10 Fakta Molnupiravir, Obat Antivirus yang Diuji Efektif bagi Pasien Covid-19

- 5 Oktober 2021, 18:07 WIB
Ilustrasi pil obat Covid-19.
Ilustrasi pil obat Covid-19. /Pixabay/Stavepb

PIKIRAN RAKYAT - Belum lama ini, Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat Merck & Co mengumumkan hasil penelitian pil oral antivirus mereka bernama molnupiravir (MK-4482, EIDD-2801).

Dikatakan bahwa obat antivirus tersebut bisa menurunkan sekitar separuh risiko kematian dan rawat inap akibat Covid-19, pada pasien dengan gejala ringan dan sedang.

Berikut ini sejumlah fakta terkait penggunaan obat molnupiravir bagi penderita Covid-19.

  1.       Dalam uji coba klinis fase ke-3 obat ini, telah melibatkan 775 orang pasien Covid-19 dengan gejala ringan dan sedang selama lima hari atau kurang. Bahkan, mereka ini mempunyai setidaknya satu faktor risiko atau komorbid seperti obesitas, diabetes mellitus, penyakit jantung dan juga usia tua lansia atau di atas 60 tahun.

Baca Juga: Cara Dapat Diskon Listrik Oktober 2021, Ada Harga Khusus untuk Tambah Daya

  1.       Hasilnya menunjukkan, sekitar 7 persen partisipan studi yang menerima obat ini kemudian dirawat di rumah sakit dan tidak ada satupun yang meninggal.
  2.       Sementara pada kelompok yang mendapat plasebo, sebanyak 14 persen dirawat di rumah sakit atau meninggal.

Terkait hal itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan, uji klinis pada pasien yang dirawat di rumah sakit sempat dihentikan, karena tidak menunjukkan hasil yang baik pada pasien yang sudah masuk rumah sakit.

“Waktu bulan April itu diputuskan penelitian diteruskan hanya pada mereka yang belum masuk rumah sakit, yang hasilnya baru diumumkan 1 Oktober ini,” kata dia yang pernah menjabat sebagai Direktur WHO Asia Tenggara dan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes itu.

Baca Juga: Cair Oktober 2021, Berikut Daftar dan Cara Cek Penerima Bansos Kemensos

  1.       Namun berbicara soal kemanjuran obat tersebut, Tjandra menuturkan, hasil penelitian pada 40 persen sampelnya menunjukkan efikasi molnupiravir konsisten pada berbagai varian Covid-19 yang ditemukan, yaitu Gamma, Delta, dan Mu.

Kemanjuran obat dikatakan 50 persen lebih rendah daripada antibodi monoklonal yang digunakan untuk mengobati orang berisiko tinggi terkena Covid-19 bergejala ringan atau sedang.

  1.       Penelitian menunjukkan, antibodi tersebut mengurangi rawat inap dan kematian hingga 85 persen di antara pasien tersebut, sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman Antara.
  2.       Tetapi para ahli, mengatakan pil antivirus baru kemungkinan besar akan berdampak lebih besar pada Covid-19 daripada antibodi yang rumit, karena pil dapat menjangkau lebih banyak orang.

Baca Juga: WHO Rekomendasikan Penggunaan Obat Tradisional, Guru Besar UI: Ada Risiko

  1.       Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya, melalui pedoman terbaru “WHO Therapeutics and Covid-19: living guideline” yang diterbitkan pada 24 September 2021 memberikan rekomendasi pada beberapa obat kombinasi antibodi monoklonal netralisasi yaitu casirivimab dan imdevimab, penghambat reseptor interleukin 6 (IL-6 receptor blockers) yaitu tocilizumab atau sarilumab dan kortikosteroid.
  2.       Dari sisi cara kerja, pil dirancang untuk memblokir virus agar tidak bereplikasi. Molnupiravir menipu virus corona agar menggunakan obat untuk mencoba mereplikasi materi genetik virus. Setelah proses itu berlangsung, obat akan memasukkan kesalahan ke dalam kode genetik.

“Jika Anda membuat cukup banyak kesalahan atau Anda membuat kesalahan di bagian yang benar-benar kritis, virus tidak dapat mereplikasi,” ujar wakil presiden penelitian vaksin dan penyakit menular di Merck, Daria Hazuda.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X