Menguak Misteri Mendengkur

- 9 April 2019, 13:01 WIB
ILUSTRASI.*/CANVA

MENDENGKUR sering ditanggapi santai. Padahal berbagai penyakit mengintai.

Mendengkur dianggap gangguan akustik sebelum era tahun 1970. Seiring kemajuan teknologi kedokteran, maka riset dan evaluasi objektif tentang mendengkur semakin ekstensif dan masif dilakukan. Terlebih lagi saat polysomnography telah dikenal masyarakat.

Berikut adalah artikel tulisan DR Dito Anurogo Msc, Dosen tetap Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah (FKIK Unismuh) Makassar, yang juga kepala LP3I ADPERTISI, seperti dilansir Kantor Berita Antara:

 

Tahun 1990-an diketahui bahwa penderita mendengkur mengalami arousal respirasi dan fragmentasi tidur yang sering. Terminologi upper airways resistance syndrome (UARS) tepat untuk menggambarkan kondisi ini.

loading...

Mendengkur (mengorok) adalah suara yang dihasilkan oleh vibrasi jaringan-jaringan lunak saluran pernapasan atas selama tidur. Biasanya terjadi selama fase inspirasi (mengambil udara sat bernapas), namun dapat juga terjadi selama fase ekspirasi (menghembuskan udara pernapasan).

Kejadian mendengkur lebih banyak dijumpai daripada yang selama ini dipercayai. Sekitar 45 persen orang dewasa terkadang mendengkur, sedangkan 25 persen memiliki kebiasaan mendengkur (habitual snorers). Faktanya, mendengkur dijumpai pada 5-86 persen pria dan 2-57 persen wanita, yang berusia antara 30-60 tahun. Mayoritas orang berusia lebih dari 65 tahun mendengkur. Mendengkur dijumpai tiga kali lebih banyak pada penderita obesitas.

Faktor hormonal memengaruhi kejadian mendengkur. Efek stimulan pada respirasi dari hormon progestasional dapat menjelaskan rendahnya prevalensi mendengkur dan OSA pada kaum hawa. Prevalensi mendengkur dan OSA yang dominan pada pria dihubungkan para ahli dengan efek testosteron pada ventilasi dan kemosensitivitas.

Hormon memengaruhi mendengkur melalui perubahan anatomi saluran udara bagian atas dan struktur muskuloskeletal (otot dan rangka) secara umum. Gangguan hormon endokrin terkait kejadian mendengkur adalah hipotiroidisme, yang menginduksi perubahan struktur myxedematous, mengubah kontraktilitas otot, serta terkait erat dengan akromegali (kelebihan hormon pertumbuhan), makroglosia (pembesaran lidah), penebalan mukosa faring, perubahan tulang rawan (kartilago) wajah serta perubahan tulang.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X