Rabu, 11 Desember 2019

Sandiwara Tradisional, Nasibmu Kini

- 16 Oktober 2019, 05:13 WIB
ADEGAN pergelaran sandiwara tradisional Masres Eblek Grup dari Desa, Mekarsari, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang Kosambi Bandung, Selasa 15 Oktober 2019.*/RETNO HERIYANTO/PR

BANDUNG.(PR).- Era sandiwara tradisi Jawa Barat sepertinya akan terus meredup meski para pelaku dan pengapresiasi masih ada. Minimnya kesempatan untuk tampil membuat sandiwara seakan dianaktirikan.

Diibaratkeun papatah ‘hirup teu neut, paeh teu hos’. Disebut hirup geus jarang manggung, disebut maot da masih aya hiji dua anu manggungkeun (Sandiwara Sunda zaman sekarang ini ibarat pepatah Sunda, hidup tidak mati pun tidak. Disebut hidup sudah jarang manggung, disebut mati masih ada yang suka manggung)," ujar seniman sandiwara tradisional Sunda,  E. Samsudin (64) yang akrab disapa Wa Kabul, seusai menyaksikan pegelaran sandiwara tradisional Masres Eblek Grup dari Desa, Mekarsari, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, di Gedung Kesenian Rumentang Siang di Jalan Baranang Siang Kosambi Bandung, Selasa, 15 Oktober 2019.

Memang bukan cerita yang dikarang oleh Wa Kabul yang hingga kini bertahan di seni tradisi bersama sanggar Sandiwara Sunda Ringkang Gumiwang. Di usia 10 tahun, dirinya mengenal ada sekitar 64 grup sandiwara tradisional Sunda di Kota Bandung dan sekitarnya, kini tinggal grup Ringkang Gumiwang yang dipimpinnya dan Epita yang dipimpin Yayat.

Meski sejak awal ketepurukan seni tradisional Sandiwara Sunda adalah pemerintah, Wa Kabul sepenuhnya tidak mau menyalahkan pemerintah dengan segala wewenang dan kebijakannya. “Saat sandiwara Sunda tengah jaya-jayanya di Tegallega dan Kosambi, oleh pemerintah diburak-barik (dibubarkan) dengan alasan pembangunan dan lainnya, hingga para seniman ditahun 1970an hingga 1980an hanya diberi kesempatan manggung di YPK dan Rumentangsiang,” ucap Wa Kabul mengenang.

Di era TVRI akhir tahun 1970an hingga pertengahan 1980an yang menampilkan Srimulat dengan Ketopraknya, dari Jawa Barat juga diberikan kesempatan untuk tampil rutin dengan Sandiwara Sunda. “Karena banyak manggung di Jakarta, banyak seniman yang hijrah ke Jakarta dan tidak lagi pulang, mereka lebih banyak bergabung dengan Miss Tjitjih dan hanya saya yang kembali pulang,” ujar Wa Kabul.

Niat untuk kembali mengibarkan pamor Sandiwara Sunda bersama Yayat dengan grup Epita dan Wa Kabul Ringkang Gumiwangnya hingga kini terus dilakukan. Salah satu bukti, pertunjukan Sandiwara Sunda Masiytoh yang digelar selama sebulan penuh mampu menyedot 9 ribu lebih penonton.

Kondisi serupa bukan hanya dialami Wa Kabul di Kota Bandung, tapi juga di daerah lainnya. “Kami terus melakukan pendataan terhadap kelompok seni sandiwara tradisional yang nyaris dan akan punah disejumlah daerah, seperti Masres dari Cirebon dan Indramayu,” ujar Kepala Seksi Atraksi Seni Budaya UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Iwan Gunawan, ditemui seusai pertunjukan.

Dari hasil pendataan, sekitar 10 grup kesenian Masres yang masih ada pada tahun 2016, kini (2019) tinggal 6 grup yang masih mendominasi panggung teater. Meskipun usia mereka rata-rata sudah tua, namun masih mampu manggung dua kali dalam satu hari di wilayah Indramayu.


Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

X