Jumat, 13 Desember 2019

Pertanian Presisi untuk Tingkatkan Produktivitas Kelapa Sawit

- 22 Juli 2019, 06:47 WIB
TIM IPB mengembangkan metode analisis penentuan kadar hara daun untuk menentukan dosis pupuk berbasis satelit.*/ DOK. IPB

SEBAGAI  produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia,  produktivitas sawit tentu perlu diperhatikan. Saat ini, kelapa sawit di Indonesia  menjadi komoditi andalan sebagai penghasil devisa utama subsektor pertanian dan penyedia lapangan kerja wilayah.  Lapangan pekerjaan yang dapat disediakan dari sektor ini mencapai 16, 2 juta jiwa.

Sementara luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami  peningkatan. Jika pada dekade 1970, luas areal perkebunan kelapa sawit  hanya sekitar 100 ribu hektare, pada 2018 luas perkebunan sawit mencapai 14,3 juta hektare tersebar di seluruh Indonesia terutama di Sumatera, dan Kalimantan.

Sayangnya, tingkat produktivitas kelapa sawit di Indonesia belum optimal, masih di angka  3,5 ton crude palm oil (CPO) per hektare per tahun.  Sementara potensi yang dihasilkan bisa 8, 6 ton per hektare per tahun.

Demikian diungkapkan Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor  Sudradjat dalam pra orasi ilmiah di Executive Lounge IPB, Kamis 18 Juli 2019.

Sudradjat mengatakan, berdasarkan perhitungan, 60 persen biaya pemeliharaan tanaman secara keseluruhan adalah untuk pemupukan. Oleh karena itu, diperlukan metode penentuan status kadar hara secara tepat dan cepat untuk mendapatkan rekomendasi pupuk yang sesuai kebutuhan tanaman.

Tim IPB yang dikoordinatori Kudang Boru dan Sudrajat sebagai peneliti utama, kemudian mengembangkan metode analisis penentuan kadar hara daun untuk menentukan dosis pupuk berbasis satelit. Rekomendasi pemupukan kelapa sawit ini diberi nama precipalm dan telah diluncurkan 18 Desember 2018 lalu.

“Dari pertanian presisi ini kita bisa memberikan input apakah pupuk pestisida sudah sesuai dengan kebutuhan tanaman atau belum. Dengan presisi ini, umumnya mengurangi input, tetapi dapat meningkatkan produktivitas, jadi memberikan pupuk sesuai kebutuhan. Kalau sekarang kan pukul rata,” ujar Sudrajat.

Presisi pertanian yang digunakan untuk kepala sawit  menggunakan citra satelit  Santinel-2. Satelit tersebut dipilih  karena memiliki kanal yang dapat mendeteksi keadaan tanaman.  Selain itu, satelit tersebut juga memiliki resolusi tinggi yakni 10 meter x 10 meter, serta memiliki resolusi temporal 5 hari.


Halaman:

Editor: ella yuniaperdani

Tags

Komentar

Terkini

X