Sebelum Hari Raya Nyepi, Ini Rangkaian Upacara Masyarakat Hindu di Bali

- 13 Maret 2018, 03:21 WIB
UMAT Hindu berjalan menuju pura usai melakukan upacara Melasti di Pantai Ngobaran, Saptosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis 11 Maret 2018. Upacara Melasti yang diikuti ribuan umat Hindu tersebut bertujuan untuk menyucikan diri dalam menyambut perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1940.*

SEBAGAI daerah dengan populasi umat Hindu terbesar di Indonesia, Bali memiliki banyak tradisi keagamaan yang masih sering dilakukan oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah Hari Raya Nyepi, yang merupakan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender saka. Saat Nyepi, masyarakat Bali tidak akan melakukan aktivitas apapun, begitu juga dengan tempat wisata atau pelayanan umum semuanya ditutup, kecuali rumah sakit.

Sebelum umat Hindu di Bali merayakan Nyepi, mereka memiliki beberapa tradisi yang biasa dilakukan. Berikut adalah tradisi atau upacara yang dilakukan sebelum memperingati Hari Raya Nyepi.

1. Upacara Melasti

Upacara Melasti adalah upacara penyucian yang dilakukan 2-3 hari sebelum Hari Raya Nyepi. Masyarakat Bali akan pergi menuju sumber air seperti danau atau laut secara berkelompok atau rombongan dengan membawa perangkat peribadahan seperti pratima atau simbol Dewa yang digunakan untuk memuja Sanghyang Widhi Wasa, pralingga dan arca untuk disucikan.

Dilansir dari balistarisland.com, setiap kelompok juga membawa sesaji, yang merupakan bagian dari upacara melasti ini. Saat proses upacara melasti dimulai, semua perangkat peribadahan diletakkan di sebuah meja yang sebelumnya sudah disiapkan, dan upacara ini dipimpin oleh seorang pemuka agama. Setelah upacara selasai, mereka akan membawa kembali perangkat peribadahan ke pura untuk disimpan.

2. Ogoh-ogoh

Tepat sehari sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali akan melakukan pawai Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh biasanya dibuat jauh-jauh hari sebelum Nyepi. Ogoh-ogoh, seperti dikutip dari bali.com, adalah sebuah patung raksasa simbol dari Bhuta Kala yang biasa digambarkan sebagai wujud kejahatan dan menyeramkan.

Di akhir parade, ada masyarakat yang membakar ogoh-ogoh untuk mengusir roh jahat agar tidak lagi mengganggu persiapan untuk perayaan Nyepi di keesokan harinya.

Halaman:

Editor: Administrator


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X