Ini yang Anda Katakan Saat Berbicara dalam Keadaan Tidur

- 7 Januari 2018, 05:18 WIB

MUNGKIN Anda khawatir mengatakan sesuatu yang akan Anda sesali saat berbicara dalam tidur. Kekhawatiran Anda bisa jadi benar. Menurut sebuah studi baru-baru ini dari Prancis, gumaman tengah malam mungkin lebih negatif dan menghina dibanding yang Anda katakan saat terbangun.

Dalam penelitian tersebut, periset menemukan bahwa orang yang berbicara saat tidur mengatakan kata "tidak" empat kali lebih sering dalam tidurnya dibandingkan saat ia terbangun.

Untuk mempelajari tentang mengigau, para peneliti mencatat hampir 900 ucapan malam hari dari sekitar 230 orang dewasa selama satu atau dua malam berturut-turut di laboratorium tidur.

Karena mengigau adalah kejadian yang relatif jarang, mayoritas orang dalam penelitian ini memiliki beberapa jenis gangguan tidur, atau parasomnia. Parasomnia merupakan perilaku tidak biasa yang terjadi saat tidur. Demikian diungkapkan periset.

Setelah dicatat, nokturnal dianalisis untuk faktor-faktor seperti kata-kata, keheningan, nada, kesopanan dan bahasa kasar. Hasil ini dibandingkan dengan Bank Bahasa Prancis terbesar untuk mengetahui bagaimana mengigau disesuaikan dengan bahasa Prancis sehari-hari dalam bentuk dan juga isi.

Para periset menemukan bahwa mayoritas (59 persen) mengigau tidak dapat dipahami atau bersifat nonverbal, termasuk bergumam, berbisik atau tertawa. Tapi di antara ucapan yang bisa dimengerti, jumlah yang mengejutkan dari apa yang dikatakan dapat menyinggung atau agresif. Rinciannya yakni 24 persen ucapan mengandung konten negatif, 22 persen memiliki bahasa "buruk" dan hampir 10 persen mengandung kata "tidak" dalam beberapa bentuk. Sebagai perbandingan, kata "tidak" menyumbang 2,5 persen bahasa yang terbangun. Secara total, 10 persen dari semua klausa yang digunakan saat tidur mengandung senonoh.

Teori simulasi ancaman

Mengapa begitu negatif? Menurut penelitian tersebut, temuan ini mungkin mencerminkan apa yang disebut "Teori Simulasi Ancaman," yang merupakan salah satu penjelasan dari fungsi mimpi. Teori tersebut mengemukakan bahwa mimpi adalah simulasi yang membantu "melatih" orang untuk menghadapi ancaman yang bisa terjadi saat terbangun, memberikan tujuan evolusioner untuk bermimpi.

Meskipun peserta studi adalah orang berkebangsaan Prancis, temuan tersebut tidak berarti orang-orang Prancis lebih kasar dibandingkan dengan negara lain. Demikian dikatakan penulis utama studi tersebut, Dr. Isabelle Arnulf, seorang ahli saraf di Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière di Paris. Faktanya, studi tersebut mencerminkan temuan anekdot konten mengigau dari luar negeri, demikian menurut Arnulf, kepada Live Science.

Halaman:

Editor: Administrator


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X