Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Sebagian cerah, 26.8 ° C

Makan Serangga Ternyata Bermanfaat

MENURUT laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau FAO, sekitar 2 juta orang di seluruh dunia memakan serangga sebagai makanan tradisional mereka. Hal ini disebut sebagai entomofagi, yaitu mengonsumsi serangga sebagai makanan.

Kumbang adalah jenis serangga yang paling sering dikonsumsi. Selain itu, ada juga ulat, lebah, tawon, semut, belalang dan jangkrik. Secara keseluruhan, ada sekitar 1.900 spesies serangga yang dapat dimakan.

Praktik entomofagi adalah hal yang biasa di berbagai belahan dunia, seperti Tiongkok, Afrika, Asia, Australia, Selandia Baru, dan sebagian daerah Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Ternyata, selain hanya menjadi sekedar makanan tradisional, mengonsumsi serangga memiliki banyak keuntungan.

Dilansir dari situs medicalnewstoday.com, berikut adalah keuntungan mengonsumsi serangga:

Melawan obesitas

Serangga dianggap sebagai makanan penuh nutrisi. Hampir seluruh serangga kaya akan protein, lemak sehat, zat besi dan kalsium serta rendah karbohidrat. Ternyata, penulis dari laporan FAO mengklaim bahwa serangga sama bergizinya dengan daging yang biasa dikonsumsi, seperti daging sapi. Contohnya, dalam setiap 100 gram jangkrik mengandung 121 kalori, 12,9 gram protein, 5,5 gram lemak dan 5,1 gram karbohidrat. Sedangkan dalam 100 gram daging sapi giling mengandung lebih banyak protein dan lebih banyak lemak. Kandungan lemak yang rendah inilah yang menajdi dasar peneliti untuk menyimpulkan bahwa entomofagi bisa menjadi cara efektif untuk melawan obesitas. ·

Mencegah malnutrisi

Manfaat mengonsumsi serangga tidak berhenti sampai pengurangan berat badan,tapi juga dapat mencegah malnutrisi. Menurut UNICEF, hampir seluruh kematian balita di seluruh dunia adalah akibat dari malnutrisi, yang kebanyakan terjadi di Asia dan Afrika. Selain sebagai sumber lemak tak jenuh dan protein yang baik, serangga juga dapat ditemukan dimana saja. Ini berarti, serangga dapat dengan mudah diperoleh, murah dan dapat mencegah malnutrisi yang biasa terjadi di negara berkembang.

Memenuhi kebutuhan makanan manusia yang semakin meningkat

FAO mengatakan bahwa entomofagi juga menawarkan solusi untuk kekurangan makanan yang akan terjadi akibat peningkatan jumlah pupulasi manusia di seluruh dunia. Menurut Bank Dunia, populasi manusia secara global akan meningkat menjadi 9 miliar pada tahun 2050. Hal ini memaksa kita untuk memproduksi sekitar 50% lebih banyak makanan untuk tambahan 2 miliar orang. Dengan perubahan iklim yang terjadi, kemungkinan hasil tani akan berkurang sekitar 25% . FAO menyatakan bahwa entomofagi adalah solusi yang paling tepat untuk itu.

Mengonsumsi serangga sebagai makanan akan cocok dengan skenario lingkungan ang akan terjadi. Sebagai tambahan, seranggga juga bisa menjadi kandidat untuk makanan dan juga suplemen makanan. Melihat banyaknya keuntungan yang didapat, mungkin serangga dapat menjadi alternatif makanan di masa depan. (Adinda Alsya Denissa)***

Bagikan: