Senin, 9 Desember 2019

Nyintreuk Nyentrik, Mendalami Potensi Mahasiswa Baru dengan Pagelaran Kacapi

- 13 November 2019, 15:15 WIB
MAHASISWA Departemen Pendidikan Seni Musik angkatan 2019 menggelar Pagelaran Seni Musik “Nyintreuk Nyentrik” bertema “Koat Koet Kawat”, di Ampiteater Gedung Kebudayaan Universitas Pendidikan Indonesia, Sabtu, 11 November 2019 lalu.*/DOK. PANITIA

MAHASISWA Departemen Pendidikan Seni Musik angkatan 2019 menggelar Pagelaran Seni Musik “Nyintreuk Nyentrik”, di Ampiteater Gedung Kebudayaan Universitas Pendidikan Indonesia, Sabtu, 11 November 2019 lalu. Pagelaran bertema “Koat Koet Kawat” itu merupakan bagian dari Sosialisasi Integritas Loyalitas Objektif Kreatif Aktif mahasiswa baru.

Dengan dibantu mahasiswa angkatan 2018 dan 2017, acara ini dilangsungkan sebagai upaya membuka potensi mahasiswa baru angkatan 2019 untuk mendalami jenis kesenian yang akan dipilih dalam perkuliahan nanti.

Ketua Pagelaran Seni Musik “Nyintreuk Nyentrik”, Adel Sulaiman mengatakan, perhelatan yang diikuti lebih dari 100 mahasiswa baru itu memilih kacapi sebagai tema utama acara. Kecapi dijadikan media apresiasi terhadap kesenian alat musik tradisional.

“Kacapi ini juga sebagai salah satu bentuk pelestarian alat musik tradisional. Acara ini juga sebagai media pembelajaran manajemen pertunjukan musik bagi mahasiswa baru,” ujar Adel.

Alat musik petik tradisional Sunda itu hadir beragam. Fungsinya selain sebagai ritual juga mampu membentuk media hiburan dalam kehidupan sosial budaya masyarakat. Saat ini, kata dia, keberadaan kecapi terus berkembang.

Hal itu bisa dilihat dari berbagai aspek, termasuk di antaranya dari bentuk fisik dan pola bermain yang semakin kompleks. Perubahan kecapi dari segi fisik dapat dilihat dari bertambahnya jumlah dawai dalam masa perkembangannya.

Jika dilihat dari pola bermain, lanjut Adel, tabuhan pola bermain kecapi yang dulu didominasi pengulangan atau repetitif, kini mengandung kompleksitas dengan tingkat kerumitan yang tinggi. Hal itu menjadi bukti bahwa kecapi sebagai produk budaya tampil dinamis beradaptasi dengan zaman yang dilaluinya.

“Kami mengusung pagelaran kacapi dengan konsep suasana syukur lembur dengan sajian kacapi sebagai waditra utama pengiringnya,” ujarnya.***



Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X