Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Cerah berawan, 21 ° C

Styrofoam Dilarang, Plastik Datang

Eva Nuroniatul Fahas

PADA 12 Oktober 2016, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mencuit dalam akun resmi media sosial Twitter dan Instagramnya mengenai pelarangan penggunaan styrofoam untuk kemasan makanan (dan minuman) di Kota Bandung per 1 November 2016. Ia juga meminta kepada pihak yang terbiasa menggunakan styrofoam untuk pesanan bawa pulang (takeaway) agar dapat menyesuaikan.

Tak butuh waktu lama, segera saja cuitan tersebut tersebar ke mana-mana. Kini, lima hari setelah imbauan pengurangan penggunaan styrofoam untuk kemasan makanan diberlakukan, geliat perubahan mulai terasa. 

Biasanya di setiap gerobak penjual makanan terpampang nyata tumpukan wadah styrofoam aneka bentuk, kini, hal itu mulai tak terlihat, termasuk di kalangan penjual seblak.

Bagi Anda pencinta seblak, meski sudah tidak menggunakan kemasan styrofoam tetapi kenikmatannya tak sedikit pun berkurang. ”Memang sih, kelihatannya jadi tidak cantik. Pakai styrofoam itu kan agar tampilan seblak lebih menarik,” ujar Nur (30), salah seorang penjual seblak di Jalan Jatayu, Kota Bandung.

Ia didatangi petugas kelurahan beberapa waktu lalu. Tujuannya untuk sosialisasi pelarangan penggunaan wadah styrofoam untuk kemasan. Pertama kali mendengarnya, Nur sempat bingung meski ia tetap yakin tak berimbas pada penjualan seblaknya.

”Bingungnya itu soal nanti ganti styrofoam pakai apa. Tapi karena ini harus kan ya, jadi saya ganti dengan plastik makanan,” tuturnya.

Sebelum 1 November, ia berusaha tidak menggunakan styrofoam. Meski kadang masih pakai tetapi sejak Senin 1 November 2016, ia benar-benar sudah tidak memakai styrofoam lagi. 

”Katanya styrofoam itu jelek untuk lingkungan, bikin sampah. Saya setuju-setuju saja dengan aturan ini karena tidak ada keluhan juga dari pembeli. Yang bertanya juga jarang. Kalaupun ada, saya jawab saja sudah dilarang Wali Kota,” tuturnya.



Meski demikian, Nur masih menyimpan beberapa tumpuk wadah styrofoam. ”Kalau (penjual) yang lain pada pakai (styrofoam) lagi, saya juga pakai lagi saja. Saya menurut pada aturan ini karena tidak mau melanggar saja,” ujarnya.

Sebelum wadah styrofoam hadir, kemasan pembungkus makanan menggunakan material lain, misalnya terbuat dari bambu, daun pisang, atau bungkus kertas. Hanya, bahan-bahan tersebut masih dirasa kurang solutif, terutama untuk mengemas makanan jadi yang basah atau berminyak dan digunakanlah wadah kemasan plastik. Akhirnya styrofoam dipakai terutama karena alasan harga yang jauh lebih murah.

Hal yang kemudian terjadi setelah pelarangan styrofoam adalah peningkatan pemakaian plastik. Padahal, saat Pemkot Bandung menetapkan kantong plastik berbayar, terjadi penurunan konsumsi kantung plastik hingga 40 persen.

Meski pemakaian styrofoam untuk kemasan makanan mulai berkurang, ada yang menganggap kebijakan itu tidak berlaku untuk semua kalangan. Isma (32), warga Antapani, merasa bahwa aturan tersebut lebih ditujukan untuk penjual makanan skala kecil. 



”Kalau melihat ke toko-toko besar (ritel), masih banyak yang pakai styrofoam. Memang bukan untuk wadah makanan jadi, tapi sebagai alas bahan makanan seperti sayur dan buah. Tetap saja tidak baik karena bersentuhan dengan bahan makanan,” ujarnya.

Padahal, Emil menegaskan, kebijakan pelarangan penggunaan styrofoam berlaku untuk semua jenis kegiatan dan usaha di Kota Bandung. Sanksi paling berat bagi pelaku usaha yang melanggar kebijakan itu adalah pencabutan izin usaha. Ia menjelaskan, kebijakan pelarangan total penggunaan penting dilakukan lantaran besarnya daya rusak yang diakibatkan styrofoam. Salah satunya menyebabkan tersumbatnya aliran sungai dan saluran air.

Bandung dikenal sebagai surganya jajanan. Seiring dengan itu, perkembangan ekonomi dan sosial di kota ini semakin meningkat. Selain warganya, kuliner juga dinikmati oleh pengunjung dari luar daerah. Jadi, sebelum terbitnya larangan, dapat dibayangkan banyaknya arus jual beli styrofoam di Bandung.

Akibatnya, kota pun keteteran menghadapi dampak lain dari wadah styrofoam. Karena hanya berperan sebagai wadah pembungkus, jika makanan telah ludes, bungkus hanya menjadi sampah. 



Persoalan dimulai, mendaur ulang styrofoam hampir tidak mungkin dilakukan. Jika dikubur, styrofoam sangat sukar terurai. Produk styrofoam baru akan terurai setelah 500 tahun, bahkan ada yang jutaan tahun.

Styrofoam sesungguhnya nama merek dari produk polystyrene foam (busa polistirena) yang diproduksi The Dow Chemical Company. Polystyrene awalnya adalah senyawa plastik yang jadi bahan dasar pembuatan banyak macam produk dan memiliki bentuk solid. Fungsi utamanya sebagai isolator bagi sejumlah barang elektronik yang mengantarkan panas atau listrik. Tapi, pada 1941, Dow berhasil mengolah bahan solid ini menjadi busa yang lebih ringan. Lantas bahan itu dinamakan styrofoam.

Di laman resminya, styrofoam tidak digunakan untuk kemasan makanan seperti mangkuk, gelas, alas makan, pendingin, atau kemasan bahan makanan seperti telur dan sayuran. Namun, setelah styrofoam hadir, banyak perusahaan lain yang menggunakannya untuk bahan mengemas makanan, termasuk beberapa restoran cepat saji. 

Soal kemasan makanan, ada baiknya kita menengok kembali kearifan tradisi bangsa. Jauh sebelum peradaban modern dimulai, berbagai suku di negeri ini mengemas berbagai makanan dengan menggunakan bahan alami. Kita pun sebetulnya sudah tak asing lagi dengan kemasan alami dari daun pisang, kelobot jagung, pelepah kelapa, atau daun jati. Beberapa penganan tradisional pun memanfaatkan dedaunan sebagai pembungkus seperti lontong, lemper, nagasari, tape, tempe, gudeg, nasi kucing, sega jamblang, dan sebagainya. 

Bahkan, anyaman bambu pun bisa dibuat menjadi kemasan makanan yang biasa disebut besek. Salah satu pedagang yang menggunakan besek sebagai bungkus kemasannya adalah pengusaha batagor di Jalan Babakan Ciparay. Batagor yang berukuran jumbo tersebut diwadahi dalam besek saat masih hangat. Ketika sampai di rumah, kehangatan batagor masih terasa tanpa mengurangi kelezatannya.

Oleh karena itu, daripada memakai plastik sebagai pengganti styrofoam, mengapa tidak coba mengkreasi pembungkus makanan dari dedaunan?***

Bagikan: