Monolog Godi Suwarna, dari Grand Prix hingga Nasib Kesenian Tasikmalaya

- 15 Desember 2019, 19:56 WIB
SENIMAN Godi Suwarna menyampaikan pidato kebudayaan bertabur sajak dalam kegiatan Anugerah Budaya Kota Tasikmalaya, Sabtu 14 Desember 2019.* /BAMBANG ARIFIANTO/PR

Godi memadukan pembacaan sajak sekaligus aksi teatrikal yang diselingi banyolan malam itu.

Sedianya Godi menyampaikan pidato kebudayaan dalam Anugerah Budaya Kota Tasikmalaya 2019 di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya, Kompleks Olaharaga Dadaha, Sabtu 14 Desember 2019 malam.

Baca Juga: Pelestari Seni Buhun Sunda Diganjar Anugerah Budaya Kota Tasikmalaya 2019

Akan tetapi, seniman eksentrik itu membalur pidatonya dengan puisi-puisinya.

Seperti di momen awal pidatonya, Godi membaca Grand Prix yang masuk dalam buku kumpulan sajaknya, Blues Kere Lauk.

"Tos ti kapungkur kesenian Tasikmalaya tos majeung luar biasa ti tahun 60-an (sejak dari dulu kesenian Tasikmalaya sudah maju luar biasa dari tahun 1960-an)," ucap Godi dalam pidatonya.

Ia masih inget betul Tasikmalaya sempat punya gelaran kesenian besar yang sangat terkenal di masa kecilnya.

Baca Juga: Capai Ketinggian Hampir Satu Meter, Tasikmalaya Direndam Banjir

"Saat saya kecil ada gelaran luar biasa bernama Galunggung Ngadeg Tumegung," tuturnya.

Pertujukan besar yang melibatkan seniman-seniman Tasikmalaya tersebut digelar di Karangresik. Bekas panggung, tutur Godi, masih ada dari sejak ia SMP hingga SMA masih ada saking megahnya pertunjukan kesenian luar gedung itu.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X