Minggu, 19 Januari 2020

Emo, Lagu Galau yang Dicaci dan Dicari

- 26 Agustus 2019, 13:20 WIB
THE Used/THEUSED

JAUH sebelum penyanyi campur sari pada Didi Kempot mengampu para sadboys dan sadgirls di kancah musik ­independen, para scenester lebih ­dulu kenal dengan emo (dibaca: /iːmoʊ/, singkatan untuk ­emotional music). Ini adalah subgenre dari punk yang secara internasional sempat hip di awal 2000. Bercerita tentang tema-tema patah hati ­dengan riff yang kencang dan entakan drum yang keras, emo tidak hanya digemari, tetapi juga kerap dicaci. ­Sempat redup, kini emo bangkit lagi!

Dimulai pada akhir 1980-an oleh scene hardcore ­Wa­shington DC di Amerika, emo lantas berkecambah pada bentuk-bentuk barunya. Gaya bermusik campuran pop punk dan indie rock ini pun mulai dikenal pada 1990-an.

Istilah emo-core misalnya terlacak ada di Oxford English Dictionary 1992. Genre ini kemudian meraih popularitas pada era 2000-an setelah sejumlah band seperti Jimmy Eat World, Dashboard Confessional, dan My Chemical Romance meraih sukses besar. Feno­mena itu bahkan memunculkan subgenre baru yang lebih agresif: screamo.

Di Indonesia terutama Bandung, jejak emo mulai terekam pada ma­sa yang kurang lebih sama. Masuknya referensi band emo luar se­perti Finch, The Ataris, atau The Used ke sejumlah anak nong­krong di scene bawah tanah (underground) era awal 2000 membuat katalog musik tak hanya berputar di punk, hardcore, atau metal.

Geja­la ini lantas diperkuat dengan kehadiran Alone at Last, band yang di kemudian hari kerap dilabeli publik musik sebagai ­pionir emo di kancah lokal.

”Sejak dibentuk pada 2002, sebenarnya kami tidak pernah melabelkan diri sebagai emo, hanya bermain musik, membuat ­ri­lisan, tapi memang kami dipengaruhi band-band luar yang saat itu disebut emo. Nama kami saja terinspirasi dari salah satu lagu The Ataris,” kata Athink, drummer Alone at Last.

Akan tetapi, seingat Athink, pada era itu memang hanya bandnya yang lekat dengan tipikal musik ini. Sementara itu,band underground Bandung lainnya, lebih banyak memainkan musik hardcore, punk, metal, atau melodic punk yang saat itu juga tengah kencang-kencangnya.

Athink bersama para personel Alone at Last diakuinya lahir dari skena yang sama. Hanya, ketika referensi baru yang kemu­dian di­sebut emo itu datang, dia cukup cepat menangkap geja­lanya dan mengejawantahkan kesukaannya itu pada bentuk band yang dia dirikan.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X