Senin, 16 Desember 2019

Film Posesif Tayang Mulai Besok, Sisi Kelam Cinta Pertama

- 25 Oktober 2017, 13:50 WIB

BANDUNG, (PR).- Ini cinta pertama Lala, Yudhis ingin selamanya. Kalimat ini menjadi tagline film Posesif, kisah cinta remaja yang dibalut sisi kelam. Mulai besok, Kamis 26 Oktober 2017, film besutan Edwin itu tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia.

Uniknya, film yang telah melakoni sejumlah pemutaran terbatas antara lain di Bandung, Surabaya, dan Jakarta itu berhasil memborong sepuluh nominasi pada Festival Film Indonesia 2017. Film Posesif diperhitungkan pada kategori di antaranya Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, Aktris Terbaik, dan Penulis Skenario Terbaik.

Film Posesif bercerita tentang Lala (Putri Marino) si atlet loncat indah yang hidupnya jungkir balik setelah menemukan cinta pertamanya, Yudhis (Adipati Dolken), murid baru di sekolahnya. Janji setia Lala untuk Yudhis malah jadi jebakan, karena cinta Yudhis yang awalnya sederhana dan melindungi ternyata rumit dan berbahaya.

Lala pun mengambang dalam pertanyaan,  apa artinya cinta? Apakah seperti loncat indah yang bila gagal, harus ia coba lagi atas nama kesetiaan? Ataukah ia hanya sedang tenggelam dalam kesia-siaan?

Film yang diproduksi Palari Films itu merupakan hasil kolaborasi antara sutradara Edwin dengan penulis cerita Gina S Noer. Karya-karya Edwin sebelumnya telah ditampilkan di berbagai festival film internasional, seperti "Babi Buta Yang Ingin Terbang" yang memenangkan FIPRESCI Award 2009, "Postcards From The Zoo" yang terseleksi berkompetisi di Berlinale 2012, dan "Kara Anak Sebatang Pohon", film pendek Indonesia pertama yang ditampilkan di Director’s Fortnight, Festival Film Cannes 2005. Kisah "Posesif" menjadi film panjang pertama Edwin yang akan dirilis di bioskop-bioskop tanah air. Sementara itu, Gina S Noer dikenal sebagai penulis skenario beberapa film Indonesia box office. Misalnya saja "Ayat-ayat Cinta" (2007), "Habibie Ainun" (2012), dan "Rudy Habibie" (2016).

Bagi sutradara Edwin, kisah cinta adalah salah satu dari banyak sisi kehidupan remaja yang bisa dieksplorasi dan dikemas dalam bentuk film. Ia ingin memotret kisah asmara remaja lewat tokoh Lala dan Yudhis yang salah mengartikan cinta pertama.

"Hubungan yang posesif disalahsangkakan sebagai cinta sejati. Saya ingin menampilkan realita remaja yang merespons rasa cinta dan kepemilikan secara rancu, sedangkan kontrol diri masih sulit. Ini bisa mengerikan," ungkap Edwin.

Peran Yudhis berhasil membuat aktor Adipati Dolken yang sebelumnya sudah memutuskan untuk tidak lagi menerima peran sebagai anak SMA membuat pengecualian. Pemenang piala Citra kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik FFI 2013 untuk film "Sang Kiai" ini merasa tertantang untuk mengembangkan sosok cinta pertama Lala yang kompleks.

"Peran ini membuat saya memaksa diri sendiri untuk memberi lebih. Hal ini membuat saya semakin matang sebagai aktor. Apalagi, saya juga diberi kebebasan untuk menyumbangkan ide-ide dalam menginterpretasikan Yudhis," tutur Adipati.


Halaman:

Editor: Windy Eka Pramudya

Tags

Komentar

Terkini

X