Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 20.1 ° C

Gagal Saingi Google, Cyanogen Gulung Tikar

"Kami telah sarangkan peluru di kepala Google."

KALIMAT berbau ancaman itu merupakan kutipan dari perkataan mantan CEO Cyanogen, Kirt McMaster tahun lalu kepada Forbes. Namun, dibutuhkan lebih dari sekadar ancaman untuk menumbangkan raksasa Google. Jika tidak cukup kuat, yang terjadi malah senjata makan tuan.

Peluru yang dikatakan McMaster bukannya melukai Google, tetapi Cyanogen sendiri yang terbunuh. Jumat 23 Desember 2016 lalu, melalui blognya, pihak Cyanogen mengumumkan akan menghentikan semua layanan dan pengembangan paling lambat hingga pengujung tahun, Sabtu 31 Desember 2016. Sementara itu, proyek open source beserta kode-kodenya akan tetap tersedia bagi pengembangan CyanogenMod secara personal.

Bagi sebagian kalangan namanya mungkin sedikit asing. Namun, di kalangan para pengembang sistem operasi telefon pintar dan tablet berbasis Linux (Android), bahkan pengguna yang kurang puas dengan sistem orisinal, Cyanogen merupakan penyedia sistem operasi dan kode-kode alternatif yang bereputasi baik.

Sistem operasi hasil pengembangannya biasa disebut CyanogenMod atau biasa disingkat CM. Hal ini dikembangkan sebagai perangkat lunak bebas dan sumber terbuka berdasarkan rilis resmi Android oleh Google, dengan menambahkan kode asli dan pihak ketiga. Biasanya, pengembangan sistem disesuaikan dengan rilis OS resmi oleh Google. Hal tersebut telah dilakukan sejak tahun 2009 dengan meluncurkan CyanogenMod 3, yang dikembangkan berdasarkan Android 1.5 (Cupcake).

Karena berkaitan dengan sistem, tentu saja dalam pengaplikasiannya CyanogenMod memerlukan akses istimewa dari perangkat telefon pintar, yang sering disebut root access. Dengan proses root, sistem operasi Android dimungkinkan untuk dimodifikasi dan di-install ulang ke dalam perangkat telefon seluler.

Beberapa contoh fitur yang tidak ditemukan pada sistem operasi resmi dari vendor, tetapi dimiliki oleh CyanogenMod antara lain menambah codec audio FLAC, daftar Access Point Name, Privacy Guard, pilihan notifikasi, serta overclocking CPU dan peningkatan kinerja lainnya. Sementara itu, untuk aplikasi peluncuran, pada CyanogenMod 5.0.8 telah memiliki ADW Launcher sebagai launcher default. Tidak seperti sistem bawaan, aplikasi ini menyediakan fitur tambahan seperti paket ikon, efek, dan beberapa aksi tambahan.

Pada pengembangannya, CyanogenMod selalu diberi label nightly, experimental, milestone, atau "stableversion". Perbedaannya, nightly biasanya terdapat fitur baru yang sedang diujicobakan ke dalam sistem selama 24 jam, sedangkan experimental merupakan proses pengujian dari fitur yang ditambahkan. Lalu milestone adalah versi sistem yang telah stabil, tetapi kadang muncul isu atau bug. Setelah benar-benar teruji, barulah sistem operasi diberi label stable. Namun, semenjak CM 11, label stable tidak lagi digunakan.

Karena berbagai fitur tambahan yang ditawarkan itulah, CyanogenMod semakin populer di kalangan pengguna Android, meskipun mereka mesti mengorbankan garansi resmi dari vendor karena melakukan proses rooting. Sampai dengan pertengahan tahun lalu saja, beberapa laporan menyatakan bahwa lebih dari 50 juta pengguna smartphone Android yang mengganti sistem operasi bawaan dengan sistem CyanogenMod.

Puncaknya, Cyanogen berhasil menjual sistem operasi kepada beberapa vendor smartphone seperti WileyFox dan OnePlus. Kebetulan kedua perusahaan tersebut kekurangan sumber daya untuk membangun antarmuka berbasis Android. Namun, secara tidak langsung pemakaian CyanogenMod juga menguntungkan pihak OnePlus karena banyak konsumen yang tertarik untuk mendapatkan fitur yang tidak ditemukan dari Android versi Google. Namun sayang, untuk produk terbarunya, OnePlus telah menanamkan sistem operasi sendiri dengan nama OxygenOS.

Kehancuran Cyanogen

Cukup sulit bagi penyedia perangkat lunak untuk berkembang jika tidak lagi memiliki dukungan dari vendor handset. Untuk itu, berakhirnya kerja sama dengan OnePlus menjadi awal yang buruk bagi Cyanogen. Pengurangan tenaga kerja telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu. Ini pada dasarnya menandai akhir dari ambisi besar Cyanogen ini.

Masalahnya adalah sulit untuk menempatkan peluru di ”kepala” sebuah perusahaan, yang sebenarnya merupakan sumber dari produk yang dihasilkan. Dengan kata lain, Cyanogen bukanlah apa-apa tanpa kode open source milik Android, yang merupakan versi terbatas dari sistem operasi Google.

Tidak mengherankan jika sistem operasi CyanogenMod selalu diluncurkan dan dikemas tanpa dukungan Google Playstore. Hal itu sama saja dengan menunjukkan bahwa posisi Google lebih kuat, kecuali jika Cyanogen dapat menyediakan toko aplikasi sendiri. Namun, Cyanogen berhasil membuat kesepakatan dengan Google, yang memungkinkan untuk menjual paket sistem operasi secara utuh kepada pihak ketiga.

Keadaan semakin memburuk setelah Google meluncurkan telefon pintar sendiri, Pixel. Google bersama Samsung, LG, dan Sony telah membekali perangkat smartphone mereka dengan sistem pilihan variasi antarmuka (user interface). Padahal, itulah yang selama ini menjadi andalan Cyanogen. Semakin sulit saja bagi Cyanogen untuk mengalahkan Google dalam permainannya sendiri.

Bagaimanapun, Cyanogen telah memberikan banyak hal luar biasa di dunia Android. Bahkan, Ian Morris melalui Forbes.com menyatakan bahwa kita harus berterima kasih kepada mereka (Cyanogen) karena telah membuat segala sesuatu di Android menjadi lebih baik. Selamat jalan Cyanogen. (Yusuf Haryanto, dari berbagai sumber)***

Bagikan: