Sabtu, 4 April 2020

Menyelami Bumi Manusia Berbalut Kisah Cinta

- 18 Agustus 2019, 11:02 WIB
CUPLIKAN adegan film Bumi Manusia.*/FALCON PICTURES

Tragedi nahas itu membawa Nyai Ontosoroh harus menghadapi pengadilan Eropa. Tentu saja banyak ketidakadilan untuk Ontosoroh yang dianggap hanya gundik. Peran Minke menjadi penyambung permasalahan Ontosoroh dengan menuliskannya di surat kabar.

Permasalahan lain muncul ketika anak Herman, Maurits Mellema (Robert Alexander Prein) menuntut kekayaan ayahnya. Sebagai istri yang tak pernah dinikahkan dengan sah, Ontosoroh tidak memiliki hak apa pun terhadap harta Herman. Pedihnya lagi, Ontosoroh bahkan tidak punya hak terhadap anaknya, Annelies. Pengadilan Eropa memutuskan Annelies harus dibawa ke Belanda.

Tersaji dinamis

Berjalan selama 181 menit durasi film, Bumi Manusia tersaji dengan dinamis. Sebagai penulis skenario, Aris mengemas novel menjadi naskah film dengan efektif. Kendati ada beberapa adegan yang tak perlu, hal ini tertutupi dengan alur kisah yang temponya terjaga baik.

Hubungan antara Minke, Annelies, dan Sha Ine Febriyanti terbangun apik. Begitu juga dengan pemeran pendukung lain, seperti Ayu Laksmi yang menjadi ibu Minke. Kehadiran Sha Ine Febriyanti dan Ayu Laksmi menjadi kekuatan plus di film ini.

Sayangnya, set film ini tak terlalu meyakinkan penonton kalau kisah Bumi Manusia terjadi di awal era 1900-an. Misalnya set rumah, pekarangan, dan kostum para pemeran terlihat mahal untuk dipakai di zaman itu.

Selain itu, ada beberapa plot yang bolong. Sebut saja kehadiran sosok yang disebut Si Gendut (Edward Suhadi) yang hadir secara misterius. Sejak muncul sampai film selesai, sosoknya tidak dijelaskan.

loading...

Begitu juga dengan ayah Minke yang diperankan Donny Damara. Seharusnya karakter ini bisa dieksplorasi lebih dalam. Penonton yang belum membaca novelnya mungkin memerlukan sedikit kejutan di film ini.

Harus diakui, memang tak akan mudah mengadaptasi cerita dari novel populer dan melegenda seperti Bumi Manusia. Apalagi baik Pramoedya Ananta Toer dan karyanya memiliki penggemar fanatik. Tak heran jika sejak awal diumumkan pembuatan filmnya banyak reaksi yang bermunculan, baik positif maupun negatif.

Akan tetapi, terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, film Bumi Manusia patut diapresiasi. Sebagai film maker, Hanung dan timnya terlihat berusaha keras untuk mewujudkan Bumi Manusia dalam bentuk visual. Mungkin dengan cara nge-pop seperti ini, generasi muda akan berkenalan dan mencari tahu tentang kekayaan dunia sastra Indonesia.***

Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X