Pikiran Rakyat
USD Jual 14.210,00 Beli 13.910,00 | Sebagian cerah, 27.6 ° C

Mengenal Saung Angklung Udjo

Deni Yudiawan

BANDUNG, (PR).-  Siapa tak kenal Saung Angklung Udjo. Hari ini, tempat yang terletak di Jalan Padasuka No 118 Kota Bandung itu selalu disesaki anak sekolah yang berwisata sekaligus belajar budaya Sunda, termasuk salah satunya adalah angklung.

Saung Angklung Udjo merupakan sebuah tujuan wisata budaya yang lengkap, karena SAU memiliki arena pertunjukan, pusat kerajinan bambu, dan workshop untuk alat musik bambu. Disamping itu, kehadiran Saung Angklung Udjo di Bandung menjadi lebih bermakna karena kepeduliannya untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sunda, khususnya Angklung kepada masyarakat

melalui sarana pendidikan dan pelatihan.

Menurut CEO Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat Udjo, selama setahun terakhir, mereka bermain tak kurang dari 1.500 kali pertunjukkan. Dengan kata lain, setiap hari hampir 5 pertunjukkan angklung dan seni budaya Sunda ditampilkan di sana. Ia juga mengaku, dengan terpaksa harus menolak ribuan siswa yang akan berkunjung ke sana karena pertimbangan tempat yang terbatas.

Pada tahun 1966, Udjo Ngalagena beserta istrinya Uum Sumiati mendirikan sebuah sanggar kesenian Sunda, yang kemudian kita kenal sekarang dengan nama Saung Angklung Udjo. Pasangan yang dikaruniai 10 orang anak ini kemudian mendirikan kesenian Sunda yang tergolong unik pada masa itu. Ide dasarnya adalah menjadikan bambu sebagai elemen yang memberikan banyak karakter yang mendominasi. Saat itu kemudian diciptakan banyak benda dari bambu seperti kursi pertunjukan, alat musik, hingga panggung pertunjukan.

Pertunjukan kesenian Sunda dan kaulinan barudak (permainan anak-anak) itu ternyata memberikan kesan positif bagi penonton. Beberapa sumber menyebut bahwa tamu asing mereka adalah dua orang bule yang datang ke sana dan mengaku sangat terkesan dengan pertunjukan itu.

Udjo Ngalagena sangat terinspirasi oleh Daeng Sotigna yang menjadi gurunya, yaitu 5M: mudah, murah, mendidik, menarik, dan massal. Kemudian Udjo menyempurnakan filosofi itu dengan menambahkan datu nilai lagi: meriah!

Prinsip-prinsip itu kemudian dikembangkan menjadi sebuah konsep pertunjukan yang ideal, dan dikenal dengan nama kaulinan urang lembur atau permainan anak kampung. Sebuah pertunjukan yang memadukan unsur kesenian Sunda yang atraktif dengan pendidikan.***

Bagikan: