Harga Cabe di Majalengka Anjlok, Hanya Rp 10.000 per Kilogram di Tingkat Petani

- 2 Juni 2020, 14:44 WIB
CABE merah siap panen di sebuah perkebunan cabe di Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.* /TATI PURNAWATI/”KC”

PIKIRAN RAKYAT - Para petani cabe merah di Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka mengeluhkan harga cabe merah yang terus merosot hingga Rp 10.000 per kg, harga sebesar itu tidak sebanding lagi dengan biaya yang sudah dikeluarkan para petani.

Kini di wilayah tersebut  banyak tanaman cabe yang sudah merah dan siap panen namun lambat dipetik, alasannya menunggu harga kembali naik walaupun tidak jelas kapan harga bisa sesuai harapan mereka.

Untuk menghindari kerugian, sebagian petani berupaya memanen cabenya dan menjualnya sendiri langsung ke konsumen keliling desa menggunakan kendaraan bak terbuka, ada pula yang menitipkannya di pedagang keliling.

Baca Juga: Nurhadi Ditangkap, yang Membantunya dalam Pelarian Bisa Turut Dijerat Hukum

“Sekarang lagi musim panen cabe, baik cabe keriting, cabe merah biasa juga cabe tanjung. Tapi harganya semua murah hanya Rp 10.000 per kg,” Kata Esih yang biasa berjualan sayuran keliling desa di wilayah Cirebon.

Esih mengaku menerima barang titipan dari sejumlah petani sayuran, tidak hanya cabe tapi juga aneka sayuran lainnya, seperti kol, labu siam, buncis hingga singkong. Karena dengan cara penjualan seperti itu harga jual bisa lebih tinggi.

Baca Juga: Suami Istri dan 3 Anaknya Menderita Covid-19, si Bungsu Usia Balita Negatif Terpapar

Siti dan Een petani sayuran mengaku menitipkan cabenya setiap seminggu sekali sebanyak dua karung atau sekitar 50 kg.  Menurutnya, penjualan begitu bisa lebih menjamin laku dan bisa dibayar kontan.

Di wilayahnya terdapat puluhan hektare tanaman cabe yang sudah mulai dipanen, beberapa hektare cabe lambat dipanen dan seolah dibiarkan pemiliknya. Karena ongkos panen kini nyaris sama dengan penjualan hasil panen.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Pusdik JP3IW BPSDM Tetap Tingkatkan Kompetensi ASN

“Sekarang upah kerja sudah mahal Rp 50.000 hingga Rp 60.000 setengah hari. Kalau seorang dapat 7 kg hanya selisih Rp 20.000 saja, belum karung. Makanya, sementara ini jarang yang mempekerjakan lebih memilih dipetik sendiri,” kata Siti.

Anjloknya harga sayuran juga terjadi pada komoditas sayuran lainnya, bawang daun harganya kini hanya Rp 8.000 per kg, pecay Rp 3.000 per kg, buncis Rp 6.000 per kg, kentang Rp 10.000 kualitas super, wotrel juga demikian. Sosin malah harganya hanya Rp 2.500 per kg.

Baca Juga: Saat Ramadan dan Lebaran 2020 Inflasi Malah Rendah, Suhariyanto : Hanya Sebesar 0,07 Persen

Di wilayah Kecamatan Argapura ada ratusan hektare tanaman cabe setiap tahunnya dan kerap kali harga tidak berpihak pada petani. Di wilayah tersebut hampir semua  petani holtikultura dan jarang yang bertani padi, karena wilayah pegunungan serta kultur tanah. 

Untuk itu, menurut para petani, jika mungkin ada cara yang bisa mengawetkan sayuran atau bisa bekerja sama dengan industri pengolahan cabe  atau sayuran lainnya. Agar ketika harga jatuh seperti saat ini petani tidak terlalu merugi. ***

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

Warna Media Bali

Mobil Dinas RI-2 Mogok

13 Juli 2020, 17:35 WIB
X