Senin, 6 April 2020

Sultan Sepuh Ajak Publik Pelajari Naskah Kuno Waspadai Kolektor dan Pemburu Naskah Kuno

- 31 Januari 2020, 10:45 WIB
SULTAN Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menunjukkan salah satu naskah kuno koleksi Keraton Kasepuhan yang selamat dari serangan rayap dan jamur, Kamis, 30 Januari 2020.* /ANI NUNUNG/PR

PIKIRAN RAKYAT – Ratusan naskah kuno dari berbagai cabang keilmuan, koleksi Keraton Kasepuhan berhasil diselamatkan oleh tim preservasi Perpustakaan Nasional. Upaya penyelamatan dilakukan dengan konservasi dan dialihmediakan ke media digital.

Menurut Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, naskah kuno yang berhasil diselamatkan itu merupakan naskah koleksi Keraton Kasepuhan yang masih tersisa. 

Sementara koleksi naskah kuno lainnya yang tersimpan di sejumlah peti tidak berhasil diselamatkan, sebagian akibat serangan rayap dan sebagian lagi hancur dimakan usia.

Baca Juga: Ibu Rumah Tangga Gelapkan Uang Arisan Lebih dari Rp 100 Juta demi Gaya Hidup Konsumtif

"Upaya preservasi dan digitalisasi yang dilakukan Perpustakaan Nasional dilakukan selama tiga tahun pada 2013-2016 lalu," kata Sultan Arief Kamis, 30 Januari 2020.

Naskah ada yang ditulis dengan huruf Arab Pegon, ada juga huruf hanacaraka dengan bahasa Cirebon kuno, Jawa dan Arab. Sedangkan media yang dipakai kertas eropa, daluang dan lontar.

Penyelamatan naskah menjadi salah satu program prioritas begitu Sultan Arief yang pernah menjadi anggota DPD RI periode 2004-2009 jumeneng (bertahta) tahun 2010.

Baca Juga: Menghina TNI dan Prabowo Subianto di Facebook, Kurnadi Ditahan Polres Majalengka

"Ada beberapa peti naskah, yang diwariskan Sultan Sepuh XIII untuk diselamatkan. Namun sayangnya karena penyimpanan yang seadanya, lebih banyak naskah yang rusak dimakan rayap dan jamur," katanya.

Begitu mendapati kondisi naskah kuno yang sudah sangat memprihatinkan, Sultan Arief langsung bergerak cepat dengan menjalin kerja sama dengan Perpustakaan Nasional untuk membantu upaya preservasi dan digitalisasi.

Kandungan ilmu naskah kuno itu berbagai bidang keilmuan, dari mulai pelajaran agama Islam, ilmu tarekat, ilmu hakekat, tafsir Al-Quran, hadis, sejarah, ramalan, obat-obatan herbal, tentang kehidupan sampai sastra.

"Dan masih banyak lagi lainnya seperti pertanian, kecantikan dan kesehatan, bahkan primbon," kata Sultan Arief.

Baca Juga: Sebelum Dilarikan ke Rumah Sakit, Suti Karno Ternyata Sempat Rayakan Ulang Tahun Aminah 'Mak Nyak' Cendrakasih

Keraton Kasepuhan, katanya, setidaknya memiliki kurang lebih 146 naskah kuno, 300 dokumen kuno dan 200 buku Belanda kuno. Untuk naskah-naskah berbahasa Belanda yang ditulis sekitar tahun 1800 sampai 1900, lebih banyak mengenai ketentuan hukum, statblad dan kejadian-kejadian.

Upaya konservasi naskah kuno melibatkan  10 tenaga konservator dari Perpustakaan Nasional. Konservasi dilakukan untuk menghilangkan kuman-kuman dari naskah kuno dan mengawetkan naskah kuno serta dijilid ulang, untuk naskah yang jilidannya rusak.

Sedangkan digitalisasi adalah pemindahan media dari naskah kuno ke digital dan disimpan di server atau komputer, agar yang ingin membaca tidak lagi menyentuh yang aslinya.

Hasilnya, setidaknya sebanyak 146 naskah dari berbagai cabang keilmuan berhasil diselamatkan. Naskah kuno paling tua ditulis sekitar 700 tahun yang lalu.

Baca Juga: Liburan Keliling Dunia, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Bagi-bagi Uang Jutaan Rupiah untuk Karyawannya

Sementara 200 naskah yang ditulis oleh penulis Belanda, dengan huruf latin dan berbahasa Belanda masih belum terdigitalisasi.

Ratusan naskah kuno koleksi saat ini, adalah koleksi naskah yang tersisa baik akibat kerusakan alamiah, maupun dari aksi perampasan oleh penjajah dulu, serta upaya penyelundupan naskah keluar dari keraton yang sebenarnya merupakan upaya menyelamatkan naskah dari aksi perampasan naskah oleh penjajah, serta penjualan naskah secara ilegal yang diakui Arief, dulu pernah terjadi sebelum dia jumeneng.

"Zaman penjajahan dulu, salah satu upaya menyelamatkan naskah-naskah kuno dari upaya perampasan para penjajah, pihak keraton melalui kerabat atau keluarga dan abdi dalem berupaya menyelundupkan naskah-naskah kuno keluar dari keraton satu persatu. Namun rupanya begitu Indonesia merdeka, naskah-naskah yang keluar tidak banyak yang kembali lagi," katanya.

Naskah-naskah yang banyak beredar di luar keraton diduga kuat sudah beralih kepemilikan di tangan kolektor maupun pemburu naskah kuno.

Sultan Arief mengaku tidak tahu pasti nilai pembelian yang ditawarkan pemburu naskah kuno dari negara asing, termasuk Malaysia dan Singapura. 

Namun dari info-info selentingan yang didapatnya, niliainya cukup fantastis. "Memang infonya harga yang ditawarkan tergantung isi naskah dan usianya, namun cukup menggiurkan," katanya.

Arief mengungkapkan, agresifnya pemburu maupun kolektor naskah kuno baik dari luar negeri maupun dalam negeri, menunjukkan akan kualitas 

naskah kuno asal Indonesia, bukan hanya dari segi aksara, bahasa, dan bahan naskah tetapi terutama kandungan informasi atau ilmu di dalamnya.

"Makanya kami sangat concern dalam upaya pelestarian naskah kuno sejarah, salah satunya adalah untuk mengingatkan saya pribadi kerabat keraton dan masyarakat terutama generasi muda akan pentingnya mempelajari isi dan ilmu yang terkandung dalam naskah kuno yang sedemikian luar biasa," katanya.

Arief mengingatkan jangan sampai warga Indonesia belajar naskah asli Indonesia malah di luar negeri.***


Editor: Gita Pratiwi

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X
x