Kondisi Bahasa Daerah Nusantara Memprihatinkan

- 28 Agustus 2019, 22:54 WIB
KESENIAN drama maupun teater daerah menggunakan bahasa Sunda yang menampilkan kelompok teater Dongkrak dari Kota Tasikmalaya dengan cerita “Sadrah” oleh UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Rabu, 28 Agustus 2019 petang di Gedung Kesenian Rumentang Siang Kosambi Bandung merupakan salah satu upaya pemuliaan bahasa daerah.*/RETNO HY/PR

BANDUNG,(PR).- Semakin jarang masyarakat pengguna bahasa daerah dikemudian hari akan membuatnya semakin eksklusif. Masih menggunakan bahasa daerah dalam kesenian menjadi sarana sangat efektif untuk pelestarian bahasa daerah.

“Bahasa daerah seperti di Jawa Barat yang memiliki tiga bahasa daerah (Sunda, Jawa Ora Cirebon dan Indramayu serta Betawi) serta kekayaan logat, kondisinya tidak jauh berbeda dengan bahasa daerah di negeri ini. Masyarakatnya berangsur meninggalkan dan mulai menggunakan bahasa nasional (bahasa Indonesia) dan banyak yang menggunakan bahasa campuran daerar dengan Indonesia,” ujar Endo Suwanda Etnomusikologi yang kini lebih memerhatikan seni teater dari sisi bahasa, ditemui seusai menyaksikan pengelaran teater Sunda, “Sadrah” di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang Kosambi Bandung, Rabu 28 Agustus 2019 petang.
 

Disejumlah wilayah Nusantara menurut Endo, dari tahun ke tahu bahasa daerah secara perlahan namun pasti mendekati ambang kepunahan. Punahnya bahasa daerah paling utama akibat ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya, dan sebab lainnya.

"Tidak terkecuali dengan bahasa Sunda saat ini. Meski yang dikhawatirkan baru sebatas logat atau lentong, tapi suatu saat akan ditinggalkan masyarakat penggunanya,” tambah Endo.

loading...

Masalah bahasa di Nusantara, menurut Endo, saat ini menjadi masalah budaya bangsa yang sangat memprihatinkan ketimbang masalah kesenian. Hingga tahun ini berdasarkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah diidentifikasi 652 bahasa yang divalidasi dari 2.452 daerah di Indonesia.

“Dari jumlah tersebut, ada 11 bahasa yang sudah punah, yaitu bahasa daerah Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, dan Serua dari kepulauan Maluku serta Nila serta bahasa Papua. Sementara empat lainnya dalam kondisi kritis bahasa Ibo dan Meher dari Maluku, bahasa Reta dari NTT, dan bahasa Saponi dari Papua,” ujar Endo seraya menam bahkan bahwa 16 bahasa lainnya kinidalam kondisi terancam punah dan hanya 19 bahasa daerah yang masuk paling aman.

Adanya kemunduran dalam hal pengguna bahasa daerah, termasuk bahasa Sunda, menurut seniman teater Bambang Arayana Sambas, budaya daerah merupakan sarana paling ampuh untuk menyelamatkan bahasa daerah. “Paling utama kesenian seperti seni panggung atau seni pentas semisal teater, drama, dan sandiwara daerah atau tradisional yang masih menggunakan bahasa daerah, mulai dari proses, pementasan, hingga penonton yang mengapresiasinya yang pasti akan faham bahasa daerah,” ujar Bambang.
 

Halaman:

Editor: Eva Fahas


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X