Ternyata Kue Lebaran Itu Asalnya dari Argasari

- 27 Mei 2019, 06:57 WIB
WARGA mengemas kue-kue produksinya di Kampung/Kelurahan Argasari, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Minggu 26 Mei 2019. Menjelang Lebaran, warga Argasari kebanjiran pesanan pembelian kue.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

KAMPUNG  kue Lebaran. Barangkali itu julukan yang cocok bagi Kampung Argasari, Kelurahan Argasari, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya. Aroma kue matang selepas dioven tercium di  sudut-sudut kampung tersebut. Pemandangan ibu-ibu yang duduk di lantai menghadap loyang berisi kue menjadi pemandangan di sejumlah rumah warga. Mendekati Lebaran, produksi kue pun semakin menggeliat. Para pelaku usaha menggenjot produksi demi memenuhi pesanan. "PR" mendatangi dan menelisik aktivitas kampung pembuat panganan itu, Minggu 26 Mei 2019.

Tangan  ibu-ibu yang tengah duduk di lantai tersebut begitu terampil memunguti kue-kue nastar yang selesai diangkat dari tempat pemanggangan di sebuah rumah di Kampung Argasari, Minggu sore. Nastar matang tersebut segera berpindah ke toples-toples plasik yang berserak di lantai. Setelah toples penuh, selotip direkatkan pada tutup dan badan toples. Mereka bekerja dalam diam. Hanya sesekali para ibu terlihat berkomunikasi dengan yang lainnya. Barangkali, pekerjaan menyusun kue dalam toples perlu ketelitian, sehingga mereka berkonsentrasi penuh. Berbeda dengan para pembeli yang mengunyahnya saat Lebaran tanpa konsentrasi macam itu.

Di sudut lain, seorang pria dan perempuan menyapukan kuas kecil pada kue dalam loyang. Kuas itu terlebih dicelupkan pada adonan telur dan coklat. Di tengah percakapan yang minim, dering telefon memecah kebisuan. Ugun Gunawan (34), pegawai marketing usaha/produksi kue tersebut mulai sibuk mengangkat panggilan telefon. Baru selesai melayani panggilan, dering telefon kembali membuat Ugun kembali terlibat dalam pembicaraan.

"Barang sudah beres dikirim?" tutur Ugun menirukan pertanyaan orang yang menghubunginya. Demikianlah keseharian Ugun. Mendekati Lebaran, tempat bekerja Ugun yang bernama Ajun Kue di RT 5 RW 2 Argasari kebanjiran pesanan. Pesanan, tuturnya, bahkan sudah mulai masuk dua bulan sebelum puasa.  Pemesan berasal dari Kota Tasikmalaya, Banjar, Kabupaten Ciamis, Garut, hingga wilayah Bandung dan Jakarta. Bahkan pemesan paling jauh berasal dari Aceh. Pesanan yang marema membuat Ajun Kue memperkerjakan sejumlah warga Argasari.‎ "Ibu-ibu muda yang ngalanggur bisa kerja di sini," tuturnya. Pembeli, lanjut Ugun, juga bisa langsung mendatangi lokasi produksi kue. "Kebanyakan datang ke sini. Soalnya langsung melihat kualitas barang, ngecek," ujarnya.

Namun bagi pembeli yang jauh, distribusi kue-kue melalui paket-paket pengiriman via kereta api dan pesawat terbang. Ugun mengungkapkan, jumlah produksi Lebaran 2019 melonjak dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Pada Lebaran 2018, Ajun Kue menjual sekitar 1.500 lusin kardus berisi kue. Untuk Lebaran 2019, mencapai lebih dari 2.000 lusin. Satu kardus berisi dua belas toples kue.

Harga satu kardus kue  Rp 330 ribu. Sedangkan harga per toples kue dengan berat 500 gram Rp 33-35 ribu. Namun terkait omset atau keuntungan, Ugun enggan menyebutkannya. Menurutnya, urusan keuangan hanya diketahui pemilik usaha. Ia menambahkan, keunggulan produksi kuenya adalah tahan lama. "Tahan sampai delapan bulan," ucapnya. Persoalan rasa pun tak usah diragukan. "Bikin ketagihan, setiap tahun (pelanggan) balik lagi balik lagi," ujar Ugun. Ia mempersilahkan warga yang tertarik membeli mendatangi Kampung Argasari atau memesan melalui media sosal Facebook Ajun Juned.

Tanpa bahan pengawet

Banyaknya pesanan dialami pelaku usaha lain di Argasari, ‎Ucupuroh (49). Pemilik usaha kue kering dengan merek RB itu bahkan sudah tak membuka pemesanan lagi sejak hari pertama puasa. Soalnya, saat produksi dimulai pada Januari 2019, produksi-produksi kuenya berupa sagu, semprit, nastar ludes diborong pembeli dan grosir. Pembeli yang tertarik hanya bisa mendapatkan kue produksi Ucupuroh bila ada sisa pesanan saja. Ia juga mengakui adanya lonjakan pesanan dan produksi kue Lebaran tahun ini. Ukuran peningkatan terlihat dari jumlah adonan bahan kue di jolang yang bertambah. Saat ini, Ucupuroh mengaku menghabiskan 3 jolang adonan setiap hari untuk memenuhi pesanan. "Besok mungkin empat jolang," tuturnya. Tahun lalu, ia hanya menghabiskan dua jolang adonan setiap hari.

Tetapi mengenai omset atau keuntungan, Ucupuroh juga tak mau membeberkannya. Untuk satu toples kue, ia menghargai Rp 35 ribu. Sedangkan satu kardus Rp 420 ribu. Kue semprit punya harga tersendiri, yakni Rp 18.500 per bungkus plastik. Kue RB juga telah menjangkau wilayah Bekasi dan Jawa Tengah. Urusan kualitas kue, Ucupuroh tak mau berkonpromi. Ia menjamin kue-kuenya tahan lama tanpa menggunakan pengawet. "Bahan harus steril seperti telur (yang dipakai) harus utuh, bukan yang pecah, terus bahan-bahan lain harus kualitas baik," ujarnya memberi kunci kualitas produknya.

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X