Bumi Manusia, Tempat Terhormat untuk Tirto Adhi Soerjo

- 15 Agustus 2019, 10:10 WIB
TIRTO Adhi Soerjo/DOK. PR

Melihat kiprah Tirto Adhi Soerjo, meski berlangsung dalam rentang waktu relatif pendek, Pramoedya Ananta Toer tidak ragu menyebutnya sebagai pelopor gerakan kebangkitan Indonesia. Lebih khusus lagi, dialah jurnalis yang paling tepat menyandang gelar “Bapak Pers Indonesia”.

Pendiskreditan dan pengakuan

Sumbangan besar Tirto Adhi Soerjo dideskreditkan secara sistematis oleh pemerintah Hindia Belanda. Pramoedya Ananta Toer menelusuri dokumen-dokumen yang menunjukkan bagaimana Dr. Rinkes, Penasehat Pemerintah untuk Urusan Pribumi, bekerja untuk “mengontrol, mencatat, memojokkan, dan menumbangkan” sang jurnalis yang dicap sebagai orang berbahaya.

Pramoedya Ananta Toer menduga kuat, Rinkes berhasil menyusup ke dalam Medan Prijaji sebagaimana terlihat dalam surat-surat rahasianya yang demikian rinci.

Bagi Pramoedya Ananta Toer, kejatuhan Medan Prijaji dan Tirto Adhi Soerjo merupakan skenario yang direncanakan jauh hari. Semua perusahaan tiba-tiba menarik iklannya, membuat Medan Prijaji terperosok ke jurang pailit dan harus dilelang publik. Di pengadilan, pada Desember 1912, Tirto Adhi Soerjo dijatuhi hukuman buang selama enam bulan ke Ambon.

Kembali dari Ambon, Tirto Adhi Soerjo sudah kehilangan semuanya. Dia tersingkir dari arus kebangkitan nasional yang dia rintis. Pada Januari 1914, Tirto Adhi Soerjo sekali lagi dijatuhi hukuman penjara karena tuduhan penghinaan yang terjadi dua tahun sebelumnya. Setelah menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dalam kesendirian dan tekanan, pada 7 Desember 1918 jenazah Tirto Adhi Soerjo dimakamkan di Mangga Dua, Jakarta.

“Tak ada pidato-pidato sambutan. Tak ada yang memberikan jasa-jasa dan amalnya dalam hidupnya yang tidak begitu panjang,” ujar Pramoedya Ananta Toer dalam tulisannya.

Sesudah kejatuhan Medan Prijaji dan Tirto Adhi Soerjo, Rinkes menulis surat ke Gubernur Jenderal Idenburg: “Pers pribumi di waktu-waktu belakangan sama sekali tidak menimbulkan alasan serius tertentu untuk mengeluh (di waktu-waktu semasa Tirto Adhi Soerjo hal itu lebih gawat).”

Abainya kalangan bumiputera terhadap sosok Tirto Adhi Soerjo tercermin dari sepinya pemberitaan tentang kematian sang jurnalis. Baru pada 13 Desember 1918, Mas Marco Kartodikromo menuliskan nekrologi di halaman pertama Djawi Hiswara.

Sang mentor selama di Medan Prijaji itu disebutnya sebagai “induk jurnalis Bumiputera di Jawa” yang “tajam sekali beliau punya pena.”

Pengakuan akan kiprah Tirto Adhi Soerjo, sebagaimana dicatat Soebagijo dalam bukun berjudul Sebelas Perintis Pers Indonesia (1976), juga datang dari berbagai tokoh penting.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X