Sabtu, 6 Juni 2020

Tren Desain Interior 2019, Kolaborasi dengan Unsur Lokal

- 22 Desember 2018, 09:27 WIB
Ilustrasi.*/CANVA

SEPERTI halnya dunia fashion, desain interior pun selalu mengalami pergeseran tren setiap tahun. Meskipun, aplikasinya pada hunian maupun bangunan bisa leluasa dikembangkan sesuai dengan fungsi dan selera. Memasuki pengujung tahun, bagaimana perkiraan tren desain interior tahun 2019?

Secara umum, tren akan muncul seiring dengan perkembangan kebudayaan yang terjadi di masyarakat. Kebudayaan yang berkembang di suatu daerah, terutama sistem pengetahuan, peralatan hidup dan teknologi yang berkembang di masyarakatnya, akan memicu tren yang muncul di wilayah tersebut.

Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jawa Barat Detty Fitriany mengatakan, letak geografis dan perkembangan kebudayaan masyarakat yang berbeda, juga memunculkan tren yang berbeda pula. "Prinsip itu juga berlaku di dalam dunia arsitektur dan interior," ucapnya, beberapa waktu lalu.

Pendekatan perancangan hunian di negara-­negara beriklim tropis, misalnya, berbeda dengan pendekatan perancangan di negara-negara subtropis dengan empat musim. Oleh karena itu, tren yang muncul tidak serta-merta dapat diterapkan begitu saja di dalam pe­rancangan hunian, khususnya perancangan interiornya.

Desainer interior harus memperhatikan juga konteks di mana hunian tersebut berada. Di Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengeluarkan tema "Singularity" untuk tren forecasting (panduan tren bagi pelaku kreatif Indonesia) untuk 2019/2020 yang diturunkan menjadi empat subtema yaitu Exuberant, Neo Medieval, Svarga, dan Cortex. 

Tema Singularity terkait perubahan zaman, yakni gambaran suatu keadaan yang mengindikasikan beragam pergeseran teknologi dan sikap-sikap yang menyertainya, dan gambaran masa depan yang masih diraba. Dalam konsep Singularity, terdapat unsur pertanyaan, kekhawatiran, optimisme, serta harapan akan apa yang terjadi di masa depan.

Subtema Exuberant dikaitkan dengan sikap positif dan antusiasme dalam memandang kecerdasan buatan (AI) sekaligus perasaan santai. Tema itu menunjukkan keceriaan dan optimisme lewat permainan warna yang colorful dengan unsur seni urban atau futuristik dan perpaduan gaya sporty yang santai dengan gaya formal yang cenderung feminin.

Neo Medieval mengusung unsur romantisme abad pertengahan yang mencerminkan sikap khawatir akan kemungkinan di masa de­pan yang memicu timbulnya ”benteng pertahanan”. Pandangan ini membangkitkan romantisme dalam sejarah, ketika tema abad pertengahan menyatu dengan kemajuan teknologi.

Secara visual, tema tersebut memunculkan kesan gaya khas pejuang futuristik, kuat, tegas, dan elegan, dengan palet warna yang netral dan membumi.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X