Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 22.3 ° C

Amankah Perangkat VR bagi Anak?

PADA 4 Oktober lalu, Google secara resmi memperkenalkan perangkat headset realitas virtualnya, Daydream VR. Deretan produk VR pun semakin panjang setelah beberapa produsen seperti Samsung, Oculus, Sony, dan HR telah terlebih dahulu melemparkan produknya ke pasaran. Namun, maraknya produk VR menimbulkan kekhawatiran tersendiri terhadap efek keamanan bagi anak-anak.

Apakah perangkat realitas virtual aman bagi anak-anak? Pertanyaan besar tersebut mengemuka seiring semakin pesatnya perkembangan teknologi virtual reality. Terlebih lagi anak-anak dengan sifat keingintahuannya memiliki potensi yang sangat besar untuk berinteraksi dengan perangkat VR. 

Tidak heran jika perangkat VR menjadi daftar teratas  keinginan anak-anak di beberapa negara, bisa jadi Indonesia salah satunya. Itu berarti banyak anak-anak akan merengek meminta PlayStation VR baru, HTC Vive, atau Oculus Rif kepada orangtuanya.

Batas Usia

Faktor keamanan perangkat VR bagi anak-anak sebenarnya bukan hanya menjadi perhatian para orang tua, tetapi juga para produsen. Salah satu caranya mereka mencantumkan batas usia pada produk-produknya. Namun, setiap produsen memiliki pertimbangan berbeda mengenai batas usia aman sehingga angka yang dianjurkan berbeda-beda.

Kita mulai dari Google yang memiliki konsep sederhana dalam memperkenalkan teknologi realitas virtual, yaitu Google Cardboard. Saking sederhananya, pengguna dapat membuat dan merakitnya sendiri. Walaupun berbentuk sederhana dengan material kardus, Google memberi perhatian khusus bagi penggunanya.

Meskipun tidak secara spesifik menyebutkan angka, perusahaan multinasional asal Amerika Serikat itu menyarankan Cardboard tidak  digunakan oleh anak-anak tanpa pengawasan orang dewasa. 



Selain itu, pengguna dianjurkan untuk mengambil waktu istirahat, bahkan  menghentikannya jika mengalami ketidaknyamanan, ketegangan mata, atau disorientasi. Hal tersebut berkaitan dengan Cardboard yang memang tidak didesain untuk pemakaian dengan durasi yang lama. Sebaliknya Cardboard merupakan cara Google untuk sekadar memperkenalkan realitas virtual.

Sementara Samsung dengan produknya, Gear VR memberi penjelasan lebih terperinci berkaitan dengan faktor keamanan VR bagi anak-anak. Samsung menyatakan Gear VR tidak boleh digunakan oleh anak-anak di bawah usia 13 tahun. Itu pun harus dalam pengawasan orang dewasa untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, seperti kejang, mata tegang atau lelah, penglihatan ganda, dan lain-lain.

Selain itu, perusahaan asal Korea Selatan itu menyarankan pengguna untuk mengambil istirahat secara teratur. Secara umum setiap pemakaian 30 menit, pengguna harus beristirahat antara 10 sampai 15 menit.

Sama halnya dengan Samsung, perangkat VR yang cukup populer di pasaran, Oculus Rift, memberikan batasan usia penggunanya untuk 13 tahun lebih. Kemungkinan besar hal tersebut berhubungan dengan penggunaan platform yang sama.

Namun, penentuan angka 13 oleh Oculus tampaknya tidak didasarkan pada alasan logis. Hal tersebut terungkap dalam wawancara VR Focus dengan CEO Oculus Brendan Iribe, yang disitat pada laman trustedreview.com. Brendan Iribe menyatakan, penentuan angka 13 tidak lebih disebabkan Oculus yang menjadi bagian dari Facebook, yang juga mensyaratkan usia 13 tahun. Bahkan, dia balik bertanya, "Jika Anda dapat mencari tahu logika di balik itu, kami akan senang mendengarnya."

Berbeda lagi dengan HTC yang tidak memberikan batasan usia secara spesifik pada produknya, Vive. Akan tetapi, HTC memberikan penjelasan cukup detail dan tegas pada petunjuk penggunaan. 

Beberapa di antaranya dengan menyatakan  "Produk ini tidak dirancang untuk digunakan oleh anak-anak" dan "Jangan biarkan VIve dalam jangkauan anak-anak". Hal itu tidak lepas dari kekhawatiran anak-anak dapat melukai diri sendiri atau orang lain. Pihak HTC pun menambahkan, jika anak-anak diizinkan untuk menggunakan Vive,  orang dewasa harus memantau mereka untuk menghindari efek negatif, baik selama maupun sesudah penggunaan.

Terakhir perangkat VR yang memiliki potensi besar untuk menarik minat anak-anak. Apa lagi jika bukan Sony Playstation VR. Hal itu dapat terlihat dari angka penjualan yang menyentuh angka 40 juta unit dalam waktu tidak begitu lama. Menariknya Sony baru menentukan batasan usia untuk anak 12 tahun lebih pada pembaruan perangkat lunak bulan Maret lalu.



Pendapat Ahli

Dengan demikian, semua produk headset VR melarang penggunaannya oleh anak-anak di bawah usia 12 tahun. Lalu apa sebenarnya yang dikhawatirkan jika perangkat VR digunakan oleh anak di bawah 12 tahun?

Sebenarnya kekhawatiran utama para ahli lebih pada kesehatan mata karena posisinya yang sangat dekat dengan layar. Seperti halnya larangan orangtua saat anaknya terlalu dekat menonton televisi. 

Selain mata akan lebih tegang, beberapa dokter mengungkapkan kemungkinan menderita miopia karena trik teknologi yang menempatkan mata seperti melihat objek jauh, padahal sangat dekat. 

Akibatnya pelacakan alami mata akan terganggu sehingga mata akan mengalami disorientasi saat kembali ke dunia nyata. Beberapa ahli juga menyatakan kemungkinan rabun jauh.

Namun, sejauh ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa headset VR berbahaya bagi anak-anak. Hal tersebut diungkapkan oleh Martin Bank, seorang Professor of Optometry, Vision Science, Psychology, and Neuroscience di University of California, Berkeley. Dia percaya bahwa produsen hanya bersikap hati-hati dengan tidak adanya data konklusif.

Sementara menurut Marientina Gotsis, ahli dari University of Southern California, faktor keamanan perangkat VR bervariasi sesuai dengan perangkat yang digunakan, konten yang ditonton, serta berapa lama anak berinteraksi.

Dengan demikian, di kalangan para ahli pun masih terdapat pro dan kontra mengenai keamanan perangkat VR terhadap anak-anak. Namun, tidak ada salahnya apabila kita lebih bersikap hati-hati.(Yusuf Haryanto)***

Bagikan: