Minggu, 23 Februari 2020

Perburuan, Roman Berbumbu Tragedi

- 18 Agustus 2019, 13:31 WIB
SALAH satu adegan di film Perburuan.*/FALCON PICTURES

SUARA korek api yang dinyalakan memecah kesunyian. Lewat cahaya dari api yang sebentar, wajah Hardo (Adipati Dolken) terlihat jelas.

Di dalam gua gulita, Hardo sedang berbicara sendiri sambil sesekali tertawa kecil. Tidak, Hardo tidak gila. Dia hanya menjadikan batang-batang korek api itu sebagai lawan bicaranya mengutarakan isi hati.

Hardo merupakan tentara PETA yang dibentuk Jepang. Dia menempati markas PETA di Blora. Pada Februari 1945, Hardo mendengar, Soepriyadi, pemimpin PETA di Blitar melakukan pemberontakan. Hal itu menyulut semangat Hardo untuk melakukan hal serupa. 

Bagi Hardo, sudah saatnya mereka melawan Jepang yang telah menjanjikan kemerdekaan. Hardo ingin Indonesia segera merdeka dan lepas dari tangan penjajah.

Pada 14 Februari 1945 malam, pemberontakan pecah. Akan tetapi, munculnya pengkhianat membuat aksi itu kocar-kacir. Tentara Jepang berhasil membekuk dan membunuh sebagian pemberontak.

Di tengah petempuran yang tak seimbang, Hardo berhasil kabur ke dalam hutan. Dia meninggalkan keluarga dan tunangannya, Ningsih (Ayushita Nugraha).

Di dalam hutan, Hardo mencoba bertahan hidup. Dia ditinggal rekan-rekannya yang selamat dan memilih menjadi gelandangan. Hardo bertahan di dalam gua dan kejaran tentara Jepang.

Ayah Hardo (Otig Pakis), yang seorang wedana harus kehilangan jabatan dan hartanya. Kesedihan ayah Hardo bertambah karena istrinya meninggal dan dia tidak menemukan Hardo.

Suatu ketika, Hardo keluar dari gua. Dia berjalan menuju Blora. Di perjalanan, dia bertemu ayah Ningsih (Egi Fedly). Kendati diminta pulang, Hardo tak menggubris. Dia berjanji akan pulang dan menemui Ningsih jika Indonesia sudah merdeka.

Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X