Jumat, 5 Juni 2020

Banyak Perempuan Sebenarnya Merasa Sakit Mengenakan Sepatu Hak Tinggi

- 6 Juni 2019, 07:49 WIB
PARA karyawan perempuan mengenakan sepatu berhak di kawasan bisnis di Tokyo, Jepang, 4 Juni 2019.*/KIM KYUNG HOON/REUTERS

TOKYO, (PR).- Ribuan perempuan Jepang bergabung dalam gerakan #KuToo, kampanye media sosial untuk menolak ketentuan bahwa perempuan harus mengenakan sepatu hak tinggi di tempat kerja.

Hampir 20 ribu perempuan Jepang sudah menandatangani petisi online yang viral itu, menuntut pemerintah untuk melarang perusahaan-perusahaan memwajibkan pekerja perempuan untuk mengenakan hak tinggi. Ketentuan itu adalah contoh diskriminasi gender, kat Yumi Ishikawa, yang memulai kampanye itu.

Kampanye #KuToo sendiri diambil dari kata Jepang untuk sepatu atau “kutsu” dan “kutsuu” yang artinya sakit.

Artis dan penulis lepas berusia 32 tahun itu berharap petisi yang diserahkan ke Menteri Kesehatan pada Senin 3 Juni 2019 akan membawa perubahan di tempat kerja dan kesadaran mengenai diskriminasi gender.

Ishikawa meluncurkan kampanye itu setelah mencuit tentang keharusan mengenakan sepatu berhak tinggi untuk pekerjaan paruh waktu di rumah duka. Tak disangka, cuitan Ishikawa mendapat respons luar biasa dari para wanita.

“Setelah bekerja, para pekerja perempuan berganti dengan sepatu olah raga atau sepatu tanpa hak,” kata dia dalam petisi tersebut. Ishikawa menambahkan, sepatu berhak tinggi sering kali mengakibatkan bunion atau benjolan pada jempol kaki, lecet-lecet dan sakit di punggung bagian belakang.

“Jadi susah bergerak. Anda tidak bisa lari dan kaki Anda sakit. Semua hanya demi sopan santu,” tulis Ishikawa sambil menyoroti bahwa laki-laki tidak menghadapi tuntutan yang sama.

Tradisi

Meski banyak perusahaan di Jepang tidak secara terang-terangan mewajibkan karyawan perempuan untuk mengenakan sepatu hak tinggi, tapi banyak perempuan yang mengenakannya karena tradisi dan tuntutan sosial.

Menurut Ishikawa, kampanyenya lebih banyak mendapat perhatian dari media internasional ketimbang media lokal. Selain itu, ada kecenderungan di Jepang untuk menggambarkan masalah itu sebagai isu kesehatan dan bukan isu gender.

Halaman:

Editor: anef


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X