Jumat, 6 Desember 2019

4 Cara Memulai Hidup Minimalis, agar Lebih Bahagia dan Nyaman Beribadah

- 26 September 2019, 12:10 WIB
BEBERAPA sudut rumah pasangan Sweta Kartika dan Imania Eka Diyanti di Sariwangi, Kabupa­ten Bandung Barat (dari atas searah jarum jam) ruang tamu dan dapur, kamar, ­dapur, serta balkon. Untuk mengisi rumah seluas 45/95 meter persegi, Imania berpikir hemat bahwa di rumah kecil tidak dibutuhkan terlalu banyak barang.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

MEMILIKI penghasilan yang lebih dari cukup, untuk kebutuhan sehari-hari, bukan berarti perlu hidup mewah. Benarkah setiap uang yang kita raih harus habis untuk keinginan-keinginan kita? Apakah kita cukup bahagia dengan memuaskan setiap kemauan membeli barang?

Tengok beberapa figur publik yang juga miliarder seperti Raditya Dika atau Mark Zuckerberg. Berpakaian polos tanpa model yang mengikuti zaman setiap saat, beli barang mewah hanya untuk investasi. Demikian juga konsultan pengorganisasian barang, Marie Kondo, yang namanya sudah tenar di dunia saat ini. Ia tetap tidak bermewah-mewahan, dan hanya memiliki sedikit barang.

Gaya hidup minimalisme, konon lebih mendatangkan rasa bahagia, cukup, dan tidak menghabiskan energi cukup banyak. Kok bisa? Nah, berikut ini, beberapa prinsip kecil yang dapat kamu jalani di rumah, untuk memulai gaya hidup minimalisme.

Seberapa sering Anda menemukan benda tidak terpakai saat beres-beres rumah? Atau ternyata masih lengkap dengan kantong belanjaan dan tag harganya. Pernahkah Anda menyadari bahwa terlalu banyak benda yang dibeli tanpa dasar kebutuhan yang kuat, sehingga menggunung atau berantakan. Padahal, Anda mungkin menyadari bahwa pada akhir bulan sering mengeluh tidak punya uang.

Menurut pasangan suami istri dari Tajurhalang Kabupaten Bogor, Aang Hudaya (29) dan Nikmah (27) yang mengamalkan hidup minimalis, telah mengamati, tradisi baik seperti kerapian, kebersihan, ketertiban, ketepatan waktu, dll belum menjadi khas Indonesia.

Ia menjelaskan, dalam workshop Gemar Rapi yang biasa ia pandu, peserta selalu diajak mengisi jurnal berisi apa cita-cita, tujuan, motivasi, dan ingin menciptakan kondisi rumah yang seperti apa. Kemudian peserta, diajak untuk memikirkan akan membenahi apa dulu. Mulai dari pakaian, dokumen, dan kategori lain. “Selanjutnya kita atur jadwal prioritas beres-beresnya,” ujar Aang.

Setelahnya peserta diajak memilah dan mensortir jumlah barang. Termasuk harus diapakan benda tidak terpakai, apa akan diservis, dijual, atau didaur ulang. Baru lanjut menata, seperti apa, apa saja, dll. “Tahapan akhir adalah melestarikan, agar tetap terjaga, jumlahnya tidak lagi nambah,” katanya.

Cara di tahap akhir ini dengan terus melatih kebiasaan positif, seperti mekanisme kontrol belanja, jangan lagi tanpa alasan. Di samping itu, ia menyebut gaya hidup minimalis, terminologinya berbeda dari setiap tokoh. Kalau komunitasnya, hanya berprinsip, barang dimiliki secara fungsional saja.

“Berbenah ini cara awal memulai minimalis. Banyak orang langsung belajar bagaimana hidup minimalis, tapi barang masih banyak dan berantakan,” kata Aang.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X