Istirahatlah Kata-Kata, Menyesapi Jalan Sunyi Wiji Thukul

- 21 Januari 2017, 02:43 WIB

NAMA Wiji Thukul, tenar disebut sebagai penyair "bandel". Kata-kata yang ia rangkai dalam puisi gubahannya seperti kanon yang menembak tepat di jantung penguasa. Puisi-puisi ini pula yang membuat Wiji menjadi satu dari sekian banyak aktivis yang diburu di penghujung dekade 90. Mendekati detik-detik reformasi, Wiji justru hilang tak tentu rimbanya. Hingga kini.

Sejumlah karya banyak digubah untuk menghormati dan mengenang sosok Wiji. Lagu, puisi, hingga film dokumenter bertebaran menceritakan lantangnya aktivis Partai Rakyat Demokratik ini berbicara. Namun, hal yang sedikit berbeda ditampilkan oleh Yosep Anggi Noen. Melalui film "Istirahatlah Kata-Kata" yang ia besut pada 2016 lalu, ia mengangkat sisi manusiawi Wiji yang selama ini terkesan luput di tengah kobaran semangat perlawanannya.

Jangan harap akan mendapatkan panas dan gejolak Indonesia jelang reformasi di rentang tahun 1996-1998. Pada film ini, tak ada satu adegan pun yang menggambarkan hal itu. Seperti kisruh 27 Juli 1996 di Jakarta yang menyebabkan Wiji jadi incaran aparat atau kegiatannya sebagai propagandis di PRD dan Jaker (Jaringan Kebudayaan Rakyat).

Di film ini, justru ketakutan dan kecemasan lah yang tampak menyelimuti Wiji (diperankan oleh Gunawan Maryanto). Anggi memang tak mengambil keseluruhan aktivitas Wiji selama masa pergerakan reformasi. Dia hanya mengambil secuil fase kehidupan Wiji yang bisa dibilang sebagai detik-detik yang menentukan. Fase dimana Wiji menjadi buron Orde Baru dan harus menyelamatkan diri ke Pontianak, Kalimantan Barat.

Dalam menyampaikan rasa cemas dan takut yang dirasakan Wiji, Anggi juga tak begitu saja menampilkannya secara eksplisit. Terkadang dia hanya menampilkan simbol atau gerakan yang menggambarkan perasaan tersebut. Misalnya, ketika Wiji bertemu dengan seorang tentara di tempat cukur, ekspresi ketakutan Wiji cukup disampaikan lewat diam dan kepala yang terus menunduk.

Di film ini, justru ketakutan dan kecemasan lah yang tampak menyelimuti Wiji

Sesekali memang ada ungkapan yang mewakili rasa takut Wiji, tapi itu pun lebih banyak disampaikan melalui puisi gubahannya. Bisa dibilang film ini minim dialog. Tetapi bukan berarti tak bisa menyampaikan emosi Wiji saat berada di masa-masa pelarian itu. Emosi Wiji justru tersampaikan dengan baik ke penonton melalui efek visual yang ditampilkan Anggi dalam filmya.

Alur cerita yang lambat dan adegan yang didominasi dengan latar gelap benar-benar menciptakan atmosfer sunyi dan kesendirian yang dirasakan Wiji selama menjadi buron. Kesunyian yang tidak hanya disebabkan oleh ketidakpastian diri, tetapi juga kerinduan pada anak istri yang terpaksa ditinggalkannya di kampung halaman.

Kecemasan dan ketakutan yang dibangun dalam film ini pun tak melulu milik Wiji. Masih ada Sipon (diperankan oleh Marissa Anita), istri Wiji yang juga tak kalah berat menanggung beban. Selain harus terus menghadapi "kunjungan" rutin aparat ke rumahnya, dia juga harus memberi pengertian kepada putrinya Fitri yang masih kecil dan mengurus si bungsu, Fajar.

Halaman:

Editor: Muhammad Irfan


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X