Jumat, 21 Februari 2020

Terungkap, Alasan Anak jadi Perisak

- 7 Oktober 2019, 05:00 WIB
*/DOK. PR

DIBALIK kepolosannya, siapa yang menyangka bahwa anak-anak justru bisa menjadi pelaku bullying atau perisakan yang sangat kejam. Tindakan mereka bisa sangat kejam, mengejutkan, dan tanpa ampun. Akibatnya, tindakan ini dapat menimbulkan implikasi pada korban sepanjang hidupnya.

Namun, apakah yang membuat anak menjadi perundung?

“Selama ini, para peneliti mengira bahwa hanya ada satu tipe perundung yaitu anak agresif yang memiliki masalah harga diri akibat kekerasan dan kelalaian orang tua mereka di rumah,” kata Dorothy Espelage, seorang profesor pendidikan dari University of North Carolina di Chapel Hill seperti dilansir BBC dalam laporan khususnya soal perundungan di kalangan anak-anak. Rupanya, anggapan ini telah berubah.

Definisi perundungan berdasarkan penelitian akademik adalah suatu bentuk kekerasan antarindividu atau kelompok yang memiliki tingkat kekuatan yang berbeda satu sama lain. Definisi ini belum sepenuhnya menjelaskan dampak buruk perundungan terhadap korban dan alasan kompleks lain yang membuat anak menjadi perundung. Namun, salah satu faktor utamanya adalah perbedaan kekuatan.

“Misalnya, Anda merisak saya karena Anda adalah anak populer, sedangkan saya tidak. Perbedaan inilah yang membuat saya sulit membela diri,” jelas Espelage.

Faktor lain seperti kekerasan rumah tangga dan perkelahian saudara memang mendorong anak menjadi perundung, tetapi faktor lain juga harus dipertimbangkan. Seorang anak tumbuh di lingkungan yang keras tidak selamanya menjadi perundung, jika di sekolah ia didampingi dan didukung oleh orang-orang disekitarnya.

Jenis perundungan baru

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai perisakan semakin beragam. Selain bentuk penindasan yang kasar dan terang-terangan, kini muncul jenis perundungan yang disebut dengan Machiavellian.

Menariknya, mereka yang masuk dalam kategori ini adalah anak yang pandai bersosialisasi, karismatik, dan disukai para guru. Gambaran tersebut sangat jauh dari stereotip pembully yang cenderung “dungu”. 

Dikutip dari situs BBC, para Machiavellian dapat menyesuaikan diri kapan mereka dapat bertindak dan tidak.

Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X