Rabu, 26 Februari 2020

Putrayasa, Pematung Badung yang Kritik Penguasa Lewat Pistol dan Kondom

- 10 Desember 2019, 13:57 WIB
PENGUNJUNG pameran tengah asyik melihat sambil memperagakan aksi memegang pistol di depan seni instalasi karya Ketut Putrayasa.* /NI LUH RHISMA/ANTARA

GIANYAR, (PR).- Ketut Putrayasa, pematung asal Desa Tibubeneng, Kabupaten Badung mengkritik berbagai persoalan kekuasaan dalam seni instalasinya yang menghadirkan helm, pistol, dan alat kontrasepsi alias kondom dalam ajang pameran bertajuk "Suistainability Spirit of Art in Bali" dari 30 November hingga 11 Desember 2019 di Bentara Budaya Bali.

Ikon helm yang di atasnya terdapat sebuah pistol dan dibungkus kondom atau alat kontrasepsi, tentu memiliki makna. Putrayasa mengemukakan, karya ini dibuat terkait konstelasi politik yang karut marut di Indonesia. 

"Saya hadirkan ikonik, helm yang identik dengan kekuasaan, sedangkan ada pistol mencerminkan sebuah makna di dalam menjalankan regulasi seharusnya dijalankan dengan lurus, tegas dan bertanggung jawab," kata Putrayasa, di Bentara Budaya Bali, Gianyar, Selasa, 10 Desember 2019.

"Sedangkan kondom cerminan atau representasi dari protektor dan permainan, yakni kekuasaan dalam membuat regulasi, tetapi regulasi itu hanya berlaku di kalangan bawah dan hanya melindungi para kaum elit," lanjut dia dilansir Antara.

Baca Juga: Nyimas Melati, Singa Betina dari Tangerang Itu Hadir dalam Bentuk Tarian

Karya seni instalasi yang diberinya judul "Untouchable" (tak tersentuh) itu hadir dalam pameran bersama puluhan Perupa Mangupura di Bentara Budaya Bali

"Melalui karya ini, saya ingin mengajak audiens untuk bernalar dalam membaca sebuah persoalan kekuasaan dalam warna oligarki yang bermanifestasi menjadi sebuah rezim dalam setiap zamannya. Pertanyaannya siapakah penguasa itu? Apakah mereka yang membuat kebijakan atau mereka yang melegalkan setiap persoalan?" ucapnya mempertanyakan.

Menurut dia, saat ini yang namanya regulasi cenderung hanya menyasar kalangan bawah, sedangkan para elit justru tak tersentuh. Seperti kasus belakangan yang lagi hangat menimpa Badan Usaha Milik Negara, yang sejatinya para elit yang membuat aturan, justru dia sendiri yang melanggar.

Baca Juga: Cerita Oyon dan Pentas Boneka Berjoget di Jalanan Tasikmalaya

Halaman:

Editor: Gugum Rachmat Gumilar

Sumber: Antara

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X