Bumi Manusia dan Indonesia yang Dibayangkan Pramoedya Ananta Toer

- 15 Agustus 2019, 10:12 WIB
PRAMOEDYA Ananta Toer/DOK. PR

Pramoedya Ananta Toer diangkut ke dalam bak truk dan dipukul beberapa kali dengan popor senapan. Dari sel penjara, pada Agustus 1969,dia diasingkan ke Pulau Buru bersama ratusan tahanan politik lain. Di dalam kamp, ketika beroleh sedikit kelonggaran untuk mulai menulis, dia lagi-lagi mengalami perampasan naskah oleh petugas.

Pramoedya Ananta Toer tidak memiliki cukup waktu untuk membuktikan betul tidaknya kekhawatirannya tentang presiden dari militer. Dua tahun setelah Pilpres 2004, tepatnya 30 April 2006, sastrawan penerima Hadiah Magsaysay pada 1995 itu tutup usia.

Tidak penting siapa yang jadi penguasa

Di atas sikap kerasnya terhadap militer, Pramoedya Ananta Toer melihat Indonesia dengan penuh kemuraman. Nyaris tanpa harapan. Kepada Andre dan Rossie, ia berkisah tentang kekayaan alam yang dijarah dan dicuri orang. Ia keluhkan impor gelap dan penyelundupan yang merenggut jutaan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia.  

“Memang tidak penting siapa yang jadi penguasa, kondisi Indonesia yang sudah memprihatinkan ini tidak akan berubah,” ucapnya.

Pramoedya Ananta Toer, sebagai salah seorang korban sekaligus penentang utama kediktatoran Orde Baru, juga bicara tentang kemerosotan moral yang parah selama Soeharto berkuasa. Dikritiknya praktik korupsi yang sudah menjadi penyakit sosial yang terjadi di mana-mana. Biang semua masalah, menurut dia, adalah elite “yang tidak tahu cara berproduksi”.

Hanya Soekarno

Buku berjudul Saya Terbakar Amarah Sendirian adalah satu dari sedikit buku tentang Pramoedya Ananta Toer yang mempertahankan format tanya-jawab khas kerja jurnalistik.

Cita rasanya buku jenis itu berbeda dengan buku lain tentang sang penulis Bumi Manusia, yang lumayan banyak jumlahnya, yang ditampilkan sebagai reportase, memoar, riset, atau esai.

Pemuatan omongan utuh, seringkali dilengkapi dengan keterangan ekspresi fisiknya, membangun keintiman pembaca dengan sosok sang penulis besar itu.

Lima tahun setelah buku Andre dan Rossie, terbit buku berjudul Pram Melawan! (2011). Pengarangnya, pasangan jurnalis Hasudungan Sirait dan Rin Hindryati serta aktivis Rheinhardt.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X