OJK : Per April 2020, Kredit Perbankan Hanya Tumbuh 5,73 Persen

- 29 Mei 2020, 14:14 WIB
ILUSTRASI uang, perbankan, koin.* /PIXABAY

PIKIRAN RAKYAT - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan hanya tumbuh 5,73% pada April 2020. Sementara profil risiko lembaga jasa keuangan masih terjaga pada level yang terkendali dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 2,89%.

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik, OJK, Anto Prabowo, mengatakan, pihaknya memperhatikan dampak pandemi Covid-19 yang relatif mulai memberikan tekanan terhadap sektor jasa keuangan. "Meskipun dari berbagai indikator dan profil risiko, kondisi stabilitas sistem keuangan sampai saat ini tetap terjaga dengan kinerja intermediasi yang positif," ujar dia,  Jumat 29 Mei 2020.

Berdasarkan catatan OJK, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan April 2020 tumbuh sejalan dengan perlambatan ekonomi. Kredit perbankan tumbuh sebesar 5,73% yoy, sementara piutang pembiayaan perusahaan tercatat tumbuh sebesar 0,8% yoy. Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 8,08% yoy.

Baca Juga: Kemendikbud Tegaskan Tahun Ajaran Baru Tidak Mundur ke Januari 2021

Anto mengatakan, profil risiko lembaga jasa keuangan pada April 2020 masih terjaga pada level yang terkendali dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 2,89% dan Rasio NPF sebesar 3,25%. Risiko nilai tukar perbankan dapat dijaga pada level yang rendah terlihat dari rasio Posisi Devisa Netto (PDN) sebesar 1,62%, jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20%. 

"Likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang memadai," tutur Anto.

Sementara pada sektor asuransi  berhasil menghimpun tambahan premi sebesar Rp 15,7 triliun pada April 2020. "Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 651% dan 309%, jauh diatas ambang batas ketentuan sebesar 120%," ujarnya.

Baca Juga: 2 Tenaga Medis Ditembak Kelompok Bersenjata, Kapolda Papua: Itu Sangat Biadab

Di Pasar Modal, penghimpunan dana hingga 26 Mei 2020 tercatat mencapai Rp 32,6 triliun dengan 22 emiten baru. Di dalam pipeline telah terdapat 67 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp 31,6 triliun. 

Sebelumnya, menurut Anto, proyeksi IMF dan rilis data PDB triwulan I-2020 menyebutkan, bahwa mayoritas negara akan mengalami kontraksi pada triwulan selanjutnya akibat kebijakan lockdown yang telah diterapkan. Selain itu, rilis data high frequency terkini semakin meningkatkan keyakinan bahwa AS dan Eropa akan mengalami resesi pada triwulan II-2020. 

Kendati demikian, kebijakan beberapa negara maju yang melonggarkan lockdown memberi sentimen positif dan mendorong penguatan pasar saham dan obligasi global pada Mei 2020. 

Baca Juga: Wisatawan di Bali Diimbau Biasakan Transaksi Nontunai Saat New Normal

Meredanya volatilitas di pasar keuangan global berdampak pula pada pasar keuangan domestik, yang bergerak relatif stabil di tengah masih tingginya penyebaran Covid-19 di Indonesia serta rilis data perekonomian domestik yang kurang positif.  Sampai dengan 20 Mei 2020, pasar saham ditutup di level 4.546 atau sedikit melemah sebesar -3,6% mtd, sedangkan pasar SBN relatif stabil dengan yield rata-rata menguat sebesar 11,9 bps mtd. 

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X