Monolog Godi Suwarna, dari Grand Prix hingga Nasib Kesenian Tasikmalaya

- 15 Desember 2019, 19:56 WIB
SENIMAN Godi Suwarna menyampaikan pidato kebudayaan bertabur sajak dalam kegiatan Anugerah Budaya Kota Tasikmalaya, Sabtu 14 Desember 2019.* /BAMBANG ARIFIANTO/PR

"Sutradaranya Kang Wahyu Wibisana," ucap Godi.

Galunggung Ngadeg Tumegung juga memunculkan sosok-sosok seniman yang kemudian kakoncara atau terkenal di Jabar.

Terkenalnya pagelaran tersebut, lanjut Godi, membuat Presiden Sukarno sempat mengundang para senimannya pentas di Istana Negara.

Kepada Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman, Godi berharap Wahyu Wibisana sebagai seniman legendari Tatar Sukapura bisa dijadikan nama salah satu ruas jalan di Kota Tasikmalaya.

Baca Juga: Guna Meningkatkan Perekonomian di Tasikmalaya, Geopark Galunggung Siap ditetapkan Oktober 2020

Seniman lulusan IKIP Bandung pada 1979 tersebut juga punya pesan kepada para pegiat seni Kota Tasikmalaya.

loading...

"Ayeuna bagian urang-urang barudak, dulur kuring, kumaha carana ngadamel gawe bareng (sekarang menjadi tugas kita untuk melakukan kerja-kerja kesenian bersama)," ujarnya.

Menurut Godi, komunikasi seniman dan pemerintah perlu berkomunikasi dalam membuat kerja-kerja kesenian bersama.

Kuncinya, seniman dan pemerintah mesti saling memahami bahasa dan karakter masing-masing. Seniman, kata Godi, mesti memahami bahasa birokrasi dan tak selalu menonjolkan karakter urakan dan kekerasan bahasanya saat berkomunikasi dengan pemerintah.

Sementara pemerintah juga mesti menyentuh hati para seniman dengan menunjukkan perhatiannya serta mengunjungi sanggar-sanggar kesenian.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X