Wulan Guritno Kembali Berteater di Pusaran Cinta, yang Mengangkat Kisah Perjuangan Hidup Perempuan

- 26 Februari 2020, 16:44 WIB
POSTER teater musikal Pusaran Cinta.* /

PIKIRAN RAKYAT – Lembaga Teater Perempuan (LTP) M.A.S. Yogyakarta bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Angkatan’49 akan mempersembahkan Pementasan Teater Musikal bertajuk Pusaran Cinta.

Pementasan yang akan digelar pada 6 dan 7 Maret 2020 di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jakarta, ini berkisah tentang perjuangan hidup masyarakat pinggiran dan perjuangan hidup perempuan.

Baca Juga: Wujudkan Jabar Juara, Wagub Uu Ruzhanul Ulum Beri Pesan Ini Kepada Sarjana

Dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Pementasan Bulungan, Jakarta, Selasa, 25 Februari 2020, sutradara yang juga Guru Besar ISI Yogyakarta Prof. Dr. Yudiaryani, M.A, menyebut kalau pertunjukan teater musikal “Pusaran Cinta” menjadi wujud perjuangan dan ketangguhan sosok perempuan menuntut hak-hak azasinya untuk setara di wilayah publik yang selama ini masih didominasi oleh lelaki dalam struktur patriarki.

“Pusaran Cinta” sendiri merupakan tafsir baru yang diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar dari naskah aslinya yang berjudul “A Streetcar Named Desire” karya Tennessee Williams, penulis drama Amerika.

Baca Juga: Dampak Virus Corona COVID-19, Pemerintah Bebaskan Pajak Hotel hingga Diskon Penerbangan Domestik

“Naskah ini menunjukkan adanya pertentangan antara nilai tradisi dunia lama (Eropa) dengan nilai dunia baru(Amerika). Pertentangan pemikiran terjadi antara keanggunan melawan agresivitas dan materialisme,” kata perempuan yang akrab disapa Yudi ini.

Menurut Yudi, tema besar yang hendak ia tampilkan dalam lakon ini adalah perjuangan perempuan untuk mencari kehidupan yang benar bagi dirinya. Karena dalam pembangunan sebuah negara berkembang, tak jarang yang jadi korban adalah perempuan dan anak.

“Ini yang kemudian menciptakan kesenjangan kelas. Cerita ini pun akan tetap relevan meski naskah  “A Streetcar Named Desire” karya Tennessee Williams ditulis tahun 40-an dan sekarang tahun 2020,” ucap dia.

Baca Juga: Beredar Kabar Jefri Nichol Digugat Falcon Picture, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Beri Keterangan

Yudi menuturkan, fokus dari lakon yang akan ditampilkan nanti adalah satu fragmen dari keseluruhan naskah “A Streetcar Named Desire”.

Dalam “Pusaran Cinta” Yudi akui banyak konflik yang tak diangkat karena dinilai tidak begitu seusai dengan konteks Indonesia.

“Memang tidak semua masalahnya saya ambil. Banyak yang saya edit karena tidak sesuai konteks,” ucap dia.

Baca Juga: Pergerakan Tanah di Majalengka Rusak 14 Rumah dan Satu Musala Rusak

Adapun pesan yang hendak Yudi sampaikan lewat lakon ini adalah soal cinta. Menurut dia, masa kini sudah tidak lagi memahami arti kata “cinta”.

Cinta tidak hanya berbicara tentang cinta fisik laki-laki dan perempuan, tetapi juga bagaimana hilangnya cinta antarmanusia.

Adanya konflik di masyarakat yang tanpa henti menunjukkan hilangnya kasih sayang dan cinta damai saat ini. 

“Indonesia sebagai negara yang sedang membangun memiliki dampak psikologis dan sosiologis bagi kehidupan masyarakat. Sistem materialisme, kapitalisme, dan individualisme khas masyarakat metropolitan mengubah pula cara berpikir, bangunan mental dan sikap, serta nilai-nilai keyakinan keseharian masyarakat di Indonesia. Dampaknya, terjadi  ketegangan antara kaya dan miskin, terdidik dan tak terdidik, diskriminasi kerja antara laki-laki dan perempuan,” ucap dia.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X