Selasa, 2 Juni 2020

Pembatasan Aktivitas di Luar Rumah, Penjualan Produk Mamin Melalui Daring Meningkat 143 Persen

- 17 Mei 2020, 16:15 WIB
ILUSTRASI produk makanan / pixabay /

PIKIRAN RAKYAT - Permintaan produk makanan dan minuman (mamin) melalui perdagangan daring meningkat 143 % selama pandemi Covid-19 berlangsung. Kementerian Perindustrian memastikan, jika kebutuhan makanan dan minuman mencukupi untuk menghadapi lebaran.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan, penjualan  produk makanan dan minuman secara daring mengalami peningkatan sejak Februari. 

“Peningkatan penjualan produk makanan dan minuman secara online menunjukan terjadinya pergeseran belanja dari yang semula pembelian langsung di toko ataupun pasar tradisional menjadi berbasis digital, yang disebabkan adanya pembatasan aktivitas di luar rumah,” kata Rochim melalui keterangan tertulis, Sabtu 16 Mei 2020.

Baca Juga: Pilih Belanja untuk Lebaran, Kesadaran Masyarakat Cianjur untuk Rapid Test Masih Rendah

Rochim mengatakan, dampak dari pandemi Covid-19, membuat konsumen cenderung mengubah perilakunya menjadi mode bertahan hidup dan lebih konservatif. Konsumen menjadi lebih berhati-hati dan lebih ingin berada di dalam rumah daripada keluar untuk melakukan konsumsi. 

“Dalam studi yang dirilis Nielsen, sejak diberlakukannya imbauan tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19, sekitar 30% konsumen merencanakan untuk lebih sering berbelanja secara online,” tuturnya.

Selanjutnya, dari sisi konsumsi, sebanyak 49% konsumen menjadi lebih sering memasak di rumah. Hal ini mendorong kenaikan pertumbuhan penjualan bahan pokok, seperti telur yang naik 26%, daging yang mengalami kenaikan penjualan 19%, permintaan daging unggas naik 25%, serta penjualan buah dan sayur yang meningkat 8%. 

Baca Juga: Banprov untuk 3 Proyek Dibatalkan, Hanya Alun-alun yang Dilanjutkan

“Barang-barang inilah yang sering dibeli oleh masyarakat di pasar tradisional, namun seiring dengan pemberlakuan pembatasan sosial, maka saat ini masyarakat lebih cenderung berbelanja di pasar modern. Penurunan pengunjung di pasar tradisional disiasati oleh pedagang pasar tradisional dengan menawarkan produknya melalui media sosial dan bekerja sama dengan e-commerce,” kata dia.

Permintaan produk makanan dan minuman diperkirakan tetap tinggi menjelang lebaran. Oleh sebab itu, Kementerian Perindustrian berupaya memastikan kesiapan sektor industri tersebut, sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya menjelang Idul Fitri tahun ini.

“Sektor industri makanan dan minuman sudah memiliki kesiapan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Untuk itu, kami akan terus melakukan koordinasi dengan pelaku industri di sektor ini,” tuturnya.

Baca Juga: PKL Bertebaran di Cimahi, Tak Peduli PSBB dan Pandemi Covid-19

Rochim mengatakan, pihaknya terus mendorong pengembangan sektor industri makanan dan minuman agar tetap produktif, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Apalagi, selama ini industri makanan dan minuman mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.

Kemenperin mencatat, pertumbuhan industri makanan dan minuman pada tahun 2019 mencapai 7,78%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri nonmigas yang berada di angka 4,34% maupun pertumbuhan industri nasional sebesar 5,02%. 

Baca Juga: Usai Bantu 23.000 Santri, Ganjar Pranowo Langsung Memenuhi Janjinya

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X