Fakta-fakta tentang Kemoterapi

- 1 Agustus 2017, 05:02 WIB

SAAT mendengar kata kemoterapi, biasanya langsung terbayang serangkaian pengobatan untuk pasien kanker. Metode ini juga kadang dianggap metode yang menyakitkan dan menyeramkan. Benarkah demikian?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Pusat Kanker Santosa Hospital Bandung Kopo (SHBK) Dinny G Prihadi, ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin 24 Juli 2017 lalu, mengupas fakta-fakta mengenai kemoterapi berikut ini.

Identik dengan kanker

Kemoterapi adalah pengobatan yang menyertakan sitotestika (zat kimia) yang bertujuan untuk membunuh atau mengecilkan ukuran sel-sel tumor yang ganas.

Meski demikian, penanganan kanker tak mesti hanya dengan kemoterapi. Cara ini hanya salah satu modalitas untuk mengobati kanker. Di lain hal, tidak semua pasien kanker harus menjalaninya. Ada yang bisa ditangani dengan bedah lantas selesai atau dilanjutkan dengan radioterapi, kemoterapi, atau bahkan kemoradiasi.

Menurut Dinny, pemberlakuan modalitas ini bergantung pada stadium kanker dan performa kesehatan pasien. ”Ada pasien yang kuat dan sanggup untuk kemoterapi, ada yang tidak. Tapi pasien kanker bisa juga bergantung agen-agen biologis untuk pengobatannya,” katanya.

Ada beberapa kasus dan penyakit lain yang juga menerapkan penanganan kemoterapi, seperti penyakit lupus atau rematoid artritis. Dinny mengatakan, kadang-kadang pengidap lupus diberikan obat siklofosfamid yang dianggap sebagai bentuk kemoterapi.

Bisa dilakukan di rumah

Untuk menjalani kemoterapi ada panduan masing-masing sesuai jenis kankernya. Misalnya, untuk kanker saluran pencernaan, modalitas kemoterapi baru diterapkan ketika tumor menyebabkan obstruksi atau penyumbatan di saluran cerna. Untuk kanker payudara, cara ini dilakukan ketika sel tumor sudah menyumbat paru-paru.

Pada kasus kanker payudara, misalnya, tahapan pemberian terapi ini bisa dimulai dengan operasi pengangkatan jaringan sel kanker dan dilanjutkan dengan radioterapi. Jika dari hasil periksa ulang tak diketahui ada sebaran sel tumor yang ganas, pasien dikatakan sehat. Namun, jika masih diperkirakan ada sel tumor tersisa (belum bersih), bisa dilakukan kemoterapi.

Ada beberapa cara pemberian kemoterapi, melalui oral (dimakan), yakni melalui obat-obatan seperti pil, atau injeksi intratekal, intramuskular, intraperitonial, atau intravena (infus). Baiknya, pemberian obat kemoterapi dilakukan di rumah sakit. Namun, bila memungkinkan, misalnya kemoterapi dengan pil, bisa dilakukan di rumah. Sedangkan lama waktu kemoterapi kembali lagi bergantung pada stadiun kanker.

Halaman:

Editor: Eva Nuroniatul Fahas


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

Karawang Post

hhhh

27 Januari 2021, 23:59 WIB
X