Senin, 16 Desember 2019

TB Maranatha, Penanda Kejayaan Komik Pribumi

- 12 April 2019, 11:24 WIB
Toko Buku Maranatha di Jalan Ciateul Kota Bandung, penanda zaman kejayaan komik asal negeri sendiri.*

SEBELUM masuknya komik-komik asal Jepang (manga) dan Amerika ke Indonesia, rupanya komik pribumi telah memenuhi rak-rak pada Toko Buku Maranatha di Bandung. Komik yang sempat berjaya di era 1970-an dengan berbagai macam cerita ini menjadi karangan  fiksi yang digemari masyarakat saat itu. TB Maranatha menangkap peluang ini dengan menjual buku-buku komik sejak 1960-an di Kawasan Kopo Bandung.

Herlina (82) istri dari pemilik Toko Buku Maranatha mengenang memori saat komik Indonesia tengah berjaya. Ia berkata bahwa pada masanya orang-orang berbondong datang untuk mencari komik-komik dengan latar cerita pewayangan, superhero, hingga kisah 1001 malam yang dikarang oleh pelukis komik dari berbagai daerah di tanah air. “Ya dulu mah seneng banget, lihat orang pada banyak yang dateng kesini, nanyain berbagai macam komik. Terus beli komik buat anaknya” ujar Herlina.

Toko Maranatha yang dibangun sekitar tahun 60 an oleh Marcus Hadi (Alm) suami dari Herlina. Letaknya sejak 1970-an berada di Jl. Ibu Inggit Garnasih No.148, Ciateul, Regol, Bandung. Markus semasa hidupnya diminta untuk menghimpun pelukis-pelukis berbakat untuk membuat komik, salah satunya R.A Kosasih.

“Jadi dulu om (Markus) itu sempet iseng masukin karya ke koran. Terus ada penerbit yang lihat. Om akhirnya disuruh ngelukis aja buat komik dan disuruh pasang iklan untuk mengumpulkan pelukis-pelukis berbakat untuk berkarya.” kata Herlina sambil tersenyum.

Saat itu kumpulan komik sangat digemari oleh masyarakat. Bahkan Toko Buku Maranatha sempat membuka jaringan dengan beberapa agen di berbagai kota untuk saling bertukar komik. Herlina menyampaikan suplai komik di antaranya dikirim dari Jakarta, Yogyakarta, Bali, hingga dari Medan.

Namun kondisi komik Indonesia, dengan cerita khas berupa wayang, legenda, dan cerita rakyat sudah mulai pudar diminati oleh masyarakat. Herlina menyayangkan hal ini sebab ia mengatakan bahwa kita seharusnya bangga bahwa Indonesia juga memiliki komiknya sendiri. Komik Indoenesia yang dulu berjaya kini mulai memudar seiring dengan masuknya komik-komik dari luar negeri ditambah berkembangnya era digital.

“Paling kalau sekarang yang dateng kesini mah orang-orang lama, yang suka kangen dengan cerita-cerita zaman dulu.” pungkas Herlina.


Halaman:

Editor: Erwin Kustiman

Tags

Komentar

Terkini

X