkadang dia hanya menampilkan simbol atau gerakan yang menggambarkan perasaan tersebut. Misalnya, ketika Wiji bertemu dengan seorang tentara di tempat cukur, ekspresi ketakutan Wiji cukup disampaikan lewat diam dan kepala yang terus menunduk.


Di film ini, justru ketakutan dan kecemasan lah yang tampak menyelimuti Wiji



Sesekali memang ada ungkapan yang mewakili rasa takut Wiji, tapi itu pun lebih banyak disampaikan melalui puisi gubahannya. Bisa dibilang film ini minim dialog. Tetapi bukan berarti tak bisa menyampaikan emosi Wiji saat berada di masa-masa pelarian itu. Emosi Wiji justru tersampaikan dengan baik ke penonton melalui efek visual yang ditampilkan Anggi dalam filmya.

Alur cerita yang lambat dan adegan yang didominasi dengan latar gelap benar-benar menciptakan atmosfer sunyi dan kesendirian yang dirasakan Wiji selama menjadi buron. Kesunyian yang tidak hanya disebabkan oleh ketidakpastian diri, tetapi juga kerinduan pada anak istri yang terpaksa ditinggalkannya di kampung halaman.

Kecemasan dan ketakutan yang dibangun dalam film ini pun tak melulu milik Wiji. Masih ada Sipon (diperankan oleh Marissa Anita), istri Wiji yang juga tak kalah berat menanggung beban. Selain harus terus menghadapi "kunjungan" rutin aparat ke rumahnya, dia juga harus memberi pengertian kepada putrinya Fitri yang masih kecil dan mengurus si bungsu, Fajar.

Hingga di akhir cerita Wiji memberanikan diri kembali ke rumah. Mengalahkan rasa takutnya demi melampiaskan kerinduannya. Namun teror tak berhenti sampai di situ. Teror yang bukan membuatnya menyerah tetapi malah membuat darah perlawanannya semakin panas. Seperti bait dalam puisi "Habis Cemasku" yang ia gubah di masa pelarian itu.

"Habis cemasku kau gilas. Habis takutku kau tindas. Kini padaku tinggal tenaga mendidih!"

"Istirahatlah Kata-Kata" memang hadir tak seperti film biografi kebanyakan. Dia tidak memunculkan sosok Wiji sebagai sosok yang heroik dengan glorifikasi di sana sini. Wiji dalam film ini digambarkan sebagai Wiji yang apa adanya. Sosok biasa yang "hanya" tak suka pada kelaliman pemerintah. Sehingga jangan pikir anda bisa mengetahui tentang Wiji Thukul secara utuh melalui film ini.

Tetapi apa yang dilakukan Anggi lewat "Istirahatlah Kata-Kata" tidak lantas menghilangkan esensi dari Wiji itu sendiri. Anggi nampaknya enggan melakukan pengulangan pada kisah hidup Wiji Thukul yang selama ini sudah sering dibahas baik melalui film dokumenter atau buku. Oleh karena itu, dalam "Istirahatlah Kata-Kata" Anggi memilih fokus pada satu fase kehidupan Wiji dan mengeksplorasi fase tersebut.


"Habis cemasku kau gilas. Habis takutku kau tindas. Kini padaku tinggal tenaga mendidih!"



Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, 8 Januari 2017, Yosep Anggi Noen menuturkan alasan dirinya mengambil fase Wiji menjadi buronan karena itu adalah masa Wiji Thukul bertemu orang baru, berhadapan dengan lingkungan baru dan harus berlindung dari banyak orang. Dalam perjalanan itu Wiji Thukul juga perlahan memupuk keberanian untuk keluar dari persembunyian dan berinteraksi dengan masyarakat.

"Saya menyoroti kehidupan sehari-hari Wiji Thukul selama melarikan diri sama seperti puisi Wiji Tuhukul yang dapat mencatat peristiwa sehari-hari. Film ini dibuat sebagai upaya melihat Wiji Thukul mencatat keseharaian ke dalam kata-kata yang kuat," kata Anggi.

Dalam film yang pengambilan gambarnya dilakukan di Pontianak dan Yogyakarta ini, Anggi juga melakukan sejumlah riset terutama pada sosok Wiji "Anaknya pernah bilang seperti ini: Bapakku seperti puisi, singkat dan misterius. Artinya Wiji Thukul itu tokoh yang riang, lucu, agitatif, sangat cerdas, dia juga membca banyak buku, haus ilmu, tapi di sisi lain dia kesepian. Ruang sepi itu yang saya coba bangun. Dalam kesepian itu kompleksitas manusia muncul seperti rasa takut, apalagi jika sendiri dalam status sebagai buronan. Perasaan seperti itu yang saya coba hadirkan," kata Anggi.

Di Indonesia, film ini tayang perdana pada 19 Januari 2017 lalu. Namun sebelum diputar di Indonesia, sejak Agustus 2016 film ini lebih dulu tayang di sejumlah festival luar negeri seperti Festival del Film Locarno, Swiss; The Pacific Meridian International Film Festival, Vladivostok, Rusia; Filmfest Hamburg, Jerman; Festival Des 3 Contines, Prancis; International Film Festival Rotterdam, Belanda, dan lain-lain.

Di negeri sendiri, "Istirahatlah Kata-kata" berhasil memenangkan kategori penghargaan utama Apresiasi Film Panjang Non Bioskop di Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016.***

Bagikan: