Minggu, 19 Januari 2020

Once Upon a Time... in Hollywood, Karya Quentin Tarantino Paling Obsesif dan Personal [Spoiler-Free]

- 26 Agustus 2019, 13:21 WIB
ONCE Upon a Time... in Hollywood/SONY PICTURES

DARI sembilan feature film yang ­ditulis dan disutradarai Quentin ­Tarantino, Once Upon a Time... in Hollywood merupakan yang paling obsesif dan personal.

Obsesif karena dia menjadikan kultur industri film Hollywood pada masa keemasannya sebagai gagasan Once Upon a Time... in Hollywood. Hal itu menguatkan kalimatnya yang terkenal, ”When people ask me if I went to film school, I tell them, ’No, I went to films’.”

Personal karena gagasan itu menjadi sehamparan kanvas besar untuk mengekspresikan gaya bertutur khas Quentin Tarantino. Keduanya merupakan sesuatu yang tak terakomodasi dengan sempurna dalam karya-karya dia sebelumnya, termasuk film My Best Friend’s Birthday.

Once Upon a Time... in Hollywood berpotensi membuat mereka yang mengagumi Quentin Tarantino menangis kagum setelah menyaksikannya. Betapa film, sebagai medium seni, mengingatkan bahwa ada suatu masa dalam hidup seorang insan manusia ketika dia layak mendapat kebahagiaan.

Kisah Once Upon a Time... in Hollywood berseputar tentang kehidupan Rick Dalton (diperankan Leonardo DiCaprio), aktor yang mulai kehilangan sinar kebin­tangannya. Bersama Cliff Booth (Brad Pitt), stuntman-nya, mereka mencoba meraih kembali kejayaan pada penghujung era emas industri film Hollywood, tahun 1969 di Los Angeles.

Quentin Tarantino membuat cerita itu bersinggungan dengan kisah pembunuhan Helter Skelternya Charles Manson yang mengguncang dunia hiburan abad ke-20.

Sederet tokoh nyata seperti Steve McQueen (Damian Lewis), Bruce Lee (Mike Moh), Roman Polanski (Rafal Zawierucha), dan James Stacy (Timothy Olyphant) juga dimunculkan bukan sebagai pencuri perhatian atau pemanis, tetapi sebagai penegas yang memperkaya lakon.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X