Jumat, 5 Juni 2020

Dalam Ms. Monopoly, Gaji Perempuan Lebih Besar dari Laki-laki

- 18 September 2019, 21:53 WIB
PERMAINAN Ms. Monopoly menampilkan prestasi-pretasi perempuan.*/THE GUARDIAN

NEW YORK, (PR).- Bisakah sebuah papan permainan mendukung isu kesetaraan gender? Hasbro berharap begitu. Minggu kemarin, perusahaan ini merilis permainan Ms. Monopoly sebagai “permainan pertama dimana perempuan berpenghasilan lebih banyak dari laki-laki.”

Nyatanya, permainan ini malah menerapkan ketidaksetaraan gender. Pemain perempuan mendapat 240 dolar setiap melewati petak start, sementara laki-laki hanya mendapat 200 dolar.  Konsep ini seperti sengaja memancing kemarahan para pengguna internet.

“Di Hasbro, kami selalu mengutamakan kesetaraan dan kesertaan dalam segala hal, termasuk kegiatan bisnis dan produk kami,” ujar Kristina Timmins sebagai juru bicara perusahaan Hasbro. 

“Itulah sebabnya kami menciptakan maskot baru yang dinamakan Ms. Monopoly. Karakter ini merupakan seorang advokat yang mempunyai misi untuk berinvestasi dengan para pengusaha perempuan. Kami ingin mengakui dan menghargai kontribusi para wanita dalam masyarakat hingga seterusnya,” jelasnya.

Sebelumnya, Hasbro juga pernah merilis permainan khusus perempuan pada tahun 1988. Girl Talk terinspirasi dari Truth-or-Dare dimana para pemain saling bercerinta tentang berbagai hal, seperti misalnya teman laki-laki yang mereka disukai. Girl Talk terbilang cukup sukses karena sempat merilis edisi spesial Hannah Montana dan One Direction pada tahun 2000-an.

Ms. Monopoly menjadi salah satu bagian dalam tren permainan papan yang dibuat agar para pemain semakin sadar dengan isu-isu sosial di sekitar mereka. Ironsinya, masih banyak permainan lain yang gagal dalam menyampaikan konsep tersebut.

Respons negatif

Di awal tahun ini, perusahaan GMT mengumumkan tanggal perilisan permainan barunya yang dinamakan Scramble for Afrika. Tidak disangka, permainan ini justru mendapat respons negatif dari masyarakat karena mengangkat konsep kolonisasi. Masalahnya, para pemain berperan sebagai orang Eropa yang berusaha menjajah Afrika. Permainan ini akhirnya dibatalkan perilisannya dalam waktu sekejap.

Bahkan Barbie pun pernah mendapat kritik dan mengalami banyak perubahan. Mattel baru-baru ini merilis Rosa Parks versi Barbie dan versi Día de los Muertos untuk memperingati hari libur di Meksiko. Selain Barbie dan Ken, karakter boneka dibuat semakin beragam untuk merepresentasikan berbagai etnis dan kaum disabilitas. Beberapa contohnya adalah Barbie dengan kursi roda, Barbie berkulit hitam dengan gaya rambut alami, dan Ken yang memiliki masa tubuh lebih besar.

Respons masyarakat terhadap produk inklusif tersebut beragam. Beberapa kritikus setuju dengan adanya konsep kesetaraan. Namun, ada juga yang menganggap perusahaan memanfaatkan isu tersebut untuk meraup lebih banyak keuntungan.

Halaman:

Editor: anef


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X