Rehabilitasi Terpadu bagi Para Pecandu Game

- 13 Mei 2019, 16:12 WIB
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

DEWASA ini lumrah ditemukan anak-anak kecil sampai orang dewasa bekerja yang menggemari game dalam jaringan (game online). Sayangnya, mereka dibayang-bayangi game disorder, atau kelainan mental yang diakibatkan dari kecanduan permainan daring itu.

Disitat dari situs The Conversation, di Amerika Serikat, ayah tiga anak berusia 35 tahun tewas setelah main game 22 jam nonstop. Pria 20 tahun di Republik Rakyat Cina tewas setelah main game King of Glory sembilan jam setiap hari selama lima bulan. Kasus serupa juga terjadi pada remaja di Indonesia. Mereka tewas karena kecanduan, sebuah perilaku buruk yang sebenarnya bisa dihentikan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyatakan dalam situs resminya bahwa Indonesia ada di urutan keempat dunia sebagai negara dengan penggemar game terbanyak di dunia setelah Tiongkok, Amerika, dan Korea Selatan. WHO pun pada 2018 memasukkan kecanduan game sebagai gangguan kesehatan mental.

Fakta tersebut mendorong Hanny Rafiqoh, mahasiswa Manajemen Universitas Pasundan, Bandung, membuat karya tulis mengenai hal tersebut.

“Game itu tidak masalah. Itu media hiburan, sarana rekreasi, bisa untuk terapi penderita depresi. Game juga memiliki muatan pembelajaran. Yang dikhawatirkan ketika dimainkan dalam waktu yang tidak wajar,” ujar Hanny usai presentasi karya tulisnya untuk Writing Competition penerima program Djarum Beasiswa Plus 2018/2019, pekan lalu.

Dalam karya tulis berjudul Gireram: Sebuah Program Rehabilitasi Bagi Penderita Game Disorder  ini, ia pun menekankan, kecanduan game membutuhkan program rehabilitasi yang terpadu.

“Saya bandingkan dengan Tiongkok, belum ada rehabilitasi resmi yang didirikan oleh pemerintah. Saya gagas di Indonesia untuk sistemnya seperti rehabilitasi lain. Di mana terdapat dokter ahli, psikiater, dan psikolog,” katanya.

Lebih lanjut, mahasiswi asal Cianjur ini mengatakan, assessment yang pertama dilakukan, ialah melalui wawancara keluarga. Orang dengan kecanduan rata-rata menjadi antisosial, yang sulit diperoleh informasi atasnya. “Setelah assessment, depth interview, kemudian wawancara langsung ke anaknya,” kata dia.

Hal yang digali ialah berapa lama anak ini bermain game, dan apa yang membuat anak ini bermain game. Psikolog akan menentukan bagaimana terapi untuk anak ini. Tahap keempat, dilakukan pemberian terapi yang durasinya ditentukan oleh kondisi. Untuk selanjutnya dilakukan monitoring dan controlling.

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network